Pertumbuhan ekonomi, perdagangan, teknologi, energi, hingga pengaruh politik global semakin tersebar ke berbagai kawasan. Negara-negara berkembang yang selama puluhan tahun lebih sering menjadi penerima aturan kini semakin aktif meminta ruang untuk ikut menentukan arah perubahan.
BRICS tumbuh menjadi salah satu wadah yang mencerminkan pergeseran tersebut. Kelompok yang pada awalnya hanya terdiri atas Brasil, Rusia, India, dan China (BRIC), kini beranggotakan 11 negara, termasuk Indonesia. Secara keseluruhan, negara anggota BRICS mewakili sekitar 49,5 persen populasi dunia, 40 persen produk domestik bruto global, dan 26 persen perdagangan dunia.
Kehadiran Prabowo di New Delhi tidak sekadar melanjutkan agenda diplomasi luar negeri. Ada kepentingan yang lebih besar. Upaya memastikan posisi Indonesia di dalam kelompok ekonomi yang semakin berpengaruh itu dapat diterjemahkan menjadi ruang gerak yang lebih luas bagi kepentingan nasional.
Indonesia menjadi anggota penuh BRICS pada 2025. Setahun lebih setelah keputusan tersebut, kehadiran Presiden Prabowo pada KTT ke-18 BRICS menjadi kesempatan untuk mulai memperlihatkan bagaimana Indonesia hendak memainkan peran sebagai anggota, bukan sekadar menjadi bagian dari daftar negara peserta.
Karena BRICS sedang mengalami perubahan, perluasan keanggotaan membuat kelompok ini semakin besar, tetapi sekaligus semakin beragam kepentingannya. Tantangan BRICS kini lebih besar dari membangun kekuatan kolektif, tapi memastikan kekuatan tersebut dapat menghasilkan kerja sama yang konkret.
Prabowo menangkap persoalan itu dengan menekankan bahwa kekuatan kolektif BRICS tidak semestinya berhenti pada komitmen di atas kertas. Menurut Presiden, kekuatan tersebut harus diterjemahkan menjadi peluang nyata bagi masyarakat dan memperbesar suara negara-negara Global South dalam menentukan masa depannya.
Pandangan tersebut bertemu dengan agenda India sebagai Ketua BRICS 2026. New Delhi mengusung tema Building for Resilience, Innovation, Cooperation and Sustainability atau membangun ketahanan, inovasi, kerja sama, dan keberlanjutan. Dua sesi utama KTT membahas tata kelola global yang inklusif dan penguatan multilateralisme, serta ketahanan, inovasi, kerja sama, dan keberlanjutan untuk pertumbuhan global yang inklusif.
Tema KTT
Tema KTT BRICS di India itu berhubungan langsung dengan kebutuhan Indonesia.
Ketahanan diperlukan ketika gangguan rantai pasok, perubahan iklim, gejolak energi, dan krisis pangan dapat dengan cepat melintasi batas negara. Indonesia yang memiliki populasi besar dan sedang memperkuat ketahanan pangan serta energi memiliki kepentingan langsung terhadap sistem perdagangan dan pasokan global yang lebih tahan terhadap guncangan.
Inovasi juga menjadi kebutuhan yang tidak kalah penting. Indonesia tidak dapat terus mengandalkan pertumbuhan berbasis sumber daya alam dan pasar domestik. Penguatan industri, hilirisasi, teknologi digital, kecerdasan artifisial, riset, dan pengembangan sumber daya manusia menjadi bagian dari upaya meningkatkan nilai tambah ekonomi.
Kerja sama dibutuhkan untuk menghubungkan kapasitas yang dimiliki masing-masing negara. Sementara keberlanjutan menjadi semakin penting ketika pertumbuhan ekonomi harus berjalan bersamaan dengan kebutuhan transisi energi dan pengendalian dampak perubahan iklim.
India membawa pengalaman yang relevan bagi agenda tersebut. Dalam keketuaannya, India mendorong kerja sama di bidang rantai pasok, kesehatan, inovasi, energi, pertanian, teknologi, dan pengembangan ekosistem startup. Bahkan dalam rangkaian KTT, India menampilkan puluhan inovasi teknologi dari bidang kesehatan, energi surya, robotika, kendaraan listrik, hingga teknologi pemantauan kesehatan berbasis AI.
Bagi Indonesia, keanggotaan BRICS dapat membuka ruang yang lebih besar untuk memperluas pasar, menarik investasi, membangun rantai pasok, memperkuat ketahanan energi dan pangan, serta memperoleh akses terhadap teknologi dan pembiayaan pembangunan.
Pembicaraan mengenai perdagangan dengan mata uang lokal dan penguatan sistem pembayaran lintas negara, misalnya, berkaitan langsung dengan kebutuhan untuk membuat transaksi internasional semakin efisien dan mengurangi ketergantungan pada mekanisme pembayaran tertentu.
Deklarasi New Delhi juga mencakup penguatan kerja sama perdagangan, sistem pembayaran lintas negara, pangan, energi, kecerdasan artifisial, dan aksi iklim.
Bagi Indonesia, semakin banyak pilihan dalam perdagangan dan pembiayaan berarti semakin besar pula ruang untuk menentukan mitra sesuai kepentingan nasional. Langkah ini akan makin terasa ketika rantai pasok global semakin dipengaruhi oleh ketegangan geopolitik dan kebijakan perdagangan berbagai negara.
BRICS tidak harus dilihat dalam kerangka memilih satu blok dan meninggalkan blok lainnya. Justru kekuatan Indonesia dapat terletak pada kemampuan memperluas pilihan.
Indonesia tetap membutuhkan hubungan ekonomi dengan berbagai pusat pertumbuhan dunia. Pada saat yang sama, Indonesia juga membutuhkan ruang untuk memperjuangkan kepentingan negara berkembang dalam lembaga multilateral dan forum internasional.
Mendorong reformasi
Sebagaimana pandangan yang disampaikan Prabowo di BRICS, Presiden mendorong reformasi sejumlah institusi multilateral agar negara berkembang memiliki ruang lebih besar dalam menentukan aturan global.
Dalam konteks itu, BRICS dapat menjadi salah satu meja diplomasi tempat Indonesia memperjuangkan kepentingannya, tanpa harus mengubah politik luar negeri menjadi politik keberpihakan pada satu kekuatan.
Pilihan tersebut semakin masuk akal karena kepentingan Indonesia dengan India sedang berkembang jauh melampaui hubungan perdagangan.
Beberapa bulan sebelum KTT BRICS di New Delhi, Narendra Modi melakukan kunjungan kenegaraan ke Indonesia. Pertemuan Prabowo dan Modi pada Juli 2026 menghasilkan 16 kesepakatan kerja sama di berbagai bidang. Keduanya membahas perdagangan, investasi, industri strategis, kesehatan, energi, pendidikan, riset, teknologi, hingga kebudayaan.
Hubungan pendidikan menjadi salah satu contoh bagaimana kerja sama tersebut dapat menghasilkan manfaat jangka panjang. Indonesia dan India mendukung pendirian kampus Indian Institute of Management (IIM) serta membuka kemungkinan kehadiran Indian Institute of Technology (IIT) di Indonesia. Kedua negara juga mendorong peningkatan jumlah mahasiswa Indonesia yang belajar di India.
Hubungan Indonesia-India bahkan mempunyai lapisan yang lebih dalam daripada kepentingan ekonomi.
Ketika Prabowo dan Modi mengunjungi Candi Prambanan pada Juli lalu, keduanya tidak sekadar melihat sebuah situs warisan dunia. Prambanan menjadi simbol hubungan peradaban Indonesia dan India yang telah berlangsung lebih dari seribu tahun.
Kedua negara juga menyepakati kerja sama konservasi dan restorasi kompleks candi tersebut. Lapisan sejarah dan kebudayaan itu memberikan fondasi sosial yang berbeda bagi hubungan ekonomi dan teknologi.
Itulah mengapa Prabowo dirangkul hangat oleh Modi yang menyambutnya saat tiba pertama kali di KTT BRICS, sementara pemimpin besar seperi Xi Jinping dan Vladmir Putin hanya mendapat jabat tangan erat PM India.
Kerja sama tidak berdiri semata-mata di atas angka perdagangan atau nilai investasi, tetapi juga dibangun melalui hubungan antarmasyarakat, pendidikan, kebudayaan, dan pengetahuan.
Oleh Aditya Ramadhan
Editor : Sapto Heru Purnomojoyo






