TERASKALATARA.ID, JAKARTA. 21/4 (ANTARA) – Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga) mengatakan Hari Kartini momen untuk menyoroti kiprah perempuan tidak hanya di ranah domestik dan ruang publik, namun juga untuk menguatkan kolaborasi guna menjawab tantangan terkait, seperti masih tingginya Angka Kematian Ibu (AKI).
Menurut data dari Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI), AKI di Indonesia masih berada di kisaran 189 per 100 ribu kelahiran hidup, menjadikannya salah satu yang tertinggi di Asia Tenggara.
Wakil Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Wamendukbangga) Ratu Ayu Isyana Bagoes Oka mengatakan di Jakarta, Selasa, untuk mencapai Indonesia Emas 2045, semuanya dimulai dari unit yang terkecil, yaitu keluarga, terutama ibu.
Oleh karena itu, lanjutnya, kolaborasi dijalin Kemendukbangga bersama kementerian, lembaga, dan pemangku kepentingan terkait guna mengatasi masalah AKI dan Angka Kematian Bayi (AKB) melalui berbagai inisiatif.
“Dan kalau kita lihat program-program seperti Cek Kesehatan Gratis (CKG) ini juga adalah upaya untuk bisa mendeteksi sejak dini,” ucapnya.
Selain itu pihaknya juga menjalin kolaborasi dengan Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI) dalam hal edukasi kesehatan dan peningkatan kompetensi petugas di lapangan.
Dalam kesempatan itu Wamendukbangga mengapresiasi langkah POGI yang meluncurkan Rumah Perempuan Indonesia (R-PRIN) di Hari Kartini. Adapun R-PRIN adalah sebagai pusat terpadu untuk edukasi, layanan, dan pemberdayaan perempuan.
Menurutnya, perempuan yang berdaya adalah awal dari masa depan bangsa yang lebih baik.
Pihaknya juga menggerakkan sejumlah inisiatif guna memperkuat kualitas keluarga dan menekan AKI-AKB, seperti melalui edukasi bagi para remaja.
“Pentingnya untuk merencanakan kehamilan. Kita bicara bukan berarti kemudian mereka melakukan kehamilan di luar nikah, bukan seperti itu. Tapi dengan adanya pengetahuan dan edukasi sejak remaja, mereka jadi tahu apa-apa saja yang harus dilakukan dan direncanakan,” kata Wamendukbangga.
Kemudian, katanya, memperkuat pola pengasuhan dalam keluarga untuk melengkapi peran perempuan luar biasa yang menjadi ibu. Melalui Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI), katanya, peran bapak diperkuat karena sama pentingnya dalam menciptakan keluarga yang berkualitas.
“Kolaborasi antara ayah dan ibu di rumah sejak awal dan sejak dini dimulai dari keluarga, inilah yang kemudian bisa nantinya membentuk anak-anak Indonesia tidak hanya remaja-remaja putri tapi remaja-remaja putra juga bisa paham tentang apa yang menjadi kebutuhan perempuan,” kata Wamendukbangga Isyana Bagoes Oka.
Oleh : Mecca Yumna Ning Prisie
Editor : Risbiani Fardaniah




