TERASKALTARA.ID, TARAKAN — Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai (KPPBC) Tarakan membidik lonjakan drastis penerimaan negara pada 2026. Target yang dipasang tak main-main, mencapai sekitar Rp600 miliar, atau hampir 20 kali lipat dibanding realisasi penerimaan saat ini yang masih berada di kisaran Rp35 miliar.
Kepala KPPBC Tarakan, Wahyu Budi Utomo, mengungkapkan bahwa target besar tersebut menuntut terobosan baru, terutama dari sektor bea keluar batu bara dan optimalisasi ekspor UMKM di Kalimantan Utara.
“Target 2026 itu naiknya lumayan signifikan. Dari sekarang sekitar Rp35 miliar, sementara targetnya sekitar Rp600 miliar. Jadi memang hampir 20 kali lipat,” ujar Wahyu saat ditemui di Tarakan.
Wahyu menjelaskan, pada periode sebelumnya penerimaan Bea Cukai Tarakan ditopang oleh bea masuk sekitar Rp28 miliar, sementara bea keluar sempat menyumbang ratusan miliar rupiah.
“Bea masuk kemarin sekitar Rp28 miliar. Bea keluarnya yang cukup tinggi, totalnya kalau tidak salah di kisaran 600-an miliar,” jelasnya.
Untuk mengejar target 2026, Bea Cukai Tarakan masih menunggu kebijakan teknis dari pemerintah pusat terkait rencana pengenaan bea keluar batu bara.
“Harapannya memang dari batu bara. Pemerintah sempat menyampaikan akan ada biaya keluar batu bara, tapi petunjuk teknisnya belum ada. Jadi sekarang masih menunggu,” kata Wahyu.
Menurutnya, jika kebijakan tersebut diberlakukan, perhitungan bea keluar kemungkinan berbasis tonase, sehingga sangat bergantung pada volume ekspor dan kondisi pasar global.
“Kalau sudah ditetapkan per tonnya, baru bisa kita hitung. Tapi tetap tergantung pembeli dan harga global karena batu bara ini fluktuatif,” ujarnya.
Ia mencontohkan, konflik Rusia–Ukraina sebelumnya sempat memicu lonjakan permintaan energi dunia.
“Waktu itu pemerintah sampai bilang seperti dapat durian runtuh. Tapi kalau suplai energi dunia sudah stabil, penerimaan bisa turun lagi,” tambahnya.
Wahyu mengakui, struktur ekonomi Tarakan dan sekitarnya membuat potensi bea masuk relatif kecil, karena terbatasnya impor barang kena bea.
“Barang impor yang dikenakan bea masuk itu minim sekali. Makanya kita harus terus identifikasi sumber penerimaan lain,” tegasnya.
Meski sektor perikanan dan agro tidak dikenakan bea keluar, Bea Cukai Tarakan tetap agresif mendorong ekspor UMKM karena dampak ekonominya yang luas.
“Perikanan tidak kena bea keluar, hasil agro juga tidak kena apa-apa. Secara fiskal nol. Tapi dampak ekonominya besar sekali,” kata Wahyu.
Ia menekankan bahwa aktivitas ekspor memberikan efek berantai, mulai dari devisa, penguatan ekonomi lokal, hingga kemudahan akses pembiayaan bagi pelaku usaha.
“Dengan dokumen ekspor, pengusaha punya rekam jejak bagus di perbankan. Mau kredit, bank pasti tanya, sudah ekspor ke mana, mana dokumennya,” ujarnya.
Wahyu menyebut potensi ekspor Tarakan dan Kalimantan Utara sangat besar, khususnya produk kelautan.
“Kepiting Kenari kita itu nomor satu di Singapura. Belum lagi rumput laut, ikan, dan produk lainnya. Potensinya luar biasa,” ungkapnya.
Saat ini, ekspor UMKM dari Tarakan dan Berau telah berjalan melalui kerja sama dengan Batik Air dan AirAsia.
“Ekspor sudah jalan. Dokumen dari sini, tidak terhambat. Paling satu sampai dua jam selesai,” jelasnya.
Untuk pasar terdekat seperti Tawau, Malaysia, pengiriman bahkan bisa dilakukan melalui jalur laut cepat.
“Kalau ke Tawau bisa pakai speed. Dekat. Kalau ke Singapura atau Jepang harus pakai pesawat,” tambah Wahyu.
Wahyu menegaskan pentingnya sinergi antara Bea Cukai, pemerintah daerah, dan pelaku usaha agar potensi ekspor tidak terbuang sia-sia.
“Saya sering ngobrol dengan Pak Wali Kota dan pihak provinsi. Kita punya jalur, punya produk. Sayang kalau tidak disatukan,” katanya.
Ia juga mengajak UMKM aktif mengikuti pelatihan dan pameran luar negeri yang difasilitasi pemerintah.
“PR kita itu jumlah UMKM yang ekspor masih sedikit. Makanya kita terus dorong, ayo belajar ekspor. Potensinya luar biasa,” pungkas Wahyu.(*)




