TERASKALTARA.ID, CILACAP. 31/3 (ANTARA) – Hujan yang masih turun di pengujung Maret 2026 seakan memberi jeda, sebelum ancaman El Nino yang memicu kemarau panjang benar-benar datang di berbagai wilayah Indonesia, termasuk Jawa Tengah.
Di sejumlah wilayah Jawa Tengah bagian selatan, seperti Kabupaten Banyumas dan Cilacap, langit masih sering mendung, tanah masih basah, dan aliran air di saluran irigasi belum surut karena hujan kembali turun dalam beberapa hari terakhir, setelah kondisi cuaca sempat cerah dan terasa panas selama hampir satu pekan.
Bagi para petani dan pemangku kebijakan, kondisi tersebut menjadi pengingat bahwa waktu persiapan menghadapi musim kemarau kian terbatas seiring datangnya masa transisi antarmusim atau pancaroba. Prakiraan akan datangnya kemarau panjang mendorong pemerintah dan petani di Jawa Tengah mempercepat tanam serta mengoptimalkan sumber daya air agar produksi pangan tetap produktif dan aman.
Musim kemarau 2026 diprakirakan lebih panjang dan kering, dipicu fenomena El Nino yang mulai menguat di kawasan Pasifik. El Nino dikenal mampu menekan curah hujan, meningkatkan suhu udara, dan mempersulit pertumbuhan tanaman. Dengan perkiraan durasi yang lebih lama, ancaman bagi ketahanan pangan menjadi nyata.
Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) merilis proyeksi musim kemarau sebagai panduan bagi pemerintah dan petani. Ketua Tim Kerja Pelayanan Data dan Diseminasi Informasi BMKG Stasiun Meteorologi Tunggul Wulung Cilacap Teguh Wardoyo mengatakan awal musim kemarau di wilayah selatan Jawa Tengah umumnya terjadi pada Mei 2026.
Di Kabupaten Cilacap, kemarau diperkirakan mulai pada Mei dasarian kedua, sementara wilayah pesisir tenggara, seperti Kecamatan Binangun dan Nusawungu, kemungkinan memasuki kemarau lebih awal, yakni pada Mei dasarian pertama. Durasi musim kemarau diperkirakan 140–180 hari, dengan puncak pada Agustus 2026.
Kabupaten Banyumas menghadapi awal kemarau secara bertahap. Wilayah tenggara diperkirakan mulai mengalami kemarau pada Mei dasarian pertama, diikuti barat daya dan selatan pada Mei dasarian kedua. Wilayah utara dan tengah Banyumas baru memasuki kemarau pada Juni dasarian kedua, dengan durasi 110–180 hari.
Sementara Kabupaten Purbalingga, kemarau diprakirakan mulai Juni dasarian pertama di wilayah utara dan meluas ke barat laut serta selatan pada dasarian kedua, durasi sekitar 120 hari.
“Hal yang perlu menjadi perhatian adalah sifat kemarau tahun ini yang berada di bawah normal, artinya curah hujan lebih rendah dari rata-rata klimatologis,” kata Teguh.
Prediksi ini berbeda dengan kondisi tahun sebelumnya karena pada 2025, beberapa wilayah di Jawa Tengah bagian selatan, bahkan mengalami hujan hampir sepanjang tahun, tanpa periode kemarau yang jelas. Akan tetapi tahun ini polanya berbalik, dengan kecenderungan kondisi lebih kering.
Secara global, El Niño-Southern Oscillation (ENSO) atau fenomena interaksi antara laut dan atmosfer di Samudra Pasifik tropis yang menyebabkan variasi iklim global secara berkala, namun tidak teratur yang mempengaruhi kondisi cuaca di Indonesia saat ini berada pada fase netral, dengan indeks minus 0,28, tetapi peluang berkembangnya El Nino cukup besar pada awal semester kedua 2026.
Selain itu, Indian Ocean Dipole (IOD) atau fenomena interaksi antara laut dan atmosfer di Samudra Hindia tropis yang ditandai dengan perbedaan suhu permukaan laut antara wilayah barat (dekat Afrika Timur) dan wilayah timur (dekat Indonesia dan Australia) juga dalam kondisi netral, diperkirakan bertahan hingga pertengahan tahun. Suhu permukaan laut Indonesia diperkirakan normal hingga lebih hangat, antara 0,5-2 derajat Celsius.
Prediksi dominasi monsun Australia mulai Mei 2026 membawa massa udara kering ke Indonesia bagian selatan, termasuk Jawa Tengah. Kombinasi faktor ini memperbesar potensi kemarau panjang yang berdampak luas, terutama pada sektor pertanian yang sangat bergantung air.
Sementara itu, pakar pertanian Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto Prof Totok Agung Dwi Haryanto menilai kemarau panjang yang dipicu El Nino berpotensi menekan produksi pangan.
“Fenomena ini (El Nino) membuat musim kemarau lebih panjang. Dampaknya jelas, tanaman menghadapi dua tekanan utama, yakni kekurangan air dan suhu tinggi,” katanya menegaskan.
Kekurangan air menghambat penyerapan unsur hara, sementara suhu tinggi mempercepat penguapan dan menambah stres tanaman. Jika tidak diantisipasi, produktivitas turun, bahkan risiko gagal panen meningkat.
Oleh karena itu, langkah antisipasi harus komprehensif dan salah satu strategi yang dapat dilakukan berupa percepatan masa tanam. Dengan mempercepat tanam, tanaman masih bisa memanfaatkan sisa curah hujan sebelum kemarau benar-benar datang.
Dalam hal ini, pembibitan bisa dilakukan sebelum panen musim tanam pertama selesai. Dengan demikian ketika panen telah selesai, lahan bisa langsung diolah dan ditanami kembali, tanpa jeda.
Pemilihan varietas juga krusial karena tanaman yang toleran kekeringan, seperti padi gogo, bisa mengurangi risiko kerugian. Selain itu, optimalisasi sumber daya air dengan embung, sumur, dan sistem irigasi perpompaan membantu menjaga ketersediaan air.
Akan tetapi teknologi tersebut membutuhkan dukungan energi memadai, sehingga memerlukan kebijakan yang mendukung petani, terutama akses dan harga bahan bakar.
“Perlu kebijakan berpihak petani, baik harga maupun akses bahan bakar untuk operasional pompa air dan alat mesin pertanian,” kata Prof Totok.
Selain itu, pengelolaan irigasi juga perlu dilakukan secara bijak, sehingga pengeringan saluran untuk perawatan sebaiknya dilakukan selektif agar distribusi air tidak terganggu pada saat kritis.
Terkait dengan hal itu, Dinas Pertanian Kabupaten Cilacap mengambil langkah konkret menjaga produksi pangan, salah satunya melalui percepatan tanam yang menjadi strategi utama.
Kepala Dinas Pertanian Sigit Widayanto mengatakan percepatan tanam dilakukan untuk memanfaatkan sisa curah hujan, sekaligus meminimalkan risiko kekeringan pada fase pertumbuhan tanaman.
Penyuluh pertanian juga mendampingi petani agar pola tanam sesuai kondisi iklim yang lebih kering. Dari sisi air, pemanfaatan embung, dam parit, sumur dalam, hingga pengembangan irigasi perpompaan dan perpipaan terus dioptimalkan, serta pengelolaan jaringan irigasi primer, hingga kuarter, dijaga agar distribusi air tetap efektif.
Sigit memastikan hingga saat ini belum ada informasi mengenai rencana pengeringan saluran irigasi di Daerah Irigasi (DI) Serayu maupun DI Menganti, sehingga pasokan air pertanian masih dapat terjaga.
Petani juga didorong menggunakan varietas padi tahan kekeringan, seperti Inpari 11, 18, 19, 20, hingga Inpari 46, serta varietas genjah seperti Inpari 6, 12, 13, 34, Cakrabuana, dan Respati.
Dengan luas baku sawah mencapai 67.031 hektare, Cilacap menjadi lumbung pangan strategis Jawa Tengah. Pada 2025, produksi padi mencapai 855.042 ton gabah kering giling, setara 507.438 ton beras konsumsi, dengan surplus cukup besar dibanding kebutuhan masyarakat.
Capaian ini menjadi modal penting menghadapi tantangan kemarau 2026, meskipun kewaspadaan tetap diperlukan mengingat keterbatasan air.
Di sisi lain, masyarakat juga diingatkan untuk mewaspadai cuaca ekstrem selama masa transisi dari musim hujan menuju kemarau pada periode April–Mei 2026. Hujan lebat singkat, petir, angin kencang, hingga puting beliung bisa terjadi tiba-tiba.
Perubahan musim tidak selalu mulus. Di satu sisi ancaman kekeringan mulai mengintai, sementara di sisi lain potensi bencana hidrometeorologi tetap perlu diwaspadai.
Menjaga pangan tetap aman di tengah ancaman El Nino bukan sekadar menghadapi keterbatasan air. Ini soal kemampuan beradaptasi, memperkuat koordinasi, dan menjaga keseimbangan antara alam dan kebutuhan manusia.
Di hamparan sawah yang perlahan mengering, harapan tetap tumbuh bersama benih-benih yang ditanam dengan perhitungan matang. Selama upaya terus dilakukan dan kolaborasi tetap terjaga, ketahanan pangan akan tetap berdiri kokoh, bahkan di tengah musim kemarau panjang sekalipun.
Oleh Sumarwoto
Editor : Masuki M Astro




