BPS Sebut Inflasi Selalu Terjadi Pada Ramadhan Dalam 5 Tahun Terakhir

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS) Ateng Hartono menyampaikan Rilis Resmi Berita Statistik di Jakarta, Senin (2/3/2026). ANTARA/HO-BPS.

TERASKALTARA.ID, JAKARTA.  02/3 (ANTARA) – Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS) Ateng Hartono memaparkan bahwa inflasi secara bulanan (month-to-month/mtm) selalu terjadi setiap momen Ramadhan pada lima tahun terakhir.

Peningkatan harga pada bulan suci umat Muslim tersebut terutama ditimbulkan oleh komoditas dari Kelompok Pengeluaran Pengeluaran Makanan, Minuman, Dan Tembakau.

“Secara umum, komoditas (dari komponen) bergejolak serta komoditas dari Kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau menjadi komponen penyebab utama andil inflasi di setiap momen Ramadhan,” ucap Ateng Hartono di Jakarta, Senin.

Ia mengatakan, momen Ramadhan pada April 2022 mencatatkan inflasi sebesar 0,95 persen mtm.

Komoditas pendorong utama meliputi minyak goreng (andil 0,19 persen), bensin (0,16 persen), daging ayam ras (0,09 persen), tarif angkutan udara (0,08 persen), dan ikan segar (0,04 persen).

Di Ramadhan berikutnya, yakni pada Maret 2023, inflasi tercatat menurun menjadi 0,18 persen mtm.

Tarif angkutan udara dan bensin (dengan andil masing-masing 0,03 persen), serta beras, cabai rawit, rokok kretek filter, dan bawang putih (masing-masing memberi andil 0,02 persen) menjadi komoditas utama penyumbang inflasi.

Tingkat inflasi kembali meningkat menjadi 0,52 persen mtm pada momen Ramadhan Maret 2024.

Komoditas yang berkontribusi besar terhadap inflasi saat itu adalah telur ayam ras, daging ayam ras, dan beras (masing-masing menyumbang andil 0,09 persen), emas perhiasan (0,04 persen), cabai rawit (0,02 persen), serta bawang putih (0,02 persen).

Kenaikan kembali terjadi pada Maret 2025 saat inflasi menyentuh 1,65 persen mtm, menandai level tertinggi terjadinya inflasi pada momen Ramadhan dalam 5 tahun terakhir.

Andil inflasi terbesar disumbangkan oleh tarif listrik (1,18 persen), diikuti bawang merah (0,11 persen), cabai rawit dan ikan segar (masing-masing 0,06 persen), emas perhiasan (0,05 persen), serta daging ayam ras (0,03 persen).

Sementara pada tahun ini, inflasi bulanan di momen Ramadan Februari 2026 tercatat sebesar 0,68 persen mtm, didorong oleh emas perhiasan (0,19 persen), daging ayam ras (0,09 persen), cabai rawit (0,08 persen), ikan segar (0,05 persen), cabai merah (0,04 persen), dan tomat (0,02 persen).

“Tingkat inflasi pada Februari 2026 bertepatan dengan momen Ramadhan lebih rendah jika dibandingkan momen Ramadhan pada tahun 2022, yaitu Ramadhan terjadi pada bulan April, dan juga lebih rendah dari Ramadhan tahun 2025 yang terjadi pada bulan Maret,” ujar Ateng.

(T.U007//H-AKM/H-AKM) 02-03-2026 22:06:54 – Finansial – Jakarta

Oleh : Uyu Septiyati Liman
Editor : Abdul Hakim Muhiddin

Pos terkait