Momentum Ekonomi di Balik Kunjungan PM Thailand ke Indonesia

Presiden Prabowo Subianto (kanan) saling memberi salam dengan Perdana Menteri (PM) Thailand Anutin Charnvirakul saat kunjungan kenegaraan di Istana Merdeka, Jakarta, Senin (3/8/2026). Kunjungan kenegaraan Anutin Charnvirakul di Istana Merdeka Jakarta tersebut untuk meluncurkan Peta Jalan Kemitraan Strategis Indonesia Thailand 2026 2030 yang terfokus pada tiga bidang utama yaitu keamanan, pembangunan ekonomi, dan sosial-budaya. ANTARA FOTO/Galih Pradipta/sgd/wsj/pri.

TERASKALTARA.ID, JAKARTA.  05/8 (ANTARA) –  Perdana Menteri Thailand Anutin Charnvirakul yang tiba di Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma pada Senin sore, 3 Agustus 2026, mencatatkan sejarah sebagai kunjungan resmi pertama seorang PM Thailand ke Indonesia dalam 15 tahun terakhir, sekaligus menjadi lawatan luar negeri perdana Anutin sejak dilantik sebagai PM ke-32 pada September 2025.

Di balik seremoni penyambutan yang berlangsung khidmat di Istana Merdeka, lengkap dengan pasukan berkuda, Tari Sekar Sahitya Ayu (Jaipongan klasik asal Jawa Barat), dan ratusan pelajar yang mengibarkan bendera kedua negara, tersimpan sejumlah angka dan kesepakatan penting.

Pertemuan ini menggeser fokus hubungan bilateral Indonesia-Thailand dari sekadar seremoni diplomasi menuju substansi konkret.

Poin paling menonjol dari pertemuan Presiden Prabowo Subianto dan PM Anutin adalah penetapan target perdagangan bilateral senilai 20 miliar dolar AS pada 2030, yang dituangkan dalam Peta Jalan Kemitraan Strategis Indonesia-Thailand 2026–2030.

Sekilas, angka ini tampak seperti target formalitas lazim dalam pertemuan kenegaraan. Namun, jika ditinjau dari data perdagangan lima tahun terakhir, target tersebut sejatinya sangat realistis dan selaras dengan tren yang sedang berjalan.

Total nilai perdagangan kedua negara tercatat sebesar 16,23 miliar dolar AS pada 2021, melonjak ke 19,19 miliar dolar AS pada 2022, lalu stabil di kisaran 17,5 miliar dolar AS pada 2023 dan 2024. Pada 2025, nilai perdagangan tumbuh 1,35 persen secara tahunan (year-on-year) menjadi 17,67 miliar dolar AS.

Data Kementerian Perdagangan mencatat bahwa akumulasi perdagangan sepanjang semester I/2026 telah menembus 9,80 miliar dolar AS. Jika tren ini konsisten hingga akhir tahun, nilai perdagangan RI-Thailand pada 2026 diproyeksikan mendekati 19,6 miliar dolar AS, hampir melampaui target yang dipatok untuk 2030.

Dengan demikian, peta jalan yang disepakati kedua pemimpin berfungsi sebagai kerangka regulasi untuk menopang momentum pertumbuhan yang telah terbentuk sejak awal tahun.

Penguatan hubungan ini juga tecermin dari perbaikan struktur neraca perdagangan Indonesia. Berdasarkan data resmi Kementerian Perdagangan dan Badan Pusat Statistik (BPS), neraca perdagangan Indonesia terhadap Thailand konsisten mengalami defisit sejak 2011 akibat tingginya impor produk otomotif dan mesin, dengan rekor defisit terbesar mencapai 3,05 miliar dolar AS pada 2023.

Namun, angka defisit tersebut menyusut signifikan menjadi 2,02 miliar dolar AS pada 2024, dan tersisa 140,6 juta dolar AS pada 2025. Penurunan ini didorong oleh lonjakan ekspor Indonesia sebesar 13,73 persen secara tahunan. Ekspor Indonesia yang didominasi minyak, batu bara, produk perikanan, dan kertas tumbuh lebih cepat dibandingkan kenaikan impor beras, mesin, serta suku cadang kendaraan dari Thailand.

Untuk merawat tren positif ini, Prabowo dan Anutin menyepakati pembentukan Komisi Dagang Bersama. Komisi ini bertugas memperluas akses pasar sekaligus memangkas berbagai hambatan perdagangan antarnegara.

Peningkatan kerja sama ekonomi tersebut diimbangi dengan penguatan sumber daya manusia.

Indonesia dan Thailand menandatangani nota kesepahaman (MoU) di bidang pendidikan yang diteken oleh Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti serta Menteri Pendidikan Thailand Prasert Jantararuangtong. Kerja sama ini difokuskan pada pertukaran pengetahuan dan mahasiswa, sebagai investasi jangka panjang untuk menopang pertumbuhan ekonomi masa depan.

Di sektor konektivitas, kunjungan Anutin menghasilkan langkah konkret berupa pembukaan rute penerbangan langsung baru: Jakarta–Bangkok dan Denpasar–Phuket.

Presiden Prabowo menyambut positif rute baru ini sebagai sarana mempererat hubungan antarmasyarakat (people-to-people contact). PM Anutin menambahkan bahwa penambahan rute tersebut menyasar segmen wisata kesehatan, kegiatan MICE (Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition), dan pariwisata kapal pesiar, ceruk pasar berdaya saing tinggi dibanding wisata massal konvensional.

 

 

Dukungan konektivitas juga datang dari sektor swasta melalui penandatanganan MoU pariwisata antara Tourism Authority of Thailand dan maskapai TransNusa.

Kombinasi populasi kedua negara yang mencapai sekitar 350 juta jiwa menjadi argumen kuat bagi Anutin untuk mendorong investasi lintas batas, mengingat besarnya potensi pasar konsumen dengan pertumbuhan kelas menengah yang stabil.

Kemitraan ekonomi Indonesia-Thailand memiliki akar historis yang kuat. Sebagai pendiri ASEAN, kedua negara telah menjalin hubungan diplomatik sejak 7 Maret 1950. Status hubungan yang ditingkatkan menjadi Kemitraan Strategis pada 2025 kini dioperasionalkan melalui Peta Jalan 2026–2030, yang mencakup sektor prioritas seperti ketahanan pangan, transisi energi, ekonomi digital, hingga industri halal.

Pendekatan komprehensif ini menempatkan kerja sama ekonomi beriringan dengan pilar keamanan dan sosial-budaya.

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, penguatan kemitraan dua kekuatan ekonomi terbesar di Asia Tenggara ini memberikan sinyal positif bagi stabilitas kawasan.

Prabowo menegaskan pentingnya kunjungan ini bagi penataan peran strategis kedua negara pendiri ASEAN. Sementara itu, Anutin menekankan tanggung jawab bersama kedua negara sebagai pilar utama untuk mendorong kemajuan kawasan.

Selain ekonomi, kedua negara sepakat mempererat kerja sama keamanan, khususnya dalam penanggulangan kejahatan lintas negara (transnational crime) dan penanganan korban penipuan daring (online scam) di kawasan perbatasan. Presiden Prabowo secara khusus mengapresiasi pemerintah Thailand yang telah memfasilitasi pemulangan hampir 1.000 warga negara Indonesia dari pusat-pusat penipuan tersebut.

Dengan hadirnya Komisi Dagang Bersama, peta jalan lima tahun, dan perluasan rute konektivitas, fondasi kerja sama Indonesia-Thailand kini terbangun lebih terstruktur.

Jika kinerja perdagangan semester pertama 2026 dapat dipertahankan, target 20 miliar dolar AS pada 2030 bukan lagi sekadar angka di atas kertas, melainkan proyeksi terukur yang realistis untuk dicapai di akhir dekade.

 

(T.A071//H-DDN/H-DDN) 05-08-2026 12:10:26 – Politik – Jakarta

Oleh Aditya Ramadhan
Editor : Dadan Ramdani

Pos terkait