TERASKALTARA.ID, NUNUKAN – Upaya perlindungan kawasan perbatasan Indonesia–Malaysia kembali membuahkan hasil. Tim Smart Patrol Balai Taman Nasional Kayan Mentarang (TNKM) berhasil merekam keberadaan satwa dilindungi trenggiling (Manis javanica) saat melakukan patroli malam di Resort Krayan, wilayah pengelolaan SPTN Wilayah I. Temuan ini menjadi indikator kuat bahwa ekosistem hutan di kawasan konservasi tersebut masih terjaga dan mampu mendukung kehidupan satwa liar langka.
Keberadaan trenggiling, satwa yang dikenal sebagai salah satu spesies paling rentan perdagangan ilegal dunia, dokumentasikan melalui kegiatan monitoring rutin Smart Patrol. Patroli ini melibatkan petugas TNKM, masyarakat adat, dan pemangku kepentingan setempat untuk memantau ancaman kawasan sekaligus mengidentifikasi potensi keanekaragaman hayati.
Kepala Balai Taman Nasional Kayan Mentarang, Seno Pramudito, S.Hut., M.E., menyampaikan apresiasi atas temuan tersebut dan menegaskan pentingnya menjaga keberlanjutan konservasi di wilayah perbatasan.
“Dokumentasi keberadaan trenggiling ini sangat berharga bagi kami. Banyaknya satwa trenggiling yang dijumpai ini menunjukkan bahwa kondisi habitat satwa ini di Taman Nasional Kayan Mentarang masih terjaga dengan baik dan mampu mendukung kehidupan satwa-satwa kunci yang dilindungi,” ujarnya dalam keterangan resmi, Senin (8/12/2025).
Ia juga memberikan penghargaan kepada para pihak yang turut menjaga kawasan.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada petugas yang bertugas di lapangan, masyarakat adat dan stakeholder terkait yang masih berusaha menjaga kelestarian Kawasan TNKM dengan baik sehingga rumah atau habitat bagi satwa-satwa liar dan ekosistem TNKM ini dapat terjaga dengan baik,” tambahnya.
Kepala SPTN Wilayah I Balai TNKM, Hery Gunawan, turut menjelaskan proses kerja tim di lapangan. SPTN Wilayah I membawahi kawasan konservasi seluas 272.930,01 hektare yang berada di Krayan dan Lumbis, tepat di garis perbatasan Kabupaten Nunukan.
SMART PATROL (Spatial Monitoring and Reporting Tools) merupakan sistem pengelolaan data patroli yang memungkinkan pengumpulan, penyimpanan, hingga analisis informasi spasial secara terorganisir. Kegiatan ini bertujuan untuk, melakukan patroli kawasan konservasi dengan output luasan patroli, mengetahui potensi ancaman tindak pidana kehutanan, dan mengidentifikasi potensi keanekaragaman hayati dan fitur alami sepanjang jalur patroli.
“Tim Resort Krayan pada SPTN Wilayah I yang bertugas di Kecamatan Krayan, berhasil mengabadikan momen langka ini. Keberadaan satwa liar dilindungi ini kami konfirmasi saat tim melakukan kegiatan Smart Patrol pada malam hari oleh Polhut Balai TNKM,” jelas Hery.
Ia memastikan bahwa temuan tersebut menjadi dorongan bagi tim untuk memperkuat pengawasan dan kolaborasi lintas sektor.
“Penemuan ini memotivasi kami untuk semakin gencar melakukan inventarisasi potensi kawasan. Kolaborasi dengan para stakeholder, masyarakat adat dan aparat setempat seperti TNI Perbatasan juga terus kami perkuat untuk menjaga kawasan TNKM yang berada di wilayah perbatasan Indonesia–Malaysia,” pungkasnya.
Temuan trenggiling ini mempertegas posisi Taman Nasional Kayan Mentarang sebagai benteng terakhir keanekaragaman hayati Kalimantan, sekaligus kawasan strategis konservasi yang diakui secara nasional maupun internasional. Keberhasilan Smart Patrol menunjukkan bahwa pengelolaan kolaboratif dengan masyarakat adat dan aparat setempat menjadi kunci efektivitas perlindungan satwa liar di perbatasan.




