SDN 005 Mentarang Hulu Hanya Punya 3 Siswa, Disdik Malinau Pastikan Layanan Pendidikan Tetap Terpenuhi

SD-Negeri-005-Kecamatan-Mentarang-Hulu.jpeg
SD Negeri 005 Kecamatan Mentarang Hulu.

TERASKALTARA.ID, MALINAU – Dinas Pendidikan Kabupaten Malinau memastikan layanan pendidikan di SD Negeri 005 Mentarang Hulu, khususnya di wilayah Bang Biau, tetap terpenuhi meski sekolah tersebut saat ini hanya memiliki tiga peserta didik.

Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Malinau, Dr. Fiteriady, mengatakan kondisi minimnya jumlah siswa di sekolah tersebut tidak menjadi alasan bagi pemerintah daerah untuk menghentikan layanan pendidikan.

Fiteriady SDN 005 Mentarang Hulu sebelumnya merupakan sekolah filial dari SD Negeri 001 Long Berang. Sekolah tersebut kemudian berdiri sebagai satuan pendidikan negeri sendiri dengan SK operasional sejak 2014 dan telah memiliki akreditasi B pada 2021.

“Memang benar di SD 005 Mentarang Hulu ini awalnya adalah SD filial dari SD 001 Long Berang. Setelah itu berdiri menjadi SD negeri sendiri,” ujarnya saat dikonfirmasi, Selasa (6/10).

Ia menjelaskan, sedikitnya jumlah peserta didik di sekolah tersebut berkaitan dengan kondisi populasi penduduk usia sekolah di wilayah Bang Biau yang memang terbatas.

Selain itu, sebagian siswa ketika memasuki kelas atas cenderung mengikuti orang tuanya atau diarahkan untuk bersekolah di Long Berang sebagai sekolah induk.

“Memang seperti kondisi depopulasi, artinya usia peserta didik yang ada di wilayah Bang Biau memang seperti itu. Ketika usia mereka meningkat dan naik ke kelas atas, mereka diarahkan orang tuanya ke Long Berang,” jelasnya.

Meski demikian, Pemerintah Kabupaten Malinau tidak serta-merta menutup sekolah tersebut. Faktor geografis menjadi salah satu pertimbangan utama dalam mempertahankan keberadaan sekolah.

Fiteriady menyebutkan, akses dari Bang Biau menuju Long Berang cukup jauh. Jika ditempuh dengan berjalan kaki, perjalanan bahkan dapat memakan waktu hingga satu hari.

“Tidak mungkin masyarakat yang berdomisili di Bang Biau hanya untuk sekolah harus berjalan kaki pulang pergi ke Long Berang. Makanya pemerintah segera melakukan tindakan konkret dengan menjadikan SD negeri di sana,” katanya.

Saat ini, SDN 005 Mentarang Hulu memiliki tiga peserta didik, masing-masing satu siswa di kelas I dan dua siswa di kelas II.

Meski jumlah siswanya sedikit, kebutuhan tenaga pendidik tetap dipenuhi. Fiteriady menyebut terdapat lima tenaga di sekolah tersebut, termasuk tiga guru kelas serta tenaga pendukung lainnya seperti tenaga kebersihan dan pustakawan.

“Walaupun misalnya ada satu peserta didik, gurunya tetap harus kita penuhi. Bisa sampai empat sampai lima orang,” tegasnya.

Menurut Fiteriady, kebijakan tersebut merupakan bentuk komitmen pemerintah daerah dalam memastikan masyarakat di wilayah terpencil tetap mendapatkan hak yang sama dalam memperoleh pendidikan.

Ia menegaskan, kondisi serupa tidak hanya terjadi di Bang Biau. Sejumlah sekolah di wilayah pedalaman Malinau juga menghadapi jumlah peserta didik yang sangat minim.

Ia mencontohkan salah satu sekolah di wilayah Sungai Barang, Apau Kayan, yang bahkan memiliki satu siswa di kelas tertentu. Meski demikian, pemerintah tetap berupaya memenuhi kebutuhan guru dan fasilitas pendidikan di sekolah tersebut.

“Fasilitas, sarana dan prasarana tetap harus kita penuhi. Mutu tetap harus kita jamin,” ujarnya.

Fiteriady menambahkan, pemerintah daerah akan terus memetakan kondisi sekolah-sekolah dengan jumlah peserta didik minim melalui data kependudukan dan koordinasi dengan Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil).

Pemetaan tersebut diperlukan untuk melihat potensi peserta didik di setiap wilayah, sehingga kebijakan pendidikan dapat disesuaikan dengan kondisi masyarakat.

Ia memastikan, apabila suatu saat sebuah sekolah benar-benar tidak memiliki peserta didik, pemerintah tidak akan serta-merta membiarkan tenaga pendidik tetap berada di sekolah tersebut tanpa aktivitas pembelajaran.

Guru dapat untuk sementara waktu ditarik ke sekolah terdekat hingga kembali terdapat peserta didik yang membutuhkan layanan pendidikan di wilayah tersebut.

“Kalau benar-benar tidak ada, tidak mungkin gurunya kita biarkan di situ sendiri kosong. Pasti kita tarik ke sekolah terdekat dulu. Sampai nanti bisa ada peserta didik, kita kembalikan lagi,” tutupnya. (tk02)

Pos terkait