TERASKALTARA.ID, TARAKAN — Gejolak harga emas dunia dan cuaca yang kurang bersahabat sempat memberi tekanan pada harga sejumlah komoditas di Kalimantan Utara (Kaltara) pada awal tahun. Namun, inflasi Januari 2026 tetap terkendali dan berada pada level rendah.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Utara, Hasiando Ginsar Manik menegaskan, inflasi Kaltara pada Januari 2026 tercatat sebesar 0,10 persen (month to month/mtm), jauh lebih rendah dibandingkan Desember 2025 yang mencapai 0,52 persen (mtm).
“Secara umum, inflasi Kalimantan Utara pada Januari 2026 tetap terjaga. Tekanan terutama bersumber dari kenaikan harga emas perhiasan, seiring ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga oleh Federal Reserve serta meningkatnya ketegangan geopolitik global,” ujar Hasiando.
Secara spasial, dari tiga wilayah sampel Indeks Harga Konsumen (IHK) di Kaltara, hanya Kabupaten Nunukan yang mengalami inflasi sebesar 0,81 persen (mtm). Sementara itu, dua daerah lainnya justru mencatat deflasi, yakni Kota Tarakan sebesar -0,15 persen (mtm) dan Tanjung Selor sebesar -0,43 persen (mtm).
Secara tahunan (year on year/yoy), inflasi gabungan tiga kota IHK di Kaltara tercatat 4,08 persen.
Hasiando menjelaskan, kenaikan harga emas perhiasan menjadi faktor dominan pembentuk inflasi Januari. Kenaikan ini dipicu sentimen global, terutama ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat serta dinamika geopolitik.
Selain emas, harga ikan layang juga meningkat akibat faktor cuaca yang menghambat aktivitas nelayan.
“Cuaca yang kurang bersahabat menyebabkan hasil tangkapan ikan layang menurun sehingga berdampak pada kenaikan harga di tingkat konsumen,” jelasnya.
Tarif angkutan laut turut mengalami kenaikan karena kembali normal setelah sebelumnya mendapat potongan harga pada momentum Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Natal dan Tahun Baru (Nataru).
Di sisi lain, sejumlah komoditas justru menahan laju inflasi. Harga angkutan udara tercatat turun seiring meredanya mobilitas masyarakat pasca puncak libur akhir tahun.
“Permintaan tiket pesawat belum kembali setinggi periode akhir Desember 2025, sehingga harga relatif turun,” ungkap Hasiando.
Harga ikan bandeng juga menurun karena pasokan melimpah dari panen petambak, sementara permintaan masyarakat mulai normal. Selain itu, harga cabai rawit terkoreksi setelah sebelumnya melonjak saat periode Nataru.
Menghadapi potensi peningkatan permintaan menjelang Ramadan, Bank Indonesia bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) akan terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah daerah dan pemangku kepentingan.
“Ke depan, kami akan terus bersinergi untuk memastikan pasokan terjaga dan ekspektasi inflasi tetap terkendali,” tegasnya.(*)




