TERASKALTARA.ID, MALINAU – Komunitas ojek dan taksi pangkalan di Pelabuhan Speed Malinau mengeluhkan keberadaan angkutan online Maxim yang dinilai bebas mengambil penumpang langsung di area pelabuhan.
Meningkatnya layanan transportasi online di Kabupaten Malinau memang menjadi tanda perkembangan dan kemajuan daerah. Namun di sisi lain, kondisi tersebut menimbulkan pro dan kontra, khususnya bagi angkutan umum dan ojek pangkalan yang telah bertahun-tahun, bahkan belasan tahun, menggantungkan penghasilan di kawasan pelabuhan.
Salah seorang ojek pangkalan, Amri, mengaku saat ini semakin sulit mendapatkan penumpang.
Bagaimana dengan kehidupan kami? Maxim dengan mudah mengambil penumpang di pelabuhan, sementara kami ojek dan taksi umum hampir tidak mendapatkan apa-apa,” keluh Amri saat dikonfirmasi Teraskaltara.id, Selasa (17/02/2026).
Menurut Amri, pelabuhan merupakan satu-satunya sumber penghasilan bagi sebagian besar ojek dan angkutan umum. Namun dengan maraknya angkutan online yang masuk hingga ke area pelabuhan, mereka merasa sangat dirugikan.
Ia berharap pemerintah daerah dapat segera mengambil langkah tegas dengan membuat aturan yang adil bagi semua pihak.
Seharusnya pemerintah daerah bisa mengatur seperti di Tarakan. Angkutan online tidak boleh langsung masuk ke pelabuhan,” tambahnya.
Para ojek pangkalan dan sopir angkutan umum berharap adanya solusi terbaik dari pemerintah daerah agar tidak terjadi persaingan yang tidak seimbang, sehingga semua pihak tetap dapat mencari rezeki secara adil.
Hingga berita ini diterbitkan, pihak Maxim, Dinas Perhubungan Kabupaten Malinau, maupun pengelola Pelabuhan Speed Malinau belum memberikan keterangan resmi terkait keluhan tersebut. (tk01)




