TERASKALTARA.ID, TARAKAN — Kabut asap kembali menyelimuti Tarakan setelah kondisi udara sempat membaik usai hujan. Penurunan kualitas udara terlihat dari kenaikan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU). Berdasarkan pengukuran, nilai ISPU telah mencapai 101 atau masuk kategori tidak sehat, dengan konsentrasi partikulat PM2,5 berada di atas baku mutu.
Kepala Bidang Pengendalian Pencemaran, Kerusakan Lingkungan Hidup, dan Pengelolaan Keanekaragaman Hayati DLH Kota Tarakan, Chaizir Zain mengatakan perkembangan ISPU terus dipantau. Sejak subuh, indeks tercatat mengalami kenaikan sekitar tiga hingga lima poin setiap jam.
“Dari subuh sampai sekarang, ISPU masih mengalami kenaikan sekitar tiga sampai lima poin setiap jam. Kalau trennya terus seperti ini dan tidak ada penurunan, angkanya bisa semakin tinggi,” ujar Chaizir.
Menurutnya, konsentrasi PM2,5 menjadi salah satu parameter yang memengaruhi nilai ISPU. Hasil pengukuran menunjukkan konsentrasi PM2,5 di Tarakan telah berada di atas baku mutu.
“PM2,5 yang terukur sudah berada di atas baku mutu. Setelah dihitung dalam indeks, nilainya berada di 101 sehingga masuk kategori tidak sehat,” jelasnya.
Chaizir mengatakan kondisi kualitas udara masih berpotensi berubah. Selain adanya titik api di sekitar Tarakan, asap dari luar wilayah juga dapat memengaruhi konsentrasi partikulat di udara.
“Kondisinya masih bisa meningkat karena titik api di sekitar Tarakan masih ada. Selain itu, asap dari luar juga masuk karena arah angin bergerak ke utara,” katanya.
DLH mengingatkan masyarakat untuk mengurangi paparan udara luar ketika kualitas udara berada pada kategori tidak sehat. Penggunaan masker dianjurkan bagi warga yang harus beraktivitas di luar ruangan, terutama kelompok rentan seperti anak-anak, balita, ibu hamil dan lanjut usia.
Imbauan tersebut juga mengacu pada surat edaran Wali Kota Tarakan terkait penanganan kondisi kabut asap berdasarkan perkembangan ISPU. Langkah perlindungan diperlukan karena kualitas udara dapat berubah mengikuti konsentrasi partikulat, kondisi cuaca dan pergerakan asap.
Chaizir menyebut, kondisi ISPU Tarakan sebelumnya sempat berada di kisaran 50 hingga 60 ketika hujan turun beberapa hari lalu. Namun, untuk menurunkan indeks hingga di bawah 50 dibutuhkan dukungan hujan yang cukup serta pengurangan sumber emisi.
“Indeks PM2,5 di Tarakan biasanya berada sekitar 50 sampai 60. Untuk turun di bawah 50 perlu dukungan hujan yang cukup dan berlangsung terus, ditambah pengurangan emisi dari berbagai sumber,” beber Chaizir.
Keterangan DLH tersebut sejalan dengan pemantauan BMKG Tarakan terhadap kondisi atmosfer dan arah angin. Kepala Stasiun Meteorologi Kelas II Juwata Tarakan, Muhammad Sulam Khilmi mengatakan, Tarakan sebelumnya sempat mengalami kondisi udara yang lebih bersih setelah hujan. Jarak pandang bahkan sempat mencapai sekitar delapan kilometer.
Namun, aktivitas hotspot di sejumlah wilayah selatan Kalimantan masih tinggi. Angin dominan yang bergerak dari selatan ke utara membuat asap dari wilayah tersebut berpotensi terbawa menuju Kaltara, termasuk Tarakan.
“Tarakan dan beberapa wilayah Kaltara kemarin memang sudah hujan dan kondisinya sempat cukup bersih, jarak pandang mencapai 8 kilometer. Tetapi di Kalteng, Kaltim dan Kalsel hotspot masih tinggi. Angin dominan bergerak dari selatan ke utara, sehingga asap dari wilayah tersebut bisa terbawa ke Kaltara, termasuk Tarakan,” ujar Sulam.
Menurut Sulam, kondisi karhutla di Bulungan tidak menjadi sumber utama asap yang masuk ke Tarakan. Selain tidak signifikan, arah angin juga membuat asap dari wilayah tersebut tidak bergerak langsung menuju Tarakan.
“Memang di Bulungan sampai kemarin ada peristiwa karhutla, tetapi tidak signifikan menyumbang asap. Arah anginnya juga lebih ke utara, bukan ke timur menuju Tarakan,” katanya.
Perubahan konsentrasi asap di Tarakan juga dipengaruhi kondisi angin sepanjang hari. Pada pagi hari, angin cenderung lebih tenang sehingga partikel asap dapat terkonsentrasi di lapisan udara dekat permukaan. Ketika angin menguat, asap kemudian dapat terbawa mengikuti arah pergerakannya.
“Pagi hari anginnya cenderung kalem, sehingga asap lebih terkonsentrasi. Setelah angin mulai menguat, asap ikut terbawa dan konsentrasinya bisa berubah. Kalau angin datang lagi membawa asap, kondisi bisa kembali pekat,” jelas Sulam.
Sulam menyebut potensi asap kiriman masih berkaitan dengan tingginya hotspot di Kaltim, Kalteng dan Kalsel. Ketiga wilayah tersebut memasuki puncak kemarau pada September, sehingga kondisi panas dan minim hujan masih berpotensi berlangsung hingga akhir bulan.
“Di Kaltara jumlah hotspot kemarin sekitar 30, sementara di Kaltim, Kalsel dan Kalteng bisa mencapai ratusan. Puncak kemarau di wilayah tersebut berlangsung September, jadi sampai akhir September masih diprediksi panas dan hujan belum banyak,” pungkas Sulam.






