Perempuan dan pangan

Sekolah Perempuan di Pulau Morotai intensif lakukan pemberdayaan perempuan dan ketahanan pangan di Pulau Morotai dengan panen perdana sayur mayur. ANTARA/Abdul Fatah

TERASKALTARA.ID, JAKARTA . 21/12 (ANTARA) – Bulan Desember selalu menghadirkan ruang perenungan kolektif bagi bangsa ini. Peringatan Hari Ibu, setiap 22 Desember, yang berdekatan dengan Hari Hak Asasi Manusia pada 10 Desember, mengingatkan kita bahwa perjuangan perempuan adalah bagian tak terpisahkan dari martabat kemanusiaan.

Momentum Hari Ibu ini seharusnya membawa kita melampaui seremoni, untuk menundukkan kepala pada peran sunyi jutaan perempuan Indonesia yang setiap hari menjaga dapur tetap menyala dan pangan keluarga tetap tersedia.

Dari pekarangan sempit di desa hingga rumah-rumah sederhana di kota, para ibu dan perempuan bekerja tanpa sorotan, baik menanam, memasak, menghemat, dan memastikan anak-anak bangsa tumbuh dengan gizi yang layak. Di tengah krisis pangan global, perubahan iklim, dan tekanan ekonomi, ketangguhan perempuan menjadi benteng pertama ketahanan bangsa.

Ketahanan pangan sejatinya bukan semata-mata persoalan teknis pertanian, melainkan menyangkut kelangsungan hidup dan masa depan bangsa. Pangan adalah hak asasi setiap manusia, dan ketahanan pangan keluarga merupakan fondasi bagi ketahanan pangan nasional.

Dalam konteks ini, peran perempuan dalam tata kelola pangan, mulai dari rumah tangga, komunitas, hingga kebijakan, menjadi sangat strategis. Sejarah dan kearifan lintas budaya telah lama menempatkan perempuan sebagai tulang punggung penyediaan pangan keluarga.

Pepatah lama yang menyebut perempuan sebagai “tiang negara” bukan sekadar ungkapan simbolik, melainkan pengakuan bahwa kemandirian pangan bangsa berakar dari peran aktif ibu dan perempuan di sektor pangan.

Pesan utamanya jelas, yaitu kemandirian pangan harus dimulai dari rumah tangga, dan perempuan adalah kunci keberhasilannya.

Indonesia dianugerahi sumber daya alam yang melimpah; tantangannya adalah memanfaatkannya secara adil, berkelanjutan, dan inklusif.

Fakta di lapangan menunjukkan bahwa ketika jutaan rumah tangga dikelola oleh perempuan tangguh yang menanam, beternak, dan mengolah pangan bernutrisi, dampaknya terasa secara nasional.

Indikasi positif pun terlihat dari peningkatan produksi pangan nasional dalam setahun terakhir, bahkan di tengah tantangan iklim ekstrem. Capaian ini tidak lahir dari satu kebijakan semata, melainkan dari gotong royong banyak pihak, termasuk kontribusi perempuan di setiap lini rantai pangan.

Lebih jauh, pelibatan aktif perempuan dalam tata kelola pangan berkontribusi langsung pada pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan, khususnya penghapusan kelaparan dan penguatan kesetaraan gender.

Pemberdayaan perempuan di sektor pangan terbukti mempercepat penanggulangan kemiskinan, meningkatkan gizi keluarga, dan memperkuat ketahanan ekonomi rumah tangga.

Dari sudut pandang nilai kultural dan religius, hal ini sejalan dengan amanah manusia sebagai pengelola bumi yang bertanggung jawab. Karena itu, menghormati dan memberdayakan perempuan dalam urusan pangan bukan sekadar strategi pembangunan, melainkan pilihan moral bagi masa depan Indonesia. Sebab ketika perempuan diberdayakan dalam pangan, sesungguhnya yang kita kuatkan adalah sebuah bangsa.

Produsen utama

Perempuan adalah produsen pangan utama dunia. Mereka terlibat langsung sebagai petani, peternak, nelayan, pekebun, hingga pelaku UMKM pangan. Secara global, kontribusi perempuan sangat signifikan. Di negara-negara berkembang, perempuan memproduksi sekitar 60–80 persen pangan dan menyumbang hampir setengah produksi pangan dunia.

Hanya saja, ironi masih terjadi. Banyak perempuan produsen pangan menghadapi keterbatasan akses terhadap lahan, permodalan, teknologi, dan pelatihan. Padahal, berbagai kajian menunjukkan bahwa jika perempuan petani memperoleh dukungan setara dengan laki-laki, produktivitas lahan mereka dapat meningkat hingga 20–30 persen, sekaligus berkontribusi menurunkan angka kelaparan global secara signifikan.

Pemberdayaan perempuan petani, dengan demikian, bukan semata isu keadilan gender, melainkan strategi cerdas untuk meningkatkan produksi pangan dan kesejahteraan keluarga, terlebih karena perempuan terbukti lebih konsisten mengalokasikan pendapatan untuk gizi dan kesehatan rumah tangga.

Di tingkat keluarga, perempuan, terutama para ibu, memegang peran sentral sebagai manajer pangan dan gizi. Merekalah yang merencanakan menu, memilih bahan pangan, mengolah makanan, dan memastikan seluruh anggota keluarga memperoleh asupan gizi seimbang.

Kualitas generasi penerus bangsa sangat ditentukan oleh pengetahuan dan kecakapan ibu dalam mengelola pangan keluarga. Berbagai pengalaman menunjukkan bahwa ketika perempuan dibekali literasi gizi dan praktik pengasuhan yang baik, angka malnutrisi dan stunting dapat ditekan secara nyata.

Perempuan juga menjadi penjaga kearifan lokal pangan, baik dari resep tradisional bergizi, teknik penyimpanan pangan untuk masa paceklik, hingga praktik pemanfaatan pekarangan, seluruhnya diwariskan lintas generasi melalui peran ibu dan nenek.

Lebih jauh, perempuan berperan sebagai penggerak komunitas dan aktor penting dalam tata kelola pangan lokal. Di banyak daerah, kelompok wanita tani, koperasi pangan, dan organisasi berbasis komunitas digerakkan oleh perempuan yang mengelola pascapanen, memasarkan produk lokal, hingga memastikan distribusi pangan lebih adil.

Partisipasi perempuan dalam organisasi semacam ini terbukti meningkatkan ketahanan pangan rumah tangga dan keberlanjutan program pangan di tingkat akar rumput. Karena itu, keterlibatan perempuan perlu diperluas hingga ruang pengambilan keputusan, baik sebagai penyuluh, wirausahawan pangan inovatif, maupun pemimpin lembaga terkait pangan.

Kehadiran suara dan perspektif perempuan di setiap tahapan tata kelola pangan akan melahirkan kebijakan yang lebih peka, inklusif, dan berdampak luas bagi komunitas.

 

Menggerakkan perempuan

Pemerintah Indonesia menyadari sepenuhnya bahwa perempuan adalah garda terdepan ketahanan pangan. Kementerian Pertanian menaruh perhatian besar pada pemberdayaan perempuan di sektor agrifood, dengan keyakinan bahwa target swasembada dan ketahanan pangan nasional akan lebih cepat tercapai ketika perempuan dilibatkan secara aktif.

Salah satu wujud konkret kebijakan ini adalah Program Pekarangan Pangan Lestari atau Pekarangan Pangan Bergizi, yang mendorong pemanfaatan pekarangan rumah tangga untuk menanam sayur, buah, cabai, serta memelihara ayam atau ikan guna memenuhi kebutuhan gizi keluarga.

Program yang tampak sederhana ini terbukti membawa dampak nyata, yaitu mengurangi pengeluaran rumah tangga, meningkatkan asupan gizi, dan memperkuat ekonomi keluarga. Seperti ditekankan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, menanam kebutuhan pangan sehari-hari di pekarangan rumah, bukan hanya soal pangan, tetapi juga strategi menambah pendapatan efektif keluarga melalui penghematan belanja.

Gerakan pekarangan pangan ini telah berkembang menjadi gerakan sosial-ekonomi yang memperkuat posisi perempuan dalam rumah tangga dan komunitas. Dampaknya tidak berhenti pada penghematan dan gizi, tetapi juga berkontribusi menekan kemiskinan dan stunting, serta membangun keluarga yang lebih sehat dan sejahtera.

Untuk memastikan keberlanjutan, Kementerian Pertanian menyediakan dukungan menyeluruh berupa benih, bibit ternak, teknologi, pelatihan, dan pendampingan, sekaligus membangun kolaborasi lintas sektor.

Bacaan Lainnya

Sinergi dengan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia, serta organisasi kemasyarakatan dan keagamaan, memperluas jangkauan gerakan “pangan dari rumah”.

Dengan jaringan perempuan yang kuat hingga ke akar rumput, inisiatif ini menunjukkan bahwa ketika perempuan diberdayakan, ketahanan pangan keluarga menguat dan kontribusinya terhadap ketahanan pangan nasional menjadi semakin nyata.

*) Kuntoro Boga Andri adalah Direktur Hilirsasi Hasil Perkebunan, Kementerian Pertanian

(T.M026//H-DDN/H-DDN) 21-12-2025 08:45:24 – Kesra – Surabaya

Oleh Kuntoro Boga Andri*)
Editor : Dadan Ramdani

Pos terkait