Gerakan Nasional “Indonesia Asri” dan Tren Wisata Dunia

Ilustrasi - Beberapa pengunjung berekreasi di kawasan tempat wisata Bukit Moko, Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung (ANTARA/Ilham Nugraha)

TERASKALTARA.ID, JAKARTA, 17/2 (ANTARA) – Pariwisata Indonesia berada di persimpangan penting ketika dunia memasuki tahun 2026. Laporan terbaru Kementerian Pariwisata menyoroti tren global yang akan mengubah cara wisata dikemas dan dinikmati. Momentum ini membuka peluang besar bagi objek wisata lokal untuk bangkit lebih kuat.

Dengan target 17,6 juta kunjungan wisatawan mancanegara serta isu global green and quality tourism, Indonesia terus berbenah. Jalur penerbangan baru dibuka, pelayanan ditingkatkan, dan sumber daya manusia pariwisata dipersiapkan agar kunjungan wisata tidak hanya terpusat pada lima tujuan wisata super prioritas, yaitu Borobudur, Labuan Bajo, Danau Toba, Likupang, dan Mandalika. Fokus berlebihan pada lima tujuan wisata tersebut berisiko menimbulkan kejenuhan, padahal Indonesia memiliki potensi jauh lebih kaya dan beragam.

Momentum ini menuntut strategi masif dan berkelanjutan untuk mengubah citra pariwisata Indonesia dari pariwisata massal menjadi pariwisata berkualitas berbasis pengalaman mendalam. Wisatawan kini mencari interaksi autentik, aksesibilitas yang baik, serta pengalaman berkesan yang membuat mereka tinggal lebih lama di suatu daerah.

Salah satu langkah penting adalah mewujudkan Gerakan Nasional “Indonesia Asri”, sebagaimana disampaikan Presiden Prabowo Subianto dalam Rakornas bersama kepala daerah dan Forkopimda. Gerakan ini sejalan dengan tren wisata dunia yang menekankan keamanan, kenyamanan, kesehatan, kebersihan lingkungan, udara segar, dan keindahan alam.

Kini, ada lima tren wisata dunia pada 2026. Pertama, cultural immersion and experience-based tourism atau wisata berbasis pengalaman dan keterlibatan budaya. Di sini, wisatawan ingin mencari pengalaman mendalam soal budaya lokal, seni tradisi, kuliner, dan cerita masyarakat. Mereka ingin berbaur, tinggal di pedesaan, dan merasakan kehidupan sehari-hari yang autentik. Untuk itu dibutuhkan suasana yang aman, sehat, bersih serta alam yang indah dan asri.

Kedua, eco-friendly and sustainable tourism atau wisata ramah lingkungan dan berkelanjutan. Kesadaran terhadap lingkungan, wisata ramah alam, konservasi, edukasi dan pariwisata hijau menjadi pilihan utama.

Wisatawan akan mencari objek wisata yang natural, belum tercemar, dan mereka akan menjadi bagian dari pihak yang menjaga kelestarian kawasan tersebut.

Ketiga, nature and adventure-based tourism, yakni wisata alam berbasis petualangan. Aktivitas petualangan, seperti mendaki, surfing, diving, rafting, hingga parasailing menjadi daya tarik utama, terutama bagi generasi muda. Faktor keamanan menjadi syarat mutlak.

Empat, culinary and wellness tourism, yakni wisata kuliner dan kesehatan. Wisata kuliner, spa, wellness retreats, dan gaya hidup sehat semakin populer. Wisatawan mencari imbal balik kesehatan fisik, mental, bahkan spiritual.

Lima, hidden gems and secondary home, atau tujuan wisata tersembunyi dan rumah kedua. Wisatawan mulai menghindari objek wisata padat dan memilih lokasi alternatif yang lebih tenang, autentik, dan asri.

Indonesia memiliki modal besar untuk menjawab tren ini dengan 17 ribu lebih pulau, gunung, danau, sungai, lembah, laut, tebing, goa, yang merupakan kekayaan alam tak ternilai. Ditambah lagi kekayaan budaya dari Sabang sampai Merauke membuat Indonesia punya daya saing tinggi dibandingkan negara lain.

Hanya saja, tantangan utama adalah menciptakan rasa aman, menjaga kebersihan, serta menata estetika alam agar tidak rusak oleh pembangunan yang abai terhadap lingkungan.

Strategi konkret

Ada beberapa strategi agar Indonesia bisa maksimal mempersiapkan diri menyambut tren wisata dunia dengan Gerakan Indonesia Asri.

Pertama, mengembangkan pariwisata berbasis pengalaman dan edukasi. Fokus pada budaya, sejarah, kuliner, dan kesehatan. Penting untuk melibatkan masyarakat lokal dalam pengelolaan wisata, produksi kerajinan, sanggar seni, kuliner, homestay, guide kompeten, dan sarana pendukung lainnya supaya ekonomi masyarakat lokal tumbuh merata.

Kedua, menerapkan wisata ramah lingkungan. Konservasi alam, pengelolaan sampah, pertanian organik, dan edukasi lingkungan harus menjadi bagian dari pengelolaan objek wisata.

Ketiga, regulasi dan standarisasi usaha wisata dengan menerapkan standar “aman, sehat, bersih, indah”, dengan sanksi tegas bagi pelanggar, termasuk yang merusak nilai adat dan tradisi.

Keempat, meningkatkan kapasitas SDM pariwisata. Pelatihan dan sertifikasi kompetensi wajib bagi pelaku wisata agar pelayanan sesuai standar internasional.

Kelima, pariwisata berbasis mitigasi bencana dan ketahanan pangan. Rasa aman adalah syarat utama. Daerah wisata harus siap menghadapi risiko bencana dan memastikan ketersediaan pangan lokal.

Indonesia berada di era penuh potensi. Stabilitas geopolitik, kekayaan alam, dan budaya menjadi modal besar untuk menjadikan Indonesia sebagai tujuan wisata unggulan dunia. Tren wisata global membuka banyak peluang dari wisata alam, budaya.

Dengan modal budaya, alam, dan semangat kolaborasi terintegrasi, kita bisa menjadikan Indonesia sebagai tujuan wisata unggulan dunia. Tugas kita adalah menjaga keberlanjutan, menciptakan rasa aman, menata estetika daerah, serta menyiapkan komunitas lokal yang sadar wisata dan kompeten.

Masa depan pariwisata, bukan lagi sekadar mengunjungi objek, melainkan merasakan peradaban suatu daerah yang lestari. Dalam konteks ini, Gerakan Nasional “Indonesia Asri” menjadi solusi strategis untuk menjawab tren wisata global, sekaligus memperkuat daya saing Indonesia di panggung dunia.

*) Zuhrizul Chaniago adalah Ketua Tim Pengembangan dan Pemberdayaan Desa Wisata Sumbar (TP2 Dewi Sumbar), anggota Forum East Asia Latin Amerika For Sustainable Tourism Ethic (Fealac) dan Asosiasi Experiential Learning Indonesia

(T.S022//M026/M026) 17-02-2026 13:48:01 – Bisnis – Jakarta

Oleh Zuhrizul Chaniago *)
Editor : Masuki M Astro

Pos terkait