TERASKALTARA.ID, MALINAU – Warga di Kabupaten Malinau mengeluhkan pemadaman listrik yang kerap terjadi tanpa pemberitahuan sebelumnya. Kondisi tersebut dinilai mengganggu aktivitas masyarakat, terutama yang bergantung pada pasokan listrik untuk bekerja maupun menjalankan usaha.
Salah seorang warga Malinau, Andi (35), mengaku dalam sebulan terakhir listrik di wilayah tempat tinggalnya beberapa kali mengalami pemadaman mendadak.
Menurutnya, warga tidak hanya mengeluhkan pemadaman, tetapi juga minimnya informasi yang diterima saat gangguan terjadi.
“Bukan soal mati lampunya pak, tapi kami ini sering tidak tahu apa penyebabnya. Tiba-tiba matlis dan kita cuma bisa menunggu sampai menyala kembali,” ujarnya saat dimintai keterangan oleh TerasKaltara, Minggu (14/6).
Ia berharap PLN dapat meningkatkan keterbukaan informasi kepada pelanggan, terutama ketika terjadi gangguan maupun pekerjaan pemeliharaan jaringan.
“Kalau ada pemberitahuan mungkin masyarakat bisa memaklumi. Yang menjadi keluhan karena pemadaman sering terjadi tanpa informasi sebelumnya, jadi cukup merepotkan aktivitas sehari-hari,” katanya.
Menanggapi keluhan tersebut, Manager PLN ULP Malinau, I Gusti Putu Putra Negara, menjelaskan bahwa sejumlah pemadaman yang terjadi belakangan ini bukan disebabkan kekurangan pasokan daya, melainkan gangguan yang sifatnya tidak terduga.
“Beberapa case gangguan kemarin terjadi karena sifatnya tidak terprediksi, jadi ada gangguan memang dari pihak ketiga maupun material yang memang breakdown seperti itu. Jadi memang tidak direncanakan, terjadi secara tiba-tiba seperti itu,” terangnya.
Ia menjelaskan, sistem kelistrikan di Malinau saat ini diperkuat melalui interkoneksi dari GIKTT, dukungan PLTD Kuala Lapang, serta tambahan daya dari PLTU Kelapis. Dengan sistem tersebut, PLN memiliki sejumlah opsi untuk menjaga pasokan listrik ketika terjadi gangguan pada salah satu sumber pembangkit.
“Terkait kondisi sistem saat ini ya, PLN terus komitmen untuk penguatan sistem. Kami ada interkoneksi dari GIKTT dan support dari PLTD Kuala Lapang dengan tambahan daya dari PLTU Kelapis,” jelasnya.
Menurut Putu, saat terjadi penurunan daya dari sisi pembangkit, sebagian beban dapat dialihkan melalui sistem interkoneksi sehingga kebutuhan listrik pelanggan tetap dapat dipenuhi.
“Jadi ketika terjadi penurunan daya dari sisi pembangkit, sebagian jalur itu bisa diambil dari suplai GIKTT, seperti itu, untuk dukung daya saat ini,” ungkapnya.
PLN juga menegaskan bahwa saat ini tidak terdapat pemadaman akibat defisit daya di wilayah Malinau.
“Nah, untuk saat ini pemadaman karena defisit itu tidak ada, jadi kita upayakan memang dengan kondisi interkoneksi dari gardu induk KTT dengan kemampuan daya mampu PLTD, kita upayakan tidak ada pemadaman,” tambahnya.
Ia menambahkan, apabila terjadi padam maka umumnya disebabkan gangguan yang bersifat sementara pada jaringan maupun peralatan kelistrikan.
“Jadi ketika memang case ada padam, itu artinya memang gangguan yang bersifat sesaat, sementara seperti itu,” tukasnya.
Ketika gangguan terjadi, PLN mengaku langsung mengerahkan personel ke lapangan untuk mempercepat proses penormalan jaringan agar dampaknya terhadap pelanggan dapat diminimalkan.
“Untuk dari sisi kami juga selalu berupaya untuk percepatan penormalannya. Jadi ketika terjadi gangguan, tim kami sudah menyebar untuk percepatan penormalan,” kata Putu.
Selain penanganan gangguan, PLN juga terus menjalankan kegiatan inspeksi dan pemeliharaan jaringan sebagai langkah pencegahan agar potensi gangguan dapat ditekan.
“Untuk kegiatan baik inspeksi, pemeliharaan tetap kita upayakan. Jadi kita sudah siapkan tim untuk meminimalisir terjadinya gangguan-gangguan yang berdampak padam seperti itu,” tukasnya.
Lebih lanjut, Putu menyebut sejumlah faktor eksternal masih menjadi penyebab utama gangguan listrik di Malinau. Di antaranya gangguan binatang, pohon yang menyentuh jaringan, aktivitas pihak ketiga, hingga cuaca ekstrem yang sering terjadi.
“Banyak ada pihak ketiga, contohnya seperti gangguan dari binatang, pohon, terus termasuk untuk daerah Malinau ini cuacanya cukup ekstrem,” katanya.
Untuk mengurangi risiko gangguan, PLN terus melakukan inspeksi dan pemeliharaan jaringan secara rutin. Berbagai langkah preventif juga dilakukan, termasuk perbaikan sistem pentanahan, pemasangan penangkal petir, dan arrester pada jaringan listrik.
“Untuk antisipasi gangguan karena cuaca, kita juga lakukan hal-hal preventif ya, seperti perbaikan pertanahan, pemasangan penangkal petir, arrester ya. Tapi memang gangguan yang terjadi itu tidak terprediksi,” pungkasnya.
Saat ini ULP Malinau melayani sekitar 36 ribu pelanggan yang tersebar di Kabupaten Malinau, Kabupaten Tana Tidung, dan sebagian wilayah Nunukan.
Luasnya cakupan layanan tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi PLN dalam menjaga keandalan pasokan listrik hingga ke seluruh wilayah pelanggan. (*st)






