TERASKALTARA.ID, MALINAU – Bupati Malinau, Wempi W. Mawa, mengingatkan mahasiswa asal Kabupaten Malinau yang menempuh pendidikan di Samarinda untuk tetap fokus pada perkuliahan serta menjaga amanah beasiswa yang diberikan pemerintah daerah.
Pesan tersebut disampaikan saat Bupati melakukan silaturahmi dan berdialog langsung bersama mahasiswa Malinau di Samarinda. Ia menegaskan bahwa tujuan utama para mahasiswa berada di kota tersebut adalah menuntut ilmu, bukan terlibat dalam dinamika kepentingan daerah setempat.
“Saya ingin memastikan kalian berada di Samarinda fokus pada tujuan utama. Kalau ada kepentingan yang berhubungan dengan pemerintah kota, jangan ikut,” tegasnya.
Menurutnya, mahasiswa Malinau merupakan warga sementara di Samarinda yang sedang berjuang meraih cita-cita. Karena itu, mereka diminta menjaga sikap, kesehatan, serta keselamatan selama menjalani masa studi.
Dalam kesempatan itu, Bupati juga menekankan pentingnya tanggung jawab bagi mahasiswa penerima beasiswa, khususnya melalui program Desa Sarjana. Ia menyebutkan bahwa beasiswa tersebut bersumber dari anggaran daerah yang merupakan uang rakyat.
“Kalau lewat program Desa Sarjana, berarti rakyat Malinau yang membiayai kalian. Jadi harus dipertanggungjawabkan dengan keberhasilan,” ujarnya, Kamis (23/4).
Ia mengingatkan agar dana beasiswa digunakan sesuai peruntukannya dan tidak disalahgunakan. Keberhasilan menyelesaikan pendidikan menjadi bentuk utama pertanggungjawaban mahasiswa kepada daerah.
Dalam dialog tersebut, Bupati juga mengungkapkan kondisi keuangan daerah yang mengalami penurunan. APBD Kabupaten Malinau yang sebelumnya berada di kisaran Rp 3,2 triliun kini turun menjadi sekitar Rp 2,4 triliun atau berkurang hampir Rp 800 miliar.
Meski demikian, program beasiswa tetap menjadi prioritas dan tidak terdampak kebijakan efisiensi anggaran. “Untuk beasiswa, tidak ada efisiensi. Program ini tetap jalan,” tegasnya.
Saat ini, sekitar 364 mahasiswa Malinau di Samarinda tercatat sebagai penerima program Desa Sarjana. Secara keseluruhan, hampir 2.000 putra-putri Malinau telah mendapatkan kesempatan pendidikan melalui program tersebut, termasuk melalui berbagai kerja sama pendidikan.
Bupati juga menyinggung adanya mahasiswa penerima beasiswa yang mengalami kecelakaan dan sempat dirawat di rumah sakit. Ia memastikan pemerintah daerah hadir untuk membantu, termasuk memfasilitasi orang tua mahasiswa yang kesulitan menjenguk.
Selain itu, dialog turut menghadirkan kisah mahasiswa dari wilayah terpencil, seperti Sungai Tubu dan sekitarnya, yang harus menempuh perjalanan hingga satu hari berjalan kaki untuk mencapai kampung halaman karena keterbatasan akses infrastruktur.
Salah satu mahasiswa, Supia, mengaku memilih jurusan kebidanan karena di daerahnya masih kekurangan tenaga kesehatan.
“Di tempat saya belum ada bidan, Pak. jalanya sulit, orang yang dikirim juga tidak betah disana,” ungkapnya.
Menanggapi hal tersebut, Bupati menegaskan bahwa pembangunan tidak hanya berfokus pada infrastruktur, tetapi juga pembangunan sumber daya manusia yang berkualitas.
Lebih lanjut, Bupati berharap para mahasiswa dapat kembali ke daerah setelah menyelesaikan pendidikan dan mengambil peran strategis dalam pembangunan.
Ia menekankan bahwa masa depan Kabupaten Malinau berada di tangan generasi muda saat ini, terutama mereka yang mendapat kesempatan melalui program beasiswa. “Saya ingin ke depan Malinau dipimpin oleh putra-putri daerah sendiri,” tutupnya.




