Kasus ISPA Turun Jadi 288, DKPPKB Malinau Tetap Ingatkan Risiko Kabut Asap Belum Hilang 

antisipasi-ispa-kabut-asap-malinau.jpeg
Dinkes P2KB Malinau saat membagikan masker di jembatan Malinau Kota beberapa waktu lalu.

TERASKALTARA.ID, MALINAU – Jumlah kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di Kabupaten Malinau tercatat mengalami penurunan dalam pemantauan dua pekan terakhir. Meski demikian, masyarakat diminta tetap waspada terhadap risiko gangguan kesehatan di tengah kondisi kualitas udara yang memburuk akibat kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Kepala Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (DKPPKB) Kabupaten Malinau, Yuli Triana, menyampaikan berdasarkan data surveilans, terdapat 288 kasus ISPA pada minggu ke-40, periode 4-10 Oktober 2026.

Angka tersebut menurun dibandingkan minggu ke-39, periode 27 September–3 Oktober 2026, yang mencatat 314 kasus. Dengan demikian, terjadi penurunan sebanyak 26 kasus atau sekitar 8,3 persen dalam kurun waktu satu pekan.

Meski menunjukkan tren penurunan, Yuli mengingatkan bahwa kondisi tersebut tidak serta-merta menandakan risiko kesehatan akibat kabut asap telah berakhir.

“Penurunan kasus dalam satu minggu tidak berarti risiko akibat kabut asap sudah hilang,” ujarnya.

Terlebih, berdasarkan hasil pemantauan kualitas udara pada 12-13 Oktober 2026, terjadi peningkatan partikel pencemar di udara dibandingkan kondisi pada pertengahan September. Hasil pengukuran pada parameter yang dipantau bahkan menunjukkan kategori tidak sehat hingga sangat tidak sehat.

Menurut Yuli, asap kebakaran mengandung partikel halus yang dapat masuk ke saluran pernapasan hingga mencapai bagian paru-paru yang lebih dalam. Paparan tersebut dapat memicu gangguan kesehatan, terutama pada masyarakat yang rentan.

ISPA menjadi salah satu gangguan kesehatan yang perlu diwaspadai. Gejalanya dapat berupa batuk, pilek, sakit tenggorokan, hingga demam. Selain itu, paparan asap juga dapat menyebabkan iritasi mata, hidung, dan tenggorokan.

Pada masyarakat yang memiliki riwayat asma atau penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), paparan asap berpotensi memperburuk kondisi kesehatan dan memicu serangan sesak napas. Polusi udara juga dapat memperburuk kondisi penderita penyakit jantung dan pembuluh darah.

Namun, Yuli menegaskan, angka kasus ISPA yang tercatat tidak dapat langsung dikaitkan seluruhnya dengan paparan kabut asap. Sebab, ISPA memiliki berbagai penyebab, termasuk infeksi virus dan bakteri.

“Data ISPA juga tidak dapat langsung diartikan seluruhnya disebabkan oleh asap, karena ISPA memiliki berbagai penyebab, termasuk infeksi virus dan bakteri,” jelasnya.

Untuk mengurangi risiko gangguan kesehatan, masyarakat diimbau membatasi aktivitas di luar ruangan, terutama saat asap sedang pekat. Jika terpaksa beraktivitas di luar rumah, warga disarankan menggunakan masker yang terpasang dengan baik. Apabila memungkinkan, dapat menggunakan masker N95 atau KN95 yang sesuai dengan ukuran wajah.

Masyarakat juga diminta memberikan perhatian lebih kepada anak-anak, lansia, ibu hamil, serta orang yang memiliki penyakit pernapasan maupun penyakit jantung.

Yuli mengingatkan warga agar segera memeriksakan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan apabila mengalami batuk yang semakin berat, sesak napas, napas berbunyi, atau iritasi mata. Jika mengalami sesak napas berat, masyarakat diminta segera mencari pertolongan medis.

DKPPKB Malinau, lanjutnya, terus memantau perkembangan penyakit melalui fasilitas pelayanan kesehatan. Langkah tersebut dilakukan agar setiap peningkatan kasus atau masalah kesehatan yang perlu diwaspadai dapat segera ditindaklanjuti.

Masyarakat juga diimbau terus mengikuti informasi kualitas udara dan arahan pemerintah selama kondisi kabut asap masih berlangsung. (tk02)

Pos terkait