TERASKALTARA.ID, TARAKAN — Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) masih menjadi ancaman di wilayah kerja Balai Wilayah Sungai (BWS) Kalimantan V Tanjung Selor. Tak hanya di sejumlah kawasan Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara, ancaman kebakaran juga meningkat di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, yang sempat mencatat hampir 400 titik panas dalam satu periode.
Mengantisipasi kebakaran meluas, BWS Kalimantan V memperkuat kesiapsiagaan dengan menyiagakan personel dan armada pendukung. Total enam unit mobil water tank disiapkan untuk mendukung penanganan Karhutla, masing-masing empat unit di wilayah Kaltara dan dua unit di Berau.
Kepala BWS Kalimantan V Tanjung Selor, Mustafa mengatakan, penanganan Karhutla dilakukan secara terpadu bersama BPBD, pemadam kebakaran, TNI-Polri hingga masyarakat.
“Di Kementerian PU ada Satgas Kekeringan untuk menghadapi kondisi akibat El Nino. BWS menjadi ketua di daerah, kemudian wakilnya dari balai yang menangani sarana dan prasarana. Kami bergabung dengan BPBD kabupaten, Damkar, TNI-Polri, termasuk masyarakat,” ujar Mustafa.
Menurutnya, respons cepat menjadi kunci agar titik api tidak berkembang menjadi kebakaran yang lebih besar. Informasi mengenai kemunculan api dapat diterima dari kepolisian, Babinsa maupun masyarakat, kemudian langsung diteruskan kepada tim di lapangan.
“Begitu informasi masuk, teman-teman langsung turun. Kami bawa kendaraan bersama BPBD dan Damkar, kemudian langsung ke lokasi untuk melakukan pemadaman. Jadi tidak menunggu sampai api semakin meluas,” katanya.
Di Kaltara, beberapa kejadian Karhutla yang ditangani dalam beberapa waktu terakhir berada di wilayah Bulungan. Sejumlah lokasi yang disebut antara lain Desa Apung, Salimbatu, Mangkupadi dan Tanah Kuning.
Kondisi menjadi perhatian karena kebakaran terjadi di kawasan perkebunan sawit, termasuk lahan gambut yang berpotensi membuat api lebih sulit dikendalikan.
“Di Bulungan beberapa kali ada kejadian di Apung, Salimbatu, Mangkupadi dan Tanah Kuning. Kebanyakan memang di daerah kebun sawit, ada juga lahan gambut,” jelasnya.
Meski demikian, Mustafa menyebut sejumlah titik api berhasil dikendalikan berkat kolaborasi lintas instansi dan masyarakat.
“Alhamdulillah dengan kolaborasi BWS, BPBD, Damkar, TNI-Polri dan masyarakat, titik-titik yang muncul bisa kami tangani dan dipadamkan,” lanjutnya.
Untuk memperkuat penanganan, BWS menyiagakan empat unit mobil water tank yang dapat dikerahkan ke Bulungan, Tana Tidung maupun Malinau. Armada tersebut akan kembali diisi setelah digunakan sehingga dapat segera bergerak apabila menerima laporan kebakaran baru.
“Kami siapkan empat unit mobil water tank untuk mendukung Bulungan, Tana Tidung dan Malinau. Kendaraan itu kami siagakan. Setelah kembali dari lokasi, langsung diisi lagi sehingga ketika ada laporan baru, bisa bergerak kembali,” ungkap Mustafa.
Selain memadamkan titik api, tim di lapangan juga memprioritaskan perlindungan terhadap permukiman warga. Arah penyebaran api dipantau untuk memastikan kebakaran tidak merambat ke kawasan tempat tinggal.
“Pemukiman kami amankan lebih dulu. Ketika ada spot kebakaran, kami lihat arah penyebarannya dan bagaimana membatasi supaya tidak masuk ke pemukiman,” tuturnya.
BWS juga memanfaatkan kanal blok yang terdapat di sejumlah kawasan lahan gambut Bulungan. Kanal tersebut berfungsi sebagai pembatas hamparan sekaligus membantu memperlambat penyebaran api.
“Di beberapa lokasi Bulungan ada kanal blok. Lebarnya sekitar lima meter dan ada airnya. Itu dibuat untuk membatasi hamparan, sehingga ketika ada kebakaran, api tidak mudah melewati batas tersebut,” katanya.
Luas kebakaran yang ditangani bervariasi, mulai dari sekitar dua hektare, empat hektare hingga mencapai 10 hektare. Dalam kondisi tertentu, proses pemadaman bahkan harus dilakukan hingga tengah malam.
“Kalau apinya sudah meluas, teman-teman bisa bekerja sampai tengah malam. Ada yang dua hektare, empat hektare, bahkan ada yang sampai 10 hektare,” ujarnya.
Ancaman Karhutla lebih intens terjadi di wilayah Berau, Kalimantan Timur. Berdasarkan informasi yang diterima BWS dari BMKG, jumlah titik panas di wilayah tersebut pernah mencapai 200 hingga hampir 400 hotspot dalam satu periode.
“Untuk wilayah Kalimantan Timur, yang paling banyak titik hotspot itu di Berau. Pernah 200-an, 300-an, bahkan hampir 400 titik panas dalam satu periode. Di sana memang kondisinya cukup panas dan sudah lama tidak mendapatkan hujan,” ungkap Mustafa.
BWS Kalimantan V menyiapkan sekitar 15 personel untuk mendukung penanganan di Berau. Mereka bekerja bersama BPBD, Damkar, TNI-Polri dan masyarakat ketika terdapat laporan titik api.
Dua unit mobil water tank juga disiagakan untuk memperkuat suplai air bagi kendaraan pemadam. Armada BWS akan mengisi kebutuhan air ketika persediaan kendaraan BPBD maupun Damkar mulai berkurang.
“Kami operasikan dua mobil water tank. BPBD punya dua unit, Damkar juga punya dua unit, lalu kami mendukung airnya. Selang mereka bisa mencapai 300 sampai 500 meter, sehingga ketika air di kendaraan pemadam kurang, water tank kami langsung menyuplai,” jelasnya.
Mustafa mengatakan kondisi cuaca dan panjangnya periode tanpa hujan menjadi tantangan utama dalam penanganan Karhutla di Berau. Pemadaman juga dapat berlangsung berjam-jam apabila api telanjur meluas.
“Kerja teman-teman di lapangan memang berat. Ada yang mulai jam 10 pagi, tetapi karena apinya meluas, pemadaman baru selesai malam,” katanya.
Untuk mempercepat respons, informasi titik panas dari BMKG diteruskan kepada tim di lapangan. Polsek, Koramil hingga masyarakat ikut terhubung dalam jaringan pelaporan tersebut.
“BMKG memberikan informasi titik panas, lalu kami teruskan ke grup lapangan. Titik hotspot di wilayah tertentu langsung kami sampaikan agar diwaspadai,” kata Mustafa.
Menurutnya, sistem tersebut memungkinkan personel dan armada disiapkan lebih awal sebelum menerima laporan kebakaran secara langsung.
“Jadi Polsek, Koramil dan masyarakat sudah terhubung. Begitu masyarakat menemukan api, laporan bisa cepat diteruskan,” tambahnya.
Mustafa memastikan perkembangan penanganan Karhutla dilaporkan setiap hari kepada Satgas Kekeringan Kementerian PU. Dukungan operasional, mulai dari BBM hingga kebutuhan kendaraan, juga terus disiapkan agar armada dapat bergerak sewaktu-waktu.
“Laporan kejadian kami sampaikan setiap hari kepada pimpinan di Satgas Kementerian PU. Operasionalnya memang tidak sedikit, terutama BBM dan kebutuhan kendaraan,” pungkasnya.






