TERASKALTARA.ID, TARAKAN — Pemanfaatan pembayaran digital di Kalimantan Utara kian masif. Sepanjang 2025, transaksi Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) di provinsi perbatasan ini melonjak tajam hingga 408 persen, seiring bertambahnya jumlah pengguna dan merchant yang terus meluas di berbagai daerah.
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Provinsi Kalimantan Utara, Hasiando Ginsar Manik, mengungkapkan hingga akhir Desember 2025 jumlah pengguna QRIS di Kaltara telah menembus 131 ribu orang, tumbuh 8,1 persen secara tahunan (year on year/YoY). Capaian tersebut merupakan hasil konsistensi penguatan ekosistem pembayaran digital sejak 2023.
“Setiap tahun kami memiliki target pengguna baru, target merchant baru, termasuk volume dan nominal transaksi QRIS. Dan bisa kami sampaikan, sepanjang 2023 hingga 2025, jumlah pengguna QRIS di Kalimantan Utara terus meningkat,” ujar Hasiando.
Meski pertumbuhan pengguna mulai melambat, Bank Indonesia menilai tren tersebut masih sehat. Menurut Hasiando, perlambatan terjadi karena sebagian besar potensi awal telah tergarap.
“Memang ada sedikit perlambatan, tetapi secara jumlah tetap meningkat. Ini wajar karena potensi dari waktu ke waktu semakin mengecil. Namun pertumbuhan positif ini tetap sangat baik, apalagi didominasi pengguna baru,” jelasnya.
Berdasarkan data BI, tingkat penetrasi QRIS di Kalimantan Utara baru mencapai 25 persen dari total penduduk usia produktif. Dari sekitar 392 ribu penduduk usia di atas 17 tahun, baru 131 ribu yang telah menggunakan QRIS.
“Masih ada selisih sekitar 261 ribu penduduk usia produktif yang menjadi potensi. Tentu tidak mudah, mengingat kondisi geografis Kalimantan Utara yang terdiri dari wilayah daratan dan kepulauan yang luas dan terpisah,” ungkap Hasiando.
Tak hanya dari sisi pengguna, pertumbuhan merchant QRIS juga menunjukkan tren kuat. Hingga 2025, tercatat 112 ribu merchant telah menggunakan QRIS di Kalimantan Utara, atau tumbuh 18 persen YoY.
Sebaran merchant QRIS didominasi oleh Kota Tarakan dengan 45.070 merchant, disusul Kabupaten Nunukan sebanyak 28.017 merchant, Kabupaten Bulungan 27.136 merchant, Kabupaten Malinau 9.532 merchant, dan Kabupaten Tana Tidung 3.071 merchant.
“Kami juga melihat pertumbuhan merchant dari sisi density, yaitu perbandingan jumlah merchant dengan luas wilayah berdasarkan data BPS. Tarakan memiliki density tertinggi, kemudian Nunukan dan Bulungan. Ini menjadi dasar penentuan wilayah prioritas digitalisasi,” tambahnya.
Dari sisi transaksi, kinerja QRIS di Kalimantan Utara mencatat lonjakan sangat signifikan sepanjang 2025. Volume transaksi mencapai sekitar 20 juta transaksi, tumbuh 408 persen YoY, sementara nilai transaksi menembus Rp2,4 triliun, meningkat 266 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
“Volume mencerminkan frekuensi transaksi, sementara nominal menunjukkan nilainya. Jadi seiring bertambahnya pengguna dan merchant, baik jumlah maupun nilai transaksi QRIS meningkat sangat signifikan,” pungkas Hasiando.
Bank Indonesia Kaltara menilai capaian ini menjadi indikator kuat meningkatnya kepercayaan masyarakat dan pelaku usaha terhadap pembayaran digital, sekaligus fondasi penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi digital di wilayah perbatasan Kalimantan Utara.(*)




