Aceh Timur, Aceh, 26/2 (ANTARA) – “Pak, besok kita belajar lagi, kan, pak?”
Begitu pertanyaan sederhana yang terucap dari bibir putra-putri penyintas bencana banjir dan tanah longsor di Aceh Timur kepada relawan. Kalimat itu berhasil menggerakkan hati dan mengubah rencana.
Kala itu, relawan Atjeh Connection Foundation menggelar program sekolah darurat keliling di berbagai titik terdampak banjir, seperti Ranto Panyang Rubek, Desa Sijudo, Pante Bidari, Aceh Timur.
Kegiatan belajar mengajar melalui program sekolah darurat itu semula direncanakan untuk berlangsung sekali pada tiap kunjungan relawan, yang disertai penyaluran obat-obatan dan kehadiran tenaga medis.
Namun, permintaan sederhana nan polos dari para siswa yang terdampak banjir tersebut mengubah rencana para relawan. Mereka lantas berupaya agar kegiatan belajar mengajar di sekolah darurat berjalan secara rutin, tiada lain dan tiada bukan demi menjaga mimpi generasi penerus bangsa.
Bencana banjir bandang yang berlangsung pada November 2025 memang meluluhlantakkan bangunan sekolah SDN Ranto Panyang Rubek, namun tidak dengan semangat para siswa untuk menempuh pendidikan.
Berdirilah tenda putih dengan papan penanda bertulis “Sekolah Darurat SDN Ranto Panyang Rubek”. Menggantikan peran dari bangunan sekolah yang separuhnya telah hanyut terbawa air dan gelondongan kayu, menyisakan puing-puing yang terserak di tepi sungai.
Tidak ada sekat yang membatasi antarkelas, tidak ada pula kursi untuk menjadi tempat duduk. Hanya ada garis hitam dari spidol yang digambar di papan tulis untuk membagi materi pembelajaran antara kelas yang satu dengan lainnya.
Siswa duduk beralaskan terpal hitam, dilindungi oleh tenda berwarna putih, dan menggunakan meja kecil yang seluruhnya merupakan pemberian dari relawan.
Kondisi pembelajaran jauh dari kata ideal, namun tidak mengecilkan mimpi-mimpi besar dari para penyintas.
Cita-cita dan harapan
“Aku! Aku! Aku mau jadi presiden!” Seorang siswa penyintas bernama Nisa dengan semangat mengangkat tangannya ketika tim ANTARA melontarkan pertanyaan ihwal cita-cita mereka.
“Kamu, kan, mau jadi polisi!” Anak lain berseru tidak terima, dan Nisa lekas menjelaskan bahwa ia ingin menjadi salah satu dari dua cita-cita tersebut. Kalau bisa, lanjut Nisa, ia ingin menjadi presiden dan polisi.
Sementara Nisa ingin menjadi presiden dan polisi sekaligus, anak-anak yang lain ingin menjadi dokter, astronot, guru, anggota TNI, pengusaha, hingga menjadi juragan atau tauke sawit.
Tidak sedikit siswa yang mengangkat tangannya dengan penuh semangat ketika membicarakan cita-cita untuk menjadi tauke sawit, mungkin karena desa mereka dikelilingi oleh kebun sawit. Sebagian besar warga Ranto Panyang Rubek juga bekerja di kebun sawit.
Riuh pembicaraan cita-cita di tengah hamparan lumpur sisa banjir menggambarkan betapa antusiasnya mereka. Meski sekolah telah hanyut terbawa arus, cita-cita masih teguh berdiri.
Semangat para siswa penyintas banjir pun menjadi bahan bakar bagi para guru SDN Ranto Panyang Rubek Kabupaten Aceh Timur, salah satunya Rahmat Syah.
“Anak-anak alhamdulillah semangat. Walaupun istilahnya tenda darurat, tetapi karena banyak teman yang donasi, semangat anak semakin lama semakin tinggi,” ujar Rahmat.
Adapun bantuan-bantuan yang membuat anak-anak semakin semangat untuk belajar adalah seragam baru, tas, buku, alat tulis, hingga fasilitas pendukung lainnya seperti meja dan papan tulis.
Demi menjaga nyala api semangat putra-putri Aceh, para guru yang juga merupakan penyintas bencana rela menembus lumpur dan menempuh perjalanan ekstrem untuk mengajar di sekolah darurat.
Jalan berselimut lumpur yang dilalui pun bukanlah jalan datar, melainkan dipenuhi tanjakan terjal dan turunan berkelok.
Kondisi jalan yang basah, terutama setelah diguyur hujan, rawan membuat kendaraan tergelincir.
Kegiatan belajar mengajar dijadwalkan berlangsung mulai pukul 8 pagi hingga 12 siang, dari Senin–Sabtu. Akan tetapi, kegiatan belajar mengajar diliburkan pada bulan Ramadhan.
Sebanyak 10 guru terlibat dalam kegiatan belajar mengajar untuk 34 siswa SDN Ranto Panyang Rubek Kabupaten Aceh Timur, dengan pelajaran yang diberikan meliputi Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial (IPAS), Matematika, pelajaran Bahasa Indonesia, Pendidikan Agama Islam (PAI), Pendidikan Jasmani dan Kesehatan (penjaskes), dan lain-lain.
“Ini adalah kewajiban kami sebagai dewan guru untuk memberi bimbingan atau pelajaran kepada anak. Lebih-lebih setelah bencana ini, kami harus membangkitkan anak. Supaya tercapai cita-cita mereka,” ujar Rahmat.
Perlu dukungan sarana mengajar
Sekolah Darurat SDN Ranto Panyang Rubek masih membutuhkan dukungan sarana dan prasarana. Bila membangun sekolah belum bisa dilakukan dalam waktu yang singkat, Rahmat menyampaikan setidaknya terdapat dukungan sarana mengajar berupa papan tulis dan buku paket.
Ketiadaan buku paket menjadi kendala bagi dewan guru, sebab untuk memberi pelajaran, dewan guru terbiasa menjadikan buku paket sebagai pedomannya.
Sayangnya, banjir yang melanda Aceh Timur pada akhir November 2025 turut menyapu buku paket yang digunakan oleh para guru sebagai pedoman mengajar murid-muridnya.
“Kami sebagai dewan guru masih sulit untuk memberi pelajaran tanpa pedoman sesuai Kurikulum Merdeka yang sekarang kami ajarkan,” ujar Rahmat.
Selain itu, sekolah darurat juga membutuhkan tambahan papan tulis. Saat ini, Sekolah Darurat SDN Ranto Panyang Rubek hanya punya satu papan tulis.
Mereka juga membutuhkan sekat-sekat pemisah antarkelas untuk mendukung pembelajaran berlangsung dengan efektif.
Merespons kebutuhan masyarakat penyintas bencana Sumatera, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti mengusulkan anggaran biaya tambahan (ABT) untuk pemulihan pascabencana di Provinsi Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat sebesar Rp2,4 triliun.
ABT akan digunakan untuk proses penanganan pascabencana, termasuk revitalisasi sekolah, tunjangan khusus guru (TKG), hingga penyaluran bantuan pemerintah berupa peralatan.
Untuk mempercepat proses pemulihan pembelajaran itu, pihaknya telah menyusun sejumlah rencana kerja selama dua minggu terakhir pada bulan Februari. Salah satunya adalah rakor percepatan rekonstruksi pascabencana dengan dinas pendidikan di tiga provinsi terdampak.
Selain itu, Mendikdasmen juga akan melanjutkan penandatanganan perjanjian kerja sama (PKS) revitalisasi satuan pendidikan pascabencana dengan total target sebanyak 1.204 sekolah.
Ketiga, Kemendikdasmen juga akan melanjutkan proses verifikasi dan pembuatan rekening bagi 13 ribu guru guna penyaluran Tunjangan Khusus Guru (TKG), dengan total nilai bantuan sebesar Rp83,3 miliar.
Kemendikdasmen juga akan kembali menyalurkan bantuan Pemerintah berupa peralatan (TIK, peralatan laboratorium, peralatan olahraga, alat kebersihan dan alat permainan edukatif), dengan total bantuan sebesar Rp60 miliar.
Beragam upaya tersebut menunjukkan para relawan, guru, hingga pemerintah bahu-membahu memulihkan fasilitas pendidikan di daerah yang terkena banjir bandang dan tanah longsor yang melanda Aceh pada akhir November 2025.
Mereka adalah penjaga mimpi putra-putri penyintas bencana.
Oleh Putu Indah Savitri
Editor : Sapto Heru Purnomojoyo




