Pekerja CV Sinar Mentari Meninggal Dunia Usai Keluhkan Pembengkakan Tangan di Stadion Utama Malinau

pekerja-proyek-malinau-meninggal.jpeg
Proses evakuasi jenazah oleh Polres Malinau.

TERASKALTARA.ID, MALINAU – Seorang pekerja CV Sinar Mentari yang bekerja di proyek Stadion Utama Malinau, Irwan Abu Bakar, meninggal dunia pada Selasa (8/9) sekitar pukul 04.00 Wita.

Sebelum meninggal dunia, korban diketahui sempat mengalami keluhan pada tangan sebelah kiri. Tangan korban disebut mengalami gatal, kemudian membengkak dan pembengkakan tersebut semakin besar hingga membuat korban harus menjalani perawatan di puskesmas.

Berdasarkan keterangan rekan kerja korban, Bakri, Irwan mulai bekerja di proyek Stadion Utama Malinau sekitar tiga minggu sebelum kejadian. Semasa hidup, korban pernah menyampaikan bahwa tangannya digigit semut saat bekerja membegel besi.

Setelah itu, korban mengalami gatal selama sekitar dua hari. Kemudian tangannya membengkak hingga semakin besar dalam waktu sekitar satu minggu.

Korban sempat membeli obat di apotek untuk mengatasi keluhan tersebut. Namun, menurut keterangan rekan kerja, korban disebut kurang makan dan lebih banyak mengonsumsi kopi.

Pada Sabtu (5/9), korban kemudian dibawa berobat ke Puskesmas Malinau Kota. Tangan korban mendapat tindakan pembedahan dan setelahnya menjalani kontrol serta penggantian perban sebanyak dua kali.

Edo, mandor CV Sinar Mentari, membenarkan bahwa pihaknya mengetahui kondisi korban selama mengalami sakit. Ia mengatakan komunikasi dengan korban tetap berlangsung karena mereka berada di lokasi proyek yang sama.

“Setiap hari,” ujar Edo ketika ditanya mengenai koordinasi dengan korban selama sakit.

Edo juga mengatakan sempat menawarkan diri untuk mengantar korban melakukan kontrol ke puskesmas.

“Ya kemarin dia kontrol pagi itu mau saya hantar, sempat saya berapa kali saya hantar, ya sudah saya hantar. Biar pak sama temen ini aja, masih sama temennya, mungkin dia lebih nyaman kali,” katanya.

Selama sakit,Edo menjelaskan korban disebut tidak diperbolehkan bekerja.

“Enggak, gak kerja. Kami larang,” tegas Edo.

Ia menjelaskan, korban bekerja di bagian pembesian atau fabrikasi besi. Pekerjaannya meliputi pemotongan besi dan pengaturan ukuran.

“Di situ kan nanti dipotong, ada yang potong dia. Ngatur ukurannya,” jelasnya.

Edo mengatakan, pihaknya belum mengetahui secara pasti penyebab awal sakit yang dialami korban maupun apakah korban memiliki riwayat penyakit tertentu sebelumnya.

“Baru munculnya disitu cuma kalau riwayat sebelumnya ada penyakit apa di dalam ini ya, kami tidak mengetahui sampai di situ. Karena ada kadang kalau orang luka, misalnya dia punya riwayat gula, nanti kan dia tidak tahu,” ujarnya.

Korban diketahui telah menjalani pemeriksaan sebanyak dua kali. Ia bahkan direncanakan kembali melakukan kontrol pada Kamis (10/9).

“Sudah dua kali, rencana mending ketiga kali hari Kamis,” kata Edo.

“Bisa lusa rencana lagi, kontrol lagi ke puskesmas Malinau Sebrang itu,” lanjutnya.

Selain keluhan pada tangan, korban juga sempat mengalami sakit pada bagian perut sebelum meninggal dunia. Menurut Edo, informasi tersebut diketahui dari rekan korban yang berada bersamanya.

“Tadi saya sempat komunikasi sama dokter, saya menyampaikan apa yang terjadi berdasarkan cerita temannya di samping itu. Karena setelah mereka, maksudnya baku cerita malam, jam-jam 4 kan, dia bilang, sebelum itulah, udah tidur, habis itu bangun, sininya sakit katanya. Maksudnya perutnya, mungkin karena lambung dia pun juga menurut informasi daripada saudaranya itu. agak susah makan,kuat kopi-kopi rokok,” ungkapnya.

Edo mengatakan pihaknya masih berupaya memperoleh informasi medis untuk mengetahui kondisi korban secara lebih jelas.

“Nah itulah kemarin abis kontrol itu saya minta suratnya dari puskesmas ke anggota yang nganter,” katanya. (*ntl)

Pos terkait