Ekonomi Kaltara Tumbuh 4,61 Persen: Investasi dan Daya Beli Jadi Penopang di Tengah Lesunya Tambang

Aktivitas pertambangan batu bara di Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara. Sektor ini masih mendominasi struktur ekonomi daerah, namun perlambatan produksinya pada triwulan III-2025 menjadi sinyal penting bagi arah diversifikasi ekonomi ke sektor-sektor non-ekstraktif.
Aktivitas pertambangan batu bara di Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara. Sektor ini masih mendominasi struktur ekonomi daerah, namun perlambatan produksinya pada triwulan III-2025 menjadi sinyal penting bagi arah diversifikasi ekonomi ke sektor-sektor non-ekstraktif. (Foto ilustrasi/Dok. Ag)

TERASKALTARA.ID, TANJUNG SELOR – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kalimantan Utara mencatat pertumbuhan ekonomi daerah sebesar 4,61 persen (year-on-year) pada triwulan III tahun 2025.

Angka ini menunjukkan perekonomian Kaltara tetap solid meski dihadapkan pada perlambatan sektor pertambangan yang selama ini menjadi penopang utama.

Dalam rilis resminya, Kepala BPS Provinsi Kalimantan Utara, Mas’ud Rifai, SST., M.M., menjelaskan bahwa secara struktur, pertumbuhan ekonomi Kaltara masih ditopang oleh lima sektor utama, yakni pertambangan dan penggalian (25,84 persen), pertanian (15,56 persen), konstruksi (14,04 persen), perdagangan besar dan eceran (13,84 persen), serta industri pengolahan (8,63 persen).

“Kaltara mencatat pertumbuhan ekonomi 4,61 persen dibanding periode yang sama tahun lalu. Pertumbuhan tertinggi tercatat pada sektor konstruksi sebesar 13,96 persen, disusul industri pengolahan 10,80 persen, serta perdagangan 9,23 persen,” ungkap Mas’ud dalam press rilis resmi BPS Kaltara di Tanjung Selor, Rabu (5/11/2025).

Lalu, berdasarkan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku, nilai ekonomi Kaltara mencapai Rp39,02 triliun, sedangkan atas dasar harga konstan 2010 sebesar Rp19,26 triliun.

Di tengah penurunan aktivitas tambang yang terkontraksi 2,86 persen, dan administrasi pemerintahan yang turun 3,74 persen, geliat investasi dan konsumsi justru memperkuat pertumbuhan ekonomi di daerah perbatasan tersebut.

BPS mencatat, pengeluaran konsumsi rumah tangga tumbuh 5,63 persen, menjadi indikator kuatnya daya beli masyarakat. Sementara itu, pembentukan modal tetap bruto (PMTB) atau investasi fisik seperti infrastruktur dan bangunan naik 6,65 persen, menandakan aktivitas investasi swasta dan pemerintah terus bergulir.

“Dari sisi pengeluaran, pertumbuhan paling tinggi datang dari PMTB. Artinya, investasi fisik tetap menjadi motor utama di Kaltara, diikuti konsumsi rumah tangga yang stabil,” lanjut Mas’ud.

Kaltara berkontribusi 8,16 persen terhadap perekonomian Pulau Kalimantan, dengan pertumbuhan sedikit di bawah Kalimantan Tengah yang mencatat 5,36 persen. Namun, kinerja positif ini tetap menunjukkan pemulihan ekonomi yang konsisten, terutama di sektor-sektor non-ekstraktif.

Penguatan sektor konstruksi dan perdagangan juga mencerminkan efek nyata dari proyek infrastruktur, peningkatan mobilitas masyarakat, dan geliat ekonomi lokal yang mulai meluas hingga ke daerah perbatasan seperti Nunukan dan Malinau.

Sementara itu, sektor pertanian yang menyumbang 15,56 persen terhadap PDRB, tumbuh stabil dan menjadi penyerap tenaga kerja penting di pedesaan. BPS menilai, sektor ini menjadi penyangga utama daya beli masyarakat di tengah fluktuasi harga komoditas global.

“Meski pertambangan melambat, ekonomi Kaltara menunjukkan arah pemulihan struktural. Sektor konstruksi, industri pengolahan, dan perdagangan tumbuh signifikan menandakan ekonomi kita mulai lebih berimbang,” ujar Mas’ud.

Dengan capaian tersebut, Pemerintah Provinsi Kaltara diharapkan dapat terus memperkuat diversifikasi ekonomi, mempercepat pembangunan infrastruktur dasar, serta menjaga momentum pertumbuhan melalui investasi hijau dan hilirisasi industri.

Kaltara kini tidak lagi hanya mengandalkan sumber daya alam mentah, tetapi mulai membangun fondasi ekonomi baru berbasis produktivitas dan keberlanjutan.(Tk12).

Pos terkait