TERASKALTARA.ID, MALINAU — Sejumlah tumpukan besi Bailey ditemukan di sepanjang Jalan Trans Nasional Long Semamu, Kecamatan Mentarang Baru, Kabupaten Malinau. Material konstruksi tersebut tampak berada di pinggir jalan, lereng gunung hingga di dalam sungai.
Tumpukan material tersebut ditemukan dalam jumlah cukup banyak. Kondisinya membuat warga mempertanyakan peruntukan besi-besi tersebut, terlebih masih terdapat sejumlah rencana pembangunan jembatan di kawasan tersebut yang disebut belum terealisasi.
Warga Kecamatan Mentarang Hulu, Ahoeng Lahai mengatakan, dirinya mengetahui keberadaan material tersebut ketika masuk ke kawasan hutan untuk berburu.
Menurutnya, di sejumlah titik ditemukan rangka besi yang diduga merupakan bagian dari konstruksi jembatan Bailey. Tidak hanya rangka utama, warga juga menemukan sejumlah komponen pendukung seperti baut dan pen jembatan.
“Namanya pemburu kan jalannya masuk dalam hutan dan melintasi gunung. Ketemu beberapa rangka besi. Kita pikir itu kelebihan dari pekerjaan jembatan,” ujarnya.
Ahoeng menyebut, komponen yang ditemukan cukup lengkap. Bahkan, berdasarkan pengamatannya, material tersebut memungkinkan untuk digunakan membangun beberapa unit jembatan.
“Kalau dari temuan itu apakah bisa dijadikan jembatan? Bisa, sangat bisa. Untuk tiga jembatan karena temukannya banyak sekali,” katanya.
Berdasarkan informasi yang diterima masyarakat, terdapat rencana pembangunan sembilan jembatan pada jalur dari Melasuk Besar hingga Genisa Semamu.
Dari sembilan rencana tersebut, tujuh jembatan disebut telah terealisasi. Namun, satu di antaranya disebut tidak pernah digunakan karena mengalami kerusakan hingga akhirnya ambruk.
Sementara dua titik lainnya hingga kini masih dipertanyakan karena belum terealisasi. Lokasi yang disebut menjadi rencana pembangunan berikutnya antara lain Sungai Kupung Besar, Sungai Kupung Kecil dan Sungai Buak.
Ahoeng juga menyoroti salah satu jembatan di kawasan Belalau RT 2, Desa Harapan Maju. Menurutnya, jembatan tersebut pernah dibangun tetapi tidak pernah digunakan karena tidak memiliki landasan atau abutment yang memadai.
“Itu dibangun, kenapa disebut dibangun tapi tidak pernah digunakan sama sekali? Karena landasannya tidak ada. Jembatan itu dibangun dan diletakkan hanya di atas tanah. Tidak ada landasan, tidak ada abutmennya,” ungkapnya.
Kondisi tersebut kemudian memunculkan dugaan bahwa pekerjaan jembatan hanya dilakukan untuk memenuhi kebutuhan dokumentasi dan pelaporan.
“Diduga hanya dibuat asal-asalan untuk laporan, untuk dokumentasi mungkin. Hingga pencairan itu ada,” ujarnya.
Keberadaan material Bailey tidak hanya ditemukan di kawasan daratan. Menurut Ahoeng, sebagian besi bahkan ditemukan di dalam sungai, salah satunya di Sungai Sebeliwan.
Ia mengatakan, berdasarkan informasi yang diterima masyarakat, material tersebut sebelumnya disimpan karena ada rencana kunjungan kepala balai untuk melakukan pemeriksaan pekerjaan.
“Menurut info ada kunjungan dari kepala balai untuk pemeriksaan jembatan, untuk pemeriksaan pekerjaan. Mereka simpan dulu biar dirapikan dulu,” katanya.
Namun, hingga kini material tersebut masih berada di kawasan hutan dan sungai.
Ahoeng menilai material yang dibiarkan terlalu lama berpotensi sulit untuk dikumpulkan kembali, terutama komponen kecil seperti baut dan pen jembatan.
“Kalau untuk diambil kembali, saya rasa tidak mungkin lagi untuk diambil kembali. Karena seperti baut dan pen jembatan itu tidak bisa didapat kembali,” ujarnya.
Selain persoalan material yang terbengkalai, warga juga menilai keberadaan besi tersebut membahayakan masyarakat yang beraktivitas di kawasan hutan.
Jalur tersebut masih digunakan masyarakat untuk berburu sehingga tumpukan besi yang berserakan dapat menjadi ancaman keselamatan.
“Ya sangat mengganggu, karena kalau tidak diambil kembali besi itu ada jalur orang untuk berburu. Bukan hanya luka saja pada saat jatuh di situ, mungkin kalau telak jatuh di situ bisa mati,” tegasnya.
Menanggapi laporan mengenai keberadaan tumpukan besi Bailey tersebut, Kepala Seksi Pembangunan Jalan dan Jembatan BPJN Kaltara, Dani Wiranto, mengatakan pihaknya akan melakukan pengecekan langsung ke lapangan.
Pengecekan dilakukan berdasarkan titik koordinat yang disampaikan terkait lokasi temuan material tersebut.
“Saya mau ke lapangan dulu cek lokasi sesuai koordinat yang disampaikan,” kata Dani melalui pesan singkat, Senin (14/9/2026).
Pengecekan tersebut diharapkan dapat memastikan status material besi Bailey, titik keberadaannya, serta keterkaitannya dengan rencana maupun pekerjaan pembangunan jembatan di jalur Trans Nasional Long Semamu.






