TERASKALTARA.ID, MALINAU – Makna kemerdekaan tidak hanya dimaknai sebagai terbebas dari penjajahan secara fisik, tetapi juga bagaimana masyarakat mampu melepaskan diri dari berbagai bentuk belenggu modern. Pesan tersebut menjadi refleksi dalam Konser Kemerdekaan yang digelar Gereja Bethany Indonesia Jemaat BMC Pelita Kanaan Kabupaten Malinau, Rabu malam, 19 Agustus 2026.
Kegiatan yang dikemas dalam bentuk ceremony dan konser tersebut mengusung tema “Merdeka Tetapi Terjajah” dan dihadiri ratusan peserta. Selain menikmati rangkaian penampilan, para peserta juga mengikuti doa bersama bagi bangsa Indonesia.
Suasana sukacita terasa sejak kegiatan dimulai. Family altar Hosana, Imanuel, Alfa dan Omega tampil membawakan pujian dengan penuh penghayatan. Paduan suara SMA Negeri 8 Malinau juga turut mempersembahkan lagu dan pujian yang menyentuh hati para hadirin.
Tema “Merdeka Tetapi Terjajah” menjadi pengingat bahwa di usia kemerdekaan Indonesia yang ke-81, masih terdapat berbagai bentuk keterjajahan modern. Persoalan tersebut tidak hanya berkaitan dengan kondisi sosial dan pembangunan, tetapi juga menyentuh kehidupan pribadi dan spiritual masyarakat.
Belum meratanya pembangunan serta kesenjangan di wilayah perbatasan menjadi salah satu persoalan yang disoroti. Di sisi lain, masyarakat juga dihadapkan pada berbagai bentuk belenggu seperti pinjaman online, judi online, narkoba, pergaulan bebas hingga praktik okultisme.
Dalam renungannya, Pdt. Benny Margani mengingatkan pentingnya peran kekristenan agar dapat memberikan dampak nyata bagi kehidupan masyarakat.
“Kekristenan harus mampu berdampak dan terbebas dari hal-hal yang tidak berkenan kepada Tuhan,” tegasnya.
Ia juga mengajak umat memiliki tanggung jawab dalam membangun kehidupan yang baik serta menjadi berkat bagi orang-orang di sekitarnya.
“Sebagai umat, kita memiliki tanggung jawab untuk membangun manusia yang baik dan membawa berkat bagi sesama,” lanjutnya.
Menurutnya, perjuangan melawan keterjajahan tidak hanya dilakukan terhadap persoalan yang terlihat secara lahiriah, tetapi juga terhadap berbagai hal yang dapat membelenggu kehidupan manusia secara batiniah.
Sementara itu, Danton III Kipan C Batalyon Infanteri 614/Raja Pandita, Letnan Dua Hengky Fernando, S.H., memberikan apresiasi atas terselenggaranya Konser Kemerdekaan tersebut.
Ia mendorong agar kegiatan tersebut tidak berhenti pada perayaan tahun ini, tetapi dapat dilaksanakan secara berkelanjutan.
“Saya mengapresiasi kegiatan ini dan harapan saya Konser Kemerdekaan dapat terus dilaksanakan setiap tahun,” ujarnya.
Hengky juga menekankan pentingnya menjaga toleransi antarumat beragama sebagai bagian dari upaya memperkuat persatuan dan keamanan bangsa, khususnya di Kabupaten Malinau.
“Yang tidak kalah penting adalah bagaimana kita menjaga toleransi antarumat beragama. Ini merupakan bagian dari persatuan dan juga menjaga keamanan di Kabupaten Malinau,” katanya.
Peserta yang hadir berasal dari berbagai unsur, di antaranya anggota Yonif 614/Raja Pandita, paduan suara, pelajar SMA Negeri 8 Malinau, mahasiswa STT Sehati Malinau, para hamba Tuhan serta jemaat BMC Pelita Kanaan.
Rangkaian kegiatan kemudian ditutup dengan doa bersama bagi bangsa Indonesia. Konser tersebut menjadi ruang refleksi bagi masyarakat untuk memaknai kembali kemerdekaan, sekaligus mengingatkan bahwa tantangan bangsa tidak hanya berasal dari ancaman secara fisik, tetapi juga dari berbagai belenggu modern yang dapat merusak kehidupan.
Melalui kegiatan tersebut, semangat kemerdekaan diharapkan tidak berhenti pada seremoni, tetapi diwujudkan melalui kehidupan yang menjunjung persatuan, toleransi, tanggung jawab serta nilai-nilai iman dan kasih kepada sesama. (*ntl)






