TERASKALTARA.ID, PEKALONGAN. 21/5 (ANTARA) – Deru mesin jahit terdengar bersahutan dari sebuah rumah produksi sederhana di Desa Paesan Utara, Kecamatan Kedungwuni, Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah.
Di dalam rumah itu, tumpukan kain canvas memenuhi sudut-sudut meja kerja. Puluhan tangan sibuk bergerak, menyambung potongan demi potongan kain menjadi celana siap pakai.
Di antara para penjahit itu, Iswandi (57) tampak paling tekun. Dengan gerakan yang sudah terlatih selama bertahun-tahun, ia merapikan bagian kain sebelum masuk tahap jahit berikutnya. Sesekali ia mengangkat kepala, memastikan hasil jahitannya tetap rapi sebelum diteruskan ke bagian finishing.
Bagi Iswandi, tempat itu bukan sekadar lokasi bekerja. Rumah produksi milik Hanafi telah menjadi sumber penghidupan bagi dirinya dan banyak penjahit lokal lainnya.
“Kalau usaha ini ramai, kami juga ikut merasakan,” ujar Iswandi singkat sambil tetap fokus bekerja.
Iswandi hanyalah satu dari sekitar 25 penjahit vendor lokal yang kini bergantung pada geliat usaha di rumah produksi ini. Usaha yang bermula dari perjalanan panjang seorang pedagang kecil bernama Hanafi (40), warga Jalan Sepuran No. 139, Sopaten, Kedungwuni Barat.
Di balik berkembangnya bisnis celana canvas itu, Hanafi menyimpan cerita jatuh bangun yang tidak singkat. Jalan yang ia tempuh jauh dari kata instan.
Sebelum dikenal sebagai pelaku UMKM sukses, Hanafi memulai hidupnya sebagai pedagang yang menjajakan batik ke berbagai daerah seperti Semarang, Solo, hingga Yogyakarta. Ia pernah merasakan kerasnya menawarkan barang dari pasar ke pasar, mencari pelanggan, hingga menunggu pembeli yang tak selalu datang.
“Awalnya saya dipercaya orang untuk memasarkan produk batik. Keuntungan itu kemudian saya kembangkan untuk jualan online,” katanya.
Ia masih mengingat bagaimana awal mula terjun ke dunia perdagangan ketika berada di Pasar Banjarsari. Dari sana, ia bertemu relasi dari wilayah Buaran, Kabupaten Pekalongan, yang kemudian mengajaknya bekerja sama menjual kain batik.
Perdagangan saat itu masih sepenuhnya mengandalkan cara-cara konvensional. Hanafi berkeliling membawa dagangan, berpindah dari satu kota ke kota lain. Namun perlahan ia mulai melihat perubahan perilaku konsumen. Masyarakat mulai akrab dengan internet dan media sosial, sementara pola belanja mulai bergeser ke platform digital.
Meski masih aktif berjualan secara luring pada 2015 hingga 2016, Hanafi mulai mencoba peruntungan baru di dunia daring. Pada 2017, seorang rekannya mengajak dirinya memasarkan produk melalui Facebook.
“Semula saya diajak teman jualan online di Facebook. Waktu itu saya belum begitu berpikir. Tapi setelah melihat perkembangan minat konsumen ternyata bagus,” ujarnya.
Dari situlah pikirannya mulai terbuka. Ia sadar, pasar tidak lagi terbatas pada toko fisik atau wilayah lokal. Dunia digital memberi peluang yang jauh lebih luas. Hanafi kemudian mulai memikirkan bagaimana produknya bisa terus berkembang dan diminati konsumen.
Pilihan itu ternyata menjadi titik penting dalam perjalanan bisnisnya.
Momentum COVID-19
Ketika pandemi COVID-19 melanda Indonesia, banyak toko offline mengalami penurunan penjualan akibat pembatasan aktivitas masyarakat. Namun situasi berbeda justru dialami Hanafi. Produk celana canvas miliknya malah mengalami lonjakan pesanan karena pemasaran dilakukan secara daring.
Kebiasaan masyarakat yang semakin nyaman berbelanja online membuat penjualan meningkat tajam.
“Pas COVID itu penjualan online sangat bagus karena masyarakat lebih nyaman belanja secara daring karena adanya pembatasan,” katanya.
Di tengah banyak usaha yang terpukul pandemi, bisnis Hanafi justru menemukan momentumnya. Pesanan datang dari berbagai daerah. Rumah produksinya semakin sibuk. Para penjahit lokal pun ikut merasakan dampaknya.
Namun, perjalanan usaha tidak selalu berjalan mulus.
Pada 2022, Hanafi mencoba memperluas bisnis dengan menjual produk celana jins dari pemasok lain. Keputusan itu ternyata tidak berjalan sesuai harapan. Produk tersebut kurang diminati pasar hingga usahanya sempat vakum hampir satu tahun.
Ia juga pernah mengalami pengalaman kurang menyenangkan dalam kerja sama bisnis dengan pihak lain. Kesepakatan yang diharapkan berjalan baik ternyata berakhir berbeda.
“Kesepakatan kerja sama pada awal dengan ending-nya berbeda. Itu sempat membuat saya trauma,” katanya.
Kegagalan itu sempat membuatnya terpuruk. Namun Hanafi memilih bangkit. Ia kembali fokus pada produk yang paling ia pahami, yakni celana canvas.
Langkah berikutnya adalah memperkuat pemasaran melalui platform e-commerce. Menurut Hanafi, marketplace memberikan dampak besar terhadap perkembangan penjualannya.
Salah satu faktor penting ialah hadirnya sistem pembayaran Cash on Delivery (COD) yang membuat konsumen lebih percaya berbelanja secara online.
“Orang lebih percaya dengan sistem COD,” katanya.
Meski mengakui aturan marketplace cukup ketat, Hanafi justru merasa sistem itu membantu menjaga kualitas pelayanan kepada konsumen.
“(Marketplace) Memang memiliki banyak aturan, tapi sangat membantu pemasaran,” ujarnya.
Kini, usaha terus berkembang. Selain mempekerjakan enam karyawan tetap, Hanafi menggandeng sekitar 25 penjahit vendor lokal untuk memenuhi permintaan pasar. Seluruh bahan baku yang digunakan juga berasal dari lingkungan sekitar sehingga perputaran ekonomi lokal ikut bergerak.
Tembus Asia Tenggara
Produk celana canvas produksi Hanafi kini tak hanya dipasarkan ke berbagai kota di Indonesia seperti Jakarta, Sumatera, Kalimantan, hingga Papua. Pasarnya bahkan mulai merambah Asia Tenggara, terutama Malaysia dan Singapura.
“Konsumen sekarang sudah sampai Malaysia dan Singapura. Mungkin mereka orang Indonesia yang bermukim di sana,” katanya sambil tersenyum.
Dalam kondisi normal, penjualan harian mampu menghasilkan omzet sekitar Rp200 ribu per hari. Sementara pada momentum Ramadan, pesanan dapat melonjak drastis hingga mencapai sekitar 400 resi pengiriman per hari.
Meski penjualan biasanya menurun setelah Lebaran karena masyarakat mulai fokus pada kebutuhan tahun ajaran baru sekolah, Hanafi tetap optimistis terhadap masa depan bisnis digital.
Ia berharap berbagai pelatihan dan pengembangan dari platform e-commerce dapat membantu produknya semakin dikenal luas, baik di pasar nasional maupun internasional.
Bagi Hanafi, keberhasilan usaha bukan semata soal keuntungan pribadi. Ada hal yang menurutnya jauh lebih penting, yakni bagaimana bisnis yang ia bangun mampu membuka lapangan pekerjaan dan menggerakkan ekonomi masyarakat sekitar.
Di rumah produksi sederhana itu, suara mesin jahit yang terus berdengung bukan hanya pertanda aktivitas produksi berjalan. Itu juga menjadi tanda bahwa usaha kecil yang dibangun dengan ketekunan dapat memberi penghidupan bagi banyak orang.
Komitmen untuk mendorong UMKM juga mendapat dukungan dari pemerintah daerah. Asisten Perekonomian dan Pembangunan Kabupaten Batang, Anis Rosidi, mengatakan UMKM merupakan salah satu urat nadi perekonomian daerah.
Pemerintah daerah, kata dia, berkomitmen mendukung pelaku UMKM agar terus berkembang melalui pemanfaatan teknologi digital.
“Usaha mikro kecil dan menengah merupakan salah satu urat nadi roda perekonomian daerah. Selain itu, UMKM juga sebagai sarana menekan laju inflasi daerah,” katanya.
Pemerintah berharap akan semakin banyak pelaku UMKM seperti Hanafi yang mampu membuka lapangan pekerjaan, mengurangi angka pengangguran, sekaligus menggerakkan ekonomi masyarakat di daerah.
Oleh Kutnadi
Editor : Dadan Ramdani






