Disclaimer: Tulisan ini tidak ditujukan kepada pihak mana pun, melainkan sebagai pengingat bagi kita semua menjelang pemilihan Ketua RT serentak.
Beberapa minggu ke depan, masyarakat akan melaksanakan pemilihan Ketua RT secara serentak di sejumlah wilayah. Momentum ini menjadi bagian dari demokrasi dan tingkat yang paling dekat dengan masyarakat.
Namun, realitas di lapangan sering menunjukkan hal yang berbeda.
Menjelang pemilihan, suasana lingkungan mulai berubah. Di pos siskamling, warung kopi, hingga pertemuan warga, perbincangan tidak lagi sekadar soal keseharian, melainkan mulai dipenuhi dengan pembahasan calon-calon yang akan bertarung. Program kerja, kekuatan dukungan, hingga prediksi kemenangan menjadi topik utama .
Dinamika ini memang wajar dalam sebuah kompetisi. Namun, yang menjadi persoalan adalah ketika perbedaan pilihan mulai berkembang menjadi ketegangan.
Fenomena “musuh musiman” pun muncul. Warga yang sebelumnya akrab bisa tiba-tiba berjarak hanya karena perbedaan dukungan. Komunikasi menjadi dingin, bahkan tidak jarang muncul gesekan yang tidak perlu dilakukan karena dapat merugikan semua .
Situasi ini diperparah dengan mulai munculnya kampanye negatif, baik secara terbuka maupun terselubung. Isu-isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan beredar dari satu kelompok ke kelompok lain. Tanpa disadari, hubungan sosial yang selama ini terjalin perlahan terkikis.
Jika ditelusuri, kondisi ini bukan muncul tanpa sebab. Selain semangat kompetisi, ada pula kepentingan-kepentingan tertentu yang ikut bermain, baik dalam skala kecil maupun lebih luas. Tarik-menarik dukungan, pembentukan kelompok, hingga kepentingan di balik layar menjadi bagian dari dinamika yang tidak bisa diabaikan.
Padahal, esensi dari pemilihan Ketua RT sangat sederhana: mencari sosok yang mampu melayani dan mengayomi masyarakat.
Jabatan Ketua RT bukanlah ajang kekuasaan, melainkan bentuk pengabdian. Ia menjadi penghubung antara masyarakat dan pemerintah, sekaligus garda terdepan .
Seharusnya siapa pun yang terpilih nantinya adalah hasil dari kesepakatan bersama. Yang lebih penting dari itu adalah bagaimana seluruh masyarakat tetap bersatu, saling mendukung, dan bersama-sama membangun lingkungan yang aman, nyaman, dan harmonis. (tk01)




