TERAAKALTARA.ID, TARAKAN — Pelabuhan peti kemas Kota Tarakan resmi bertransformasi menuju layanan logistik modern. Memasuki awal 2026, terminal peti kemas menerapkan sistem operasional nonstop 24 jam penuh yang dipadukan dengan teknologi digital berstandar internasional, langkah strategis untuk mempercepat arus barang dan memperkuat posisi Tarakan sebagai gerbang logistik Kalimantan Utara.
Terminal Head Terminal Peti Kemas Tarakan, Amrullah, mengatakan pola kerja 24 jam sehari dan 7 hari seminggu mulai diberlakukan sejak 1 Januari 2026. Sistem ini mengakhiri pola lama yang masih menyisakan waktu jeda operasional.
“Sejak 1 Januari kami sudah mulai operasional 24 jam penuh. Kami menambah satu grup kerja baru agar layanan bisa berjalan nonstop. Saat ini masih dalam tahap uji coba sambil menunggu rekomendasi resmi dari KSOP,” ujar Amrullah.
Menurutnya, kebijakan operasional penuh ini sangat krusial bagi Tarakan yang berperan sebagai simpul logistik di wilayah perbatasan. Dengan jam kerja lebih panjang, antrean kapal dan penumpukan peti kemas dapat ditekan, sekaligus mempercepat distribusi barang ke berbagai wilayah di Kalimantan Utara dan sekitarnya.
Tak hanya memperpanjang jam layanan, transformasi besar juga dilakukan melalui penerapan Terminal Operating System (TOS) Nusantara, sistem digital yang telah digunakan di sejumlah pelabuhan besar nasional dan mengacu pada standar internasional.
Tarakan menjadi pelabuhan ke-15 di Indonesia yang mengadopsi TOS Nusantara. Sistem ini memungkinkan seluruh aktivitas terminal, mulai dari kedatangan kapal, proses bongkar muat, penumpukan hingga pengambilan kontainer terpantau secara digital dan real time.
“Nanti customer cukup klik nomor kontainernya. Mereka bisa langsung tahu kontainernya sudah tiba, sudah berapa lama di pelabuhan, dan kapan bisa diambil,” jelas Amrullah.
Saat ini, TOS Nusantara masih dalam tahap sinkronisasi dan pembaruan data. Sistem tersebut telah diuji coba sejak September 2025 dan ditargetkan go live pada awal Februari 2026, bersamaan dengan sosialisasi masif kepada pengguna jasa oleh tim pusat.
Lebih jauh, Amrullah menjelaskan bahwa TOS Nusantara tidak hanya berfungsi sebagai alat pemantauan, tetapi juga mengubah pola kerja di dalam terminal. Perencanaan bongkar muat kini dilakukan jauh sebelum kapal sandar.
“Kami sudah menerapkan sistem closing time dan open stack. Kontainer yang akan dimuat sudah ditata sejak awal. Jadi saat kapal datang, tidak ada lagi perencanaan dadakan. Semua sudah sesuai rencana,” katanya.
Dengan kombinasi operasional 24 jam dan sistem digital terintegrasi, pelabuhan peti kemas Tarakan menargetkan peningkatan signifikan pada kecepatan bongkar muat, efisiensi lapangan, serta transparansi layanan.
Transformasi ini diharapkan memperkuat daya saing Pelabuhan Tarakan sekaligus mendukung kelancaran arus logistik nasional, khususnya di kawasan perbatasan Kalimantan Utara.(Rz)




