TERASKALTARA.ID, MALINAU – Pemerintah Kabupaten Malinau melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) memastikan pelaksanaan Irau Malinau tetap digelar dalam rangka peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-27 Kabupaten Malinau pada Oktober 2026 mendatang. Tahun ini, Irau akan dikemas dalam bentuk Festival Budaya yang lebih berfokus pada pelestarian seni dan budaya daerah.
Festival Budaya Irau ke-11 yang digelar pada 2025 lalu menjadi salah satu faktor yang mengantarkan Irau Malinau masuk dalam Karisma Event Nusantara (KEN) 2026. Perhelatan budaya tersebut menampilkan keberagaman etnis dan paguyuban yang ada di Kalimantan Utara melalui ritual adat, pertunjukan seni, perlombaan tradisional, ekowisata hingga inovasi kerajinan tangan lokal.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Malinau, Kristian Radang mengatakan, pelaksanaan Irau Malinau menjadi agenda yang harus dilaksanakan setiap tahun karena telah masuk dalam Karisma Event Nusantara (KEN).
“Tahun ini sesuai dengan upaya pemerintah, karena Irau itu sudah masuk dalam Karisma Event Nusantara. Syaratnya memang harus dirayakan setiap tahun,” ujarnya saat diwawancarai, Senin, (27/7).
Ia menjelaskan, konsep pelaksanaan Irau tahun ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Jika sebelumnya dirangkaikan dengan pameran pembangunan dan berbagai kegiatan lainnya, kali ini pemerintah daerah memilih untuk lebih memfokuskan kegiatan pada festival seni dan budaya.
“Tahun ini tetap dilaksanakan, hanya formatnya berupa festival budaya saja. Jadi tidak seperti Irau yang ada pameran dan seterusnya,” katanya.
Festival Budaya Irau tahun ini direncanakan berlangsung selama enam hari, mulai 20 Oktober hingga 26 Oktober 2026 yang bertepatan dengan puncak peringatan HUT ke-27 Kabupaten Malinau. Selain menampilkan berbagai pertunjukan seni dan budaya, rangkaian kegiatan juga akan dimeriahkan dengan pawai budaya yang melibatkan berbagai unsur masyarakat.
“Kita lebih fokus kepada festival seni dan budaya dan nanti ada pawai budaya juga yang akan dilaksanakan selama enam hari,” ungkapnya.
Meski dikemas lebih sederhana dibandingkan pelaksanaan sebelumnya, Kristian menilai esensi perayaan tetap menjadi hal yang utama, yakni memberikan ruang bagi masyarakat untuk merayakan hari jadi Kabupaten Malinau sekaligus melestarikan kekayaan budaya daerah.
Menurutnya, besar atau kecilnya sebuah perayaan bersifat relatif. Yang terpenting adalah kegiatan tersebut tetap terlaksana dan mampu menjadi wadah untuk menampilkan potensi seni dan budaya yang dimiliki Kabupaten Malinau.
“Kalau besar atau kecil itu relatif. Yang penting kegiatan ini tetap kita lakukan dan fokus kepada festival seni dan budaya,” tuturnya.
Selain itu, Disbudpar juga membuka peluang menghadirkan hiburan bagi masyarakat. Meski belum dipastikan, pihaknya berharap rangkaian perayaan HUT ke-27 Kabupaten Malinau dapat kembali menghadirkan penampilan artis untuk semakin menyemarakkan suasana.
“Ada juga nanti, ya kita doakan saja supaya ada artis lagi,” pungkas Kristian. (*st)







