TERASKALTARA.ID, TARAKAN – Genangan air yang menutupi lubang di Jalan Gajah Mada, Kelurahan Karang Anyar Pantai, Tarakan, tak hanya membahayakan pengendara, tetapi juga mengganggu aktivitas perdagangan akibat bau menyengat dari saluran di sekitar lokasi. Kondisi tersebut dikeluhkan warga yang berharap perbaikan jalan dan drainase segera dilakukan.
Kerusakan badan jalan membuat pengendara sepeda motor harus mengurangi kecepatan saat melintas. Lubang yang tertutup air sulit diperkirakan kedalamannya, sehingga berisiko membuat kendaraan oleng, terutama ketika arus lalu lintas sedang ramai.
Kris, salah seorang pengendara yang melintas di ruas tersebut, mengaku harus ekstra hati-hati untuk menghindari lubang sekaligus memperhatikan kendaraan lain dari arah berlawanan.
“Kalau lewat sini memang harus pelan-pelan. Kita tidak tahu lubang di bawah air itu dalam atau tidak. Kalau tidak kelihatan, tiba-tiba roda masuk, bisa saja motor oleng. Apalagi kalau sedang ramai kendaraan, kita harus lihat kanan kiri juga,” ujar Kris.
Menurutnya, menghindari lubang bukan perkara mudah karena pengendara harus mempertimbangkan posisi kendaraan lain. Kondisi itu membuat pengguna jalan kesulitan menentukan jalur yang aman, terlebih ketika genangan menutupi permukaan jalan.
“Kadang kita mau menghindar ke samping, ternyata ada kendaraan lain. Mau terus juga takut masuk lubang. Jadi memang harus hati-hati sekali lewat sini. Harapannya jalan ini segera diperbaiki supaya tidak terus begini kondisinya,” katanya.
Kekhawatiran serupa dirasakan Ulis, pedagang yang telah berjualan di sekitar Jalan Gajahmada selama dua tahun. Selain kondisi jalan, ia mengeluhkan bau menyengat yang menurutnya telah tercium selama sekitar satu bulan terakhir.
Bau tersebut terkadang sudah terasa pada siang hari dan cenderung semakin kuat menjelang sore, sekitar pukul 15.00 Wita. Meski demikian, sumber bau belum dipastikan melalui pemeriksaan teknis.
“Ini sudah sekitar sebulanan baunya. Kadang siang sudah terasa, tetapi kalau sore, sekitar jam tiga, biasanya lebih kuat lagi. Bau seperti air sabun. Kami yang berjualan di sini tentu mencium terus,” ungkap Ulis.
Ia menduga bau tersebut berkaitan dengan aliran air di drainase dan kemungkinan berasal dari aktivitas usaha laundry di sekitar lokasi. Namun, dugaan itu belum dapat dipastikan.
Bagi Ulis, kondisi tersebut menjadi persoalan tersendiri karena ia harus tetap berjualan di tengah ketidaknyamanan lingkungan. Ia juga menilai bau tidak sedap berpotensi membuat calon pembeli enggan singgah.
Dampaknya, Ulis mengaku mengalami penurunan omzet yang cukup besar. Jika sebelumnya pendapatan dari berjualan bisa mencapai sekitar Rp550 ribu per hari, kini jumlahnya disebut hanya berkisar Rp250 ribu.
“Dulu bisa dapat sekitar Rp550 ribu sehari, sekarang paling sekitar Rp250 ribu. Pembeli memang berkurang. Mungkin orang juga kurang nyaman singgah kalau mencium bau seperti ini. Kami berharap cepat diperbaiki supaya orang yang lewat nyaman dan pembeli mau singgah lagi,” katanya.
Di sisi lain, kerusakan jalan juga menimbulkan kekhawatiran terhadap keselamatan pengguna jalan. Ulis mengatakan warga pernah berupaya memberikan tanda pada bagian jalan yang berlubang agar pengendara dapat lebih waspada ketika melintas.
“Kalau ada orang lewat terus jatuh, kasihan. Kadang mereka tidak tahu ada lubang karena tertutup air. Kami juga takut kalau sampai ada yang mengalami kecelakaan. Makanya pernah diberi tanda, supaya orang yang lewat bisa lebih hati-hati,” tuturnya.
Ia berharap penanganan segera dilakukan sebelum kerusakan jalan menimbulkan kecelakaan. Menurutnya, perbaikan perlu mencakup badan jalan dan saluran drainase agar genangan maupun bau menyengat tidak terus menjadi keluhan warga.
“Jangan sampai ada korban. Kasihan, banyak korban,” tegas Ulis.
Warga berharap kondisi Jalan Gajahmada kembali aman dan nyaman dilalui, sementara lingkungan di sekitar tempat usaha dapat terbebas dari bau yang mengganggu. Perbaikan jalan dan penanganan drainase dinilai penting agar aktivitas masyarakat serta perdagangan di kawasan tersebut tidak terus terdampak.







