Identitas Misterius, Polisi Kesulitan Ungkap Pria Tergantung di Pondok Kebun Kampung Enam

Personel Polres Tarakan melakukan evakuasi korban yang diduga meninggal dunia, Minggu (7/12/2025).(Foto: Polres Tarakan).

TERASKALTARA.ID, TARAKAN – Misteri penemuan jasad seorang pria yang tergantung di sebuah pondok kebun wilayah Tarakan Timur hingga kini belum terpecahkan. Meski teknologi identifikasi modern telah dikerahkan, termasuk alat biometrik MAMBIS milik INAFIS, polisi masih belum menemukan kecocokan identitas korban di database kependudukan.

Korban ditemukan dalam kondisi membusuk di sebuah pondok berukuran 3 x 4 meter tanpa dinding di Gang Latimojong 2, RT 15, Kelurahan Kampung Enam, Minggu (7/12/2025) sekitar pukul 09.25 WITA. Lokasi yang jauh dari permukiman membuat penyelidikan terhambat, terutama dalam pencarian saksi maupun rekam jejak keberadaan korban sebelum meninggal.

Kapolres Tarakan AKBP Erwin Syaputra Manik melalui Kasat Reskrim AKP Ridho Pandu Abdillah menjelaskan bahwa dugaan awal mengarah pada tindakan gantung diri. Laporan warga diterima pada Minggu pagi, dan tim gabungan Satreskrim, Identifikasi, INAFIS, serta Polsek Tarakan Timur langsung diterjunkan ke TKP.

“Setiba di TKP, tim menemukan seorang pria memakai kaos hitam dan celana pendek biru dalam keadaan tergantung di gelagar atap pondok. Kondisi tubuh sudah membusuk, berbau, serta terdapat belatung pada bagian wajah dan leher,” ujar Ridho, Senin (8/12/2025).

Polisi juga menemukan sejumlah barang yang diduga milik korban, antara lain satu gulungan tali nilon biru, jaket krem, sebilah parang bergagang karet, sebotol air mineral merek Regeneral, telepon genggam Realme warna hijau, dan uang tunai Rp94 ribu.

“Pada leher korban terdapat tali nilon dengan simpul hidup, yang dapat dikencangkan dan dikendurkan. Ini menguatkan dugaan korban menggantung diri sendiri,” jelasnya.

Korban kemudian dievakuasi menuju RSUD Tarakan untuk pemeriksaan luar. Dokter forensik memperkirakan korban telah meninggal 7–8 hari sebelum ditemukan. Luka lecet berbentuk V selebar 30 sentimeter tampak jelas pada leher, khas jeratan tali nilon. Selain itu, lebam pada ujung jari tangan dan kaki turut memperkuat dugaan kematian akibat gantung diri. Tidak ditemukan tanda kekerasan lainnya.

Namun, upaya identifikasi korban menjadi kendala terbesar dalam penyelidikan. Penggunaan alat MAMBIS untuk mencocokkan sidik jari dan iris mata korban dengan database nasional tidak menghasilkan kecocokan.

“Identitas korban belum ditemukan. Pemeriksaan MAMBIS tidak menemukan kecocokan sidik jari di database. Saat ini kami masih melakukan penyelidikan,” kata Ridho.

Polres Tarakan kini mengimbau masyarakat yang merasa kehilangan anggota keluarga atau kerabat untuk segera menghubungi pihak kepolisian.

“Kami berharap masyarakat yang merasa kehilangan kerabat segera menghubungi pihak kepolisian. Ini penting agar proses identifikasi bisa dipercepat,” pungkasnya.(Rz)

Pos terkait