TERASKALTARA.ID, MALINAU – Keterbatasan akses transportasi masih menjadi persoalan serius bagi masyarakat di Kecamatan Bahau Hulu, Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara, terutama dalam kondisi darurat pelayanan kesehatan.
Untuk merujuk pasien ke Malinau, warga harus menempuh perjalanan panjang menuju Pujungan menggunakan perahu ketinting dengan waktu tempuh sekitar tiga jam atau bahkan lebih. Setelah itu, perjalanan dilanjutkan menggunakan pesawat dari Pujungan untuk mendapatkan penanganan medis lebih lanjut.
Camat Bahau Hulu, Victor Romawan, mengungkapkan kondisi tersebut kerap menjadi kendala besar dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat.
“Kalau ada pasien darurat, kami harus membawa pasien terlebih dahulu ke Pujungan menggunakan perahu ketinting sekitar tiga jam, baru kemudian dijemput pesawat,” ujarnya kepada teraskaltara.id, Selasa (17/3).
Menurutnya, keterbatasan ini disebabkan oleh kondisi lapangan terbang (lapter) yang ada saat ini. Landasan pacu yang pendek membuat hanya jenis pesawat tertentu yang dapat mendarat, serta tidak memungkinkan untuk dilakukan pengembangan lebih lanjut.
Akibatnya, penanganan pasien dalam kondisi darurat sering kali tidak dapat dilakukan secara cepat untuk dirujuk ke Malinau, padahal waktu menjadi faktor krusial dalam menyelamatkan nyawa.
Melihat kondisi tersebut, masyarakat bersama pemerintah kecamatan kembali mendorong pembangunan bandara perintis di Bahau Hulu. Upaya pembersihan dan pematangan lahan pun kembali dilakukan sebagai bentuk ikhtiar membuka akses transportasi yang lebih layak.
Di sisi lain, dukungan pemerintah daerah melalui program Bupati Malinau, Wempi W Mawa, mulai memberi harapan baru bagi masyarakat, khususnya dengan adanya bantuan alat berat di masing-masing kecamatan yang mendukung pengerjaan di lapangan.
“Kami berharap ada perhatian serius dan tindak lanjut, baik dari pemerintah daerah, provinsi maupun pusat, untuk peningkatan landasan dan fasilitas lainnya. Karena bandara ini bukan hanya soal transportasi, tetapi menyangkut keselamatan dan nyawa masyarakat,” ungkapnya.
Keberadaan bandara perintis dinilai akan menjadi solusi penting untuk membuka keterisolasian wilayah, mempercepat pelayanan darurat, serta meningkatkan kualitas hidup masyarakat di kawasan pedalaman Kabupaten Malinau. (tk01)




