TERASKALTARA.ID, TARAKAN — Pemerintah Kota Tarakan menyiapkan wajah baru Pasar Batu di Kelurahan Sebengkok. Tak lagi sekadar menjadi tempat transaksi pedagang dan pembeli, bangunan pasar tersebut dirancang sebagai pusat aktivitas perdagangan dan kuliner dengan konsep gedung empat lantai.
Kepala Bidang Cipta Karya Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (DPUTR) Kota Tarakan, Sabudi, mengatakan rancangan terbaru Pasar Batu disusun dengan pembagian fungsi pada setiap lantai. Area parkir ditempatkan di bagian bawah, sedangkan ruang perdagangan dan kuliner berada di lantai berikutnya.
“Kalau dari bawah, lantai dasarnya untuk parkir atau basement. Kemudian naik ke lantai 1 untuk perdagangan, seperti pakaian dan barang lainnya. Lantai 2 disiapkan untuk food court, sedangkan lantai paling atas kembali digunakan untuk aktivitas perdagangan,” kata Sabudi.
Dalam rancangan tersebut, Pasar Batu akan memiliki sekitar 142 kios. Sebanyak 54 kios berada di lantai 1, kemudian 68 kios di lantai 2 dan 20 kios di lantai 3.
Kehadiran area food court menjadi salah satu pembeda dari fungsi pasar pada umumnya. Ruang kuliner disiapkan secara khusus agar aktivitas di dalam bangunan tidak hanya berpusat pada perdagangan barang.
Menurut Sabudi, pembangunan kembali Pasar Batu merupakan kelanjutan dari proyek yang memiliki perjalanan cukup panjang. Pasar lama di kawasan tersebut terbakar pada 2020 dan pemerintah kemudian merancang pembangunan gedung baru.
“Ini kan Pasar Batu yang lama. Setelah kebakaran 2020, kemudian direncanakan pembangunan kembali. Pembangunan awalnya sudah dimulai pada periode pertama Pak Khairul, sekitar 2019 sampai 2024, tetapi dalam perjalanannya pekerjaan sempat terhenti,” ujarnya.
Pekerjaan sempat terhenti karena persoalan pembiayaan. Keterbatasan anggaran serta kebijakan efisiensi membuat pembangunan tidak dapat dilakukan secara sekaligus.
Kini pembangunan kembali berjalan secara bertahap menyesuaikan kemampuan anggaran daerah. Sabudi menyebut pekerjaan yang berlangsung saat ini masih difokuskan pada struktur bangunan.
“Sekarang masih bagian konstruksi struktur. Jadi struktur ini kita kerjakan dulu, setelah itu baru masuk dinding dan pekerjaan lainnya. Tahapannya memang seperti itu, struktur harus diselesaikan sebelum pekerjaan berikutnya,” jelasnya.
Dengan pola pembangunan bertahap, penyelesaian keseluruhan gedung diperkirakan masih membutuhkan waktu cukup panjang. DPUTR memperkirakan proyek tersebut baru dapat rampung sekitar dua hingga tiga tahun lagi, bergantung pada ketersediaan anggaran setiap tahunnya.
“Pengerjaannya bertahap. Kemungkinan masih sekitar dua sampai tiga tahun lagi, karena setiap tahap mengikuti anggaran yang tersedia. Jadi tidak semuanya bisa dikerjakan sekaligus dalam satu waktu,” katanya.
Dari sisi teknis, Sabudi memastikan tidak ada kendala berarti dalam pengerjaan struktur di lapangan. Faktor anggaran justru menjadi penentu utama untuk masuk ke tahapan pembangunan berikutnya.
“Kalau secara teknis tidak ada kendala. Persoalannya anggaran. Kalau anggaran sudah turun, baru kita bisa melakukan proses lelang dan melanjutkan pekerjaan sesuai tahapan yang sudah disiapkan,” pungkasnya.







