Dinkes Tarakan Imbau Waspada ‘Super Flu’, Penularan Cepat Sasar Kelompok Rentan

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kota Tarakan, Rinny Faulin

TERASKALTARA.ID, TARAKAN — Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Tarakan mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap penyakit yang dikenal sebagai ‘super flu’, yakni influenza tipe A, yang memiliki gejala lebih berat dibanding flu biasa dan berpotensi menular lebih cepat, terutama pada kelompok rentan.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Tarakan, Rinny Faulina, menjelaskan bahwa istilah super flu muncul di masyarakat karena tingkat keparahan gejalanya.

“Super flu ini adalah influenza A kalau bahasa medisnya. Disebut super flu karena gejalanya lebih berat dibanding influenza biasa,” ujar Rinny.

Ia memaparkan, super flu umumnya disertai demam tinggi hingga 39–41 derajat Celsius, sementara flu biasa biasanya hanya mencapai 38 derajat.

“Gejalanya juga disertai sakit kepala, sakit tenggorokan, badan terasa ngilu dan sakit,” jelasnya.

Rinny mengungkapkan, kasus super flu di Tarakan sebenarnya sudah ditemukan sejak November 2025, dengan total tiga kasus terkonfirmasi. Namun, hasil laboratorium baru diketahui setelah proses pemeriksaan yang memerlukan waktu.

“Sampel kita kirim ke balai laboratorium rujukan di Banjarbaru. Pemeriksaannya memang membutuhkan waktu karena ada antrean. Hasilnya baru keluar sekitar dua minggu, dan saat itu pasiennya sudah sembuh,” katanya.

Ia memastikan seluruh pasien telah sembuh dan penanganannya selesai. Hingga Januari 2026, belum ditemukan kasus baru dan tidak ada sampel tambahan yang dikirim ke laboratorium.

“Untuk sampai bulan Januari 2026 ini, belum ada temuan kasus lagi,” tegas Rinny.

Meski tidak mengarah ke situasi pandemi seperti COVID-19, Rinny mengingatkan bahwa laju penularan super flu tergolong cepat, sehingga sering tidak disadari oleh masyarakat.

“Gejalanya hampir mirip flu biasa. Banyak yang menganggap enteng, cukup minum air hangat atau mengobati sendiri, sehingga tidak terdeteksi di layanan kesehatan,” ujarnya.

Ia menambahkan, tingkat keparahan penyakit sangat bergantung pada kondisi imunitas tubuh.

“Kelompok lansia, anak-anak, dan orang dengan penyakit komorbid lebih berisiko mengalami kondisi yang lebih berat, mirip seperti saat COVID-19 dulu,” katanya.

Sebagai langkah antisipasi, Dinkes Tarakan telah mengingatkan seluruh puskesmas dan fasilitas pelayanan kesehatan agar lebih sigap dalam menangani pasien dengan gejala flu berat.

“Tenaga kesehatan diminta lebih selektif saat anamnesis, terutama jika pasien mengalami demam tinggi di atas normal,” jelas Rinny.

Selain itu, pihaknya juga mulai mengintensifkan edukasi melalui media dan mengajak masyarakat kembali menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).

Rinny menegaskan bahwa upaya pencegahan super flu pada dasarnya sama dengan pencegahan penyakit pernapasan lainnya.

“Kembali ke PHBS. Cuci tangan, gunakan masker saat berada di tempat berisiko seperti rumah sakit atau puskesmas. Kalau sedang flu, lindungi keluarga dengan memakai masker dan batasi aktivitas di luar rumah,” imbaunya.

Ia juga menyarankan masyarakat menjaga daya tahan tubuh dengan pola makan bergizi, olahraga teratur, istirahat cukup, serta mengonsumsi suplemen bila diperlukan.

Terkait pencegahan tambahan, Rinny menyebutkan bahwa vaksin influenza masih dapat digunakan, meski varian virus super flu berbeda.

“Vaksin influenza memang variannya berbeda, seperti H3N2, sementara yang ini varian baru. Tapi vaksin influenza masih bisa digunakan,” katanya.

Vaksin tersebut tersedia di sejumlah fasilitas kesehatan dan praktik dokter swasta, meskipun umumnya berbayar.

“Biasanya tersedia di praktik dokter swasta, terutama untuk anak-anak,” tambahnya.

Munculnya kembali kasus influenza berat menjadi pengingat pentingnya kesiapsiagaan sistem kesehatan dan kesadaran masyarakat pascapandemi COVID-19. Minimnya pemeriksaan akibat anggapan flu biasa berpotensi membuat kasus tidak terdeteksi, sekaligus meningkatkan risiko penularan di lingkungan sekitar.

Dinkes Tarakan pun mengajak masyarakat untuk tidak menyepelekan gejala flu berat, khususnya jika disertai demam tinggi dan nyeri hebat.

“Kalau gejalanya berat, segera periksa ke fasilitas kesehatan. Deteksi dini sangat penting,” pungkas Rinny.(Rz)

Pos terkait