TERASKALTARA.ID, JAKARTA. 18/5 (ANTARA) – Ketahanan pangan tidak hanya soal ketersediaan beras di gudang pemerintah, tetapi juga tentang menyiapkan generasi penerus yang mau terjun ke dunia pertanian.
Di tengah minimnya minat anak muda menjadi petani, berbagai pihak mulai mendorong lahirnya regenerasi pertanian melalui edukasi pangan hingga pelibatan pelajar dalam praktik bercocok tanam.
“Manusia senantiasa dalam kebaikan selama generasi muda mau belajar kepada generasi tua. Jika generasi tua habis sebelum generasi muda sempat belajar kepada mereka, maka rusaklah (kebaikan) manusia,” demikian ucapan sahabat Rasulullah, Salman Alfarisi, tentang pentingnya mewarisi ilmu atau kebaikan dari generasi terdahulu kepada generasi selanjutnya.
Jika transfer ilmu atau kebaikan itu gagal dilakukan, maka ancamannya adalah rusaknya kehidupan manusia.
Dalam hal ini, generasi terdahulu harus proaktif memberikan bimbingan kepada generasi muda secara berkesinambungan agar mereka lebih siap menjalani kehidupan.
Sebaliknya, generasi muda juga harus membuka diri dan mau belajar kepada generasi di atasnya agar ilmu yang ada dapat dilanjutkan dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Narasi ketahanan pangan yang mulai dibangun dan diwujudkan saat ini harus terus dirawat dan dilanjutkan hingga masa depan agar generasi mendatang semakin kuat dalam menyiapkan kebutuhan pangan.
Hal itulah yang coba dilakukan Badan Urusan Logistik (Bulog) DKI Jakarta dan Banten melalui program eduwisata kepada pelajar SMA di dua sekolah di Jakarta.
Kala itu, dua SMA diajak mengenal ketahanan pangan di Komplek Pergudangan Bulog Kelapa Gading, Jakarta Utara.
Para siswa diperkenalkan dengan cadangan beras pemerintah (CBP) yang tersusun rapi dan dijaga ketat di gudang-gudang yang berada di area seluas 55 hektare.
Kawasan tersebut memiliki 68 unit gudang dengan kapasitas masing-masing 3.500 hingga 4.000 ton beras serta didukung sistem keamanan pangan yang memadai.
Pemimpin Bulog Wilayah DKI Jakarta dan Banten Taufan Akib mengatakan program eduwisata ini bertujuan memberikan gambaran kepada siswa terkait kegiatan operasional Bulog dalam menjalankan perannya mengelola cadangan pangan pemerintah.
Program ini juga menjadi langkah strategis Bulog dalam meningkatkan sinergi dengan lembaga pendidikan untuk menambah wawasan peserta didik terkait pangan dan peran pemerintah dalam menjamin ketahanan pangan nasional.
Dengan adanya kerja sama antara Bulog dan lembaga pendidikan, narasi ketahanan pangan dapat terus disebarluaskan dan dilanjutkan oleh generasi muda Indonesia.
Program ini merupakan bagian dari upaya literasi kepada anak bangsa untuk menumbuhkan kesadaran akan pentingnya pangan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Melalui eduwisata yang dilakukan Bulog Jakarta dan Banten, pengetahuan siswa mengenai ketahanan pangan diharapkan meningkat sekaligus menumbuhkan pemahaman tentang pentingnya swasembada pangan dalam mewujudkan ketahanan pangan nasional.
Generasi muda akhirnya memahami bahwa negara berupaya menjamin ketersediaan pangan bagi masyarakat dengan menyiapkan stok cadangan beras yang mereka lihat secara langsung.
Petani Muda
Petani Muda
Selain ketersediaan beras, hal paling vital dalam membangun ketahanan pangan adalah ketersediaan sumber daya manusia.
Sumber daya manusia tersebut tentu para petani yang siap berinovasi dengan teknologi serta mengembangkan tanaman pangan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dalam negeri.
Di tengah kondisi global yang serba digital saat ini, tidak banyak anak muda yang bercita-cita menjadi petani.
Sebagian besar anak muda lebih fokus menjadi pekerja dengan penghasilan yang terlihat jelas, mulai dari programmer, youtuber, selebgram, dokter, pilot, pengusaha, hingga pegawai negeri seperti tentara, polisi, jaksa, hakim, maupun pegawai Pemerintah Provinsi DKI Jakarta yang memiliki tunjangan tinggi.
Tidak banyak yang bercita-cita menjadi petani. Bahkan, profesi petani masih kerap dipandang sebagai pekerjaan yang tidak memiliki masa depan dan terkesan suram.
Padahal, masa depan bangsa ini ada di tangan para petani. Dari tangan merekalah lahir tanaman yang kemudian dikonsumsi masyarakat untuk menyambung hidup dari hari ke hari.
Jika tidak ada lagi yang bertani, baik menanam padi, buah, sayuran, maupun tanaman perkebunan, maka ketahanan pangan yang hadir saat ini bisa saja hilang.
Jika negara tidak lagi mampu memenuhi kebutuhan pangannya sendiri, maka ketergantungan terhadap negara lain akan semakin besar.
Kondisi tersebut tentu sangat riskan. Karena itu, upaya yang harus dilakukan saat ini adalah membangun rasa cinta terhadap pertanian di kalangan anak muda Indonesia agar mereka mau bertani dan menyiapkan sumber pangan bagi kebutuhan keluarga maupun masyarakat.
Hal itu ditegaskan Ketua Harian I Dewan Pimpinan Nasional (DPN) HKTI Mayjen TNI (Purn) Bachtiar Utomo yang menyatakan bahwa generasi muda merupakan kunci menjaga ketahanan pangan nasional di masa depan.
Menurut dia, anak muda Indonesia harus dekat dan mencintai pertanian karena merekalah yang nantinya akan melanjutkan pembangunan ketahanan pangan bangsa.
Masalah pangan bukan hanya urusan negara, melainkan tanggung jawab bersama untuk memastikan ketersediaan pangan nasional.
Jangan sampai terjadi “lost generation farm” di Indonesia. Semua pihak harus bersama-sama mendekatkan anak muda dengan dunia pertanian.
Bangsa yang kuat adalah bangsa yang berdaulat dalam pangan. Sementara bangsa yang berdaulat adalah bangsa yang mampu memenuhi kebutuhan pangannya sendiri tanpa bergantung pada negara lain.
Karena itu, jangan jauhkan anak muda dari pertanian, tetapi buat mereka mencintai pertanian dan mau terlibat menjadi petani.
Halaman Selanjutnya: Kolaborasi HKTI-Pramuka
Kolaborasi HKTI-Pramuka
Salah satu upaya yang dilakukan Gerakan Kwartir Nasional Gerakan Pramuka bersama Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) adalah menggelar program Global Integrated Farming dalam jambore tahun ini.
Dalam jambore tersebut, sekitar 30 ribu pelajar dari seluruh Indonesia akan berkumpul di Buperta Pramuka Cibubur, Jakarta Timur.
Mereka akan diberikan materi pertanian sekaligus ditumbuhkan rasa cinta terhadap dunia pertanian yang nantinya dapat dibawa ke lingkungan masing-masing.
Para peserta akan diajak menanam pohon, bertani, dan beternak agar terlibat langsung dalam membangun ketahanan pangan bangsa.
Peserta nantinya diajarkan menanam jagung, pisang, sayur-sayuran, dan buah-buahan. Mereka juga diajarkan beternak ayam, kambing, sapi, serta ikan lele dan nila di kawasan Buperta Cibubur.
Kawasan Buperta tersebut merupakan Pusat Pendidikan dan Pelatihan (Pusdiklat) bidang pertanian dan ketahanan pangan yang juga memiliki lahan pertanian, peternakan, hingga pengembangbiakan lebah.
Gerakan Pramuka mulai mendorong agar generasi muda menggandrungi pertanian dan terlibat dalam membangun ketahanan pangan nasional.
Total terdapat sekitar 25 juta anggota Pramuka. Jika masing-masing menanam empat pohon, maka dalam setahun akan tumbuh sekitar 100 juta pohon.
Program tersebut sejalan dengan instruksi Presiden Prabowo Subianto yang ingin membangun swasembada pangan di Indonesia.
Program swasembada beras yang berhasil dijalankan saat ini menjadi acuan bahwa swasembada pangan lainnya juga dapat diwujudkan, seperti swasembada kedelai yang ditargetkan tercapai pada 2029.
Kondisi tersebut memberikan harapan bahwa ketahanan pangan akan terus berlanjut dengan syarat generasi muda turut dilibatkan dan didekatkan dengan dunia pertanian.
Di setiap sekolah perlu ada kegiatan bercocok tanam agar generasi muda memahami cara bertani sejak dini.
Selain itu, para petani juga harus diberikan kepastian kesejahteraan melalui harga yang layak atas hasil pertanian mereka.
Dengan kondisi tersebut, profesi petani akan kembali dipandang sebagai pekerjaan yang mulia karena berperan menjaga ketersediaan pangan sekaligus mampu menyejahterakan keluarga mereka layaknya profesi lainnya.
Oleh Mario Sofia Nasution
Editor : Alviansyah Pasaribu






