TERASKALTARA.ID,JAKARTA. 20/2 (ANTARA) – Podium “Board of Peace” (BoP) di Washington DC menjadi saksi sejarah diplomasi Indonesia di mata dunia. Presiden Amerika Serikat Donald Trump memberi panggung istimewa bagi Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto, sekaligus pengakuan kedaulatan di mata internasional.
Dengan gaya khas Trump melontarkan pujian, menyebut Prabowo sebagai tough guy, sosok sangat tangguh. “I don’t want to fight him,” demikian seloroh Trump di hadapan para pemimpin dunia.
Selama ini, Trump dikenal hanya menaruh hormat pada kepemimpinan kuat. Pernyataan Trump ini dapat dipandang sebagai respek tertinggi bagi Indonesia. Sinyal bahwa Presiden Prabowo bukan pemimpin yang bisa didikte.
Indonesia datang ke Washington bukan sebagai “penerima bantuan”, melainkan mitra strategis dari sebuah negara raksasa dengan penduduk 280 juta jiwa.
Jumlah penduduk yang membuat Trump terperangah, hingga meminta konfirmasi ulang.
Aura Macan Asia
Selama puluhan tahun, diplomasi Indonesia dianggap terlalu “santun”, kerap tenggelam dalam riuh gelombang kepentingan negara-negara besar.
Prabowo mematahkan mitos itu dengan narasi “Macan Asia” di setiap meja perundingan internasional. Sehingga Indonesia dipandang sebagai jangkar stabilitas, sekaligus jembatan Indo-Pasifik kokoh. Tanpa Indonesia, kebijakan Amerika di Asia Tenggara pincang.
Ketegasan Prabowo dalam menyuarakan perdamaian, tanpa memihak Barat atau Timur memperkuat nilai tawar menjadi mahal di mata Trump
Ditambah modernisasi militer secara masif dan konsisten di jalur diplomasi, membuat predikat Indonesia sebagai negara “tangguh” di kawasan Asia.
Indonesia naik kelas, bukan menjadi penonton di pinggir arena, melainkan pemain inti dalam lanskap percaturan geopolitik global.
Garda depan Gaza
Pertemuan BoP, sebagai rancang bangun komprehensif stabilisasi kawasan Gaza sudah dipresentasikan. Disaksikan jutaan warga dunia, termasuk para pemimpin Eropa, yang menolak gagasan Trump ini.
Sekarang, ketangguhan Indonesia akan diuji melalui peran perdamaian Gaza. Jutaan warga dunia menunggu aksi nyata Indonesia sebagai deputy commander dalam International Stabilization Force (ISF).
Prabowo merespons tanggung jawab ini dengan komitmen Indonesia mengirimkan lebih dari 8.000 personel pasukan penjaga gencatan senjata, mengawal perdamaian abadi bagi Gaza. Indonesia akan memegang kendali di sektor-sektor krusial, seperti Rafah, memimpin rekonstruksi sipil, melatih kepolisian lokal Gaza dengan model one authority, one law.
Mendengar pernyataan presiden Prabowo, Trump secara terbuka menyampaikan terima kasih: “Nations represented here today… in particular, Indonesia, thank you very much.”
Indonesia akan terlibat langsung dalam proyek kemanusiaan raksasa, membersihkan 70 juta ton puing, membangun kembali 400.000 rumah, hingga membangun bandara dan pelabuhan di Gaza, dengan total kebutuhan investasi melampaui USD 30 miliar.
Semua ini menjadi bukti bahwa “Macan Asia” sedang menata perdamaian dunia.
Kedaulatan ekonomi
Diplomasi “tangguh” Prabowo juga tercermin dalam kesepakatan dagang (ART) antara Indonesia – Amerika Serikat. Prinsip ekonomi nasional dipertahankan dengan gigih.
Pertama, langkah perlindungan terhadap posisi pekerja Indonesia menjadi poin penting yang diperjuangkan Presiden Prabowo.
Kesepakatan ini mengunci perlindungan bagi 10 komoditas top ekspor utama dan menghidupi jutaan rakyat Indonesia, mulai dari 2,7 juta buruh pakaian jadi, 2 juta nelayan, hingga ratusan ribu pekerja di sektor alas kaki, furnitur, dan karet. Kategori produk padat karya dan sangat dibutuhkan pasar Amerika.
Presiden Prabowo memastikan bahwa kesepakatan internasional harus berujung pada nasib rakyat.
Kedua, menjaga kedaulatan ekonomi, menolak tunduk pada tekanan luar. Pembelian tambahan produk AS, seperti BBM, LPG, dan bahan pangan, disesuaikan hanya untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri yang belum bisa diproduksi sendiri. Ini menegaskan jika Indonesia mitra setara, bukan pasar bagi produk mereka.
Kesepakatan dicapai dengan tetap menjaga kemampuan Indonesia menentukan sendiri kebijakan ekonomi dan politik luar negeri. Artinya, setiap pembelian tambahan produk AS disesuaikan dengan kebutuhan dalam negeri Indonesia.
Ketiga, terciptanya daya saing di pasar Amerika. Melalui ART, produk ekspor Indonesia, seperti pakaian, alas kaki, mesin, dan elektronika kini jauh lebih kompetitif dibandingkan kompetitor berat, seperti Vietnam, Bangladesh, Tiongkok, bahkan India. Tarif 19 persen untuk Indonesia jauh di bawah tarif yang dikenakan AS pada negara-negara tersebut, antara 30 persen hingga 50 persen.
Bahkan, komoditas rakyat, seperti kopi, coklat, rempah-rempah, dan karet alam, kini menikmati tarif 0 persen.
Setelah penandatanganan ART, Indonesia berpeluang mendapatkan pengecualian tarif untuk 1.695 komoditas ekspor, termasuk kelapa sawit. Selain itu, AS juga akan memberikan pengecualian tarif khusus untuk produk industri tekstil Indonesia, dengan mekanisme tariff-rate quota (TRQ). Mekanisme TRQ akan dibahas secara detail, setelah penandatanganan perjanjian ART selesai dilaksanakan
Kekuatan baru
Simbiosis baru tercipta, Amerika membutuhkan sekutu kredibel di kawasan Asia guna menjaga keseimbangan global, sementara Indonesia dapat memanfaatkan posisi itu untuk mengakselerasi ekonomi dan posisi tawar politik luar negeri.
Setelah penandatanganan ART, Indonesia berpeluang mendapat pengecualian tarif untuk 1.695 komoditas, termasuk kelapa sawit yang selama ini digempur isu lingkungan oleh Barat.
Pujian Trump di “Board of Peace” merupakan legitimasi bahwa Indonesia telah bertransformasi menjadi bangsa kuat. Kehormatan yang dikirim Washington ke dunia internasional menjadi sinyal kuat, menegaskan tentang rasa hormat dari bangsa-bangsa terhadap kekuatan tangan sendiri.
Dunia, kini menatap Indonesia dengan pandangan berbeda. Seperti kata Trump, siapa yang berani melawan pemimpin dari negara sebesar dan sekuat ini?
Di bawah kepemimpinan Prabowo, Indonesia membuktikan keberanian untuk tetap independen, teguh pada kemanusiaan dan cerdik dalam negosiasi. Frasa kunci untuk menjadikan Indonesia semakin disegani di abad ke-21 sebagai realitas kekuatan dunia.
*) Dr Eko Wahyuanto adalah pengamat politik dan kebijakan publik
Oleh Eko Wahyuanto *)
Editor : Masuki M Astro




