TERASKALTARA.ID, TARAKAN — Kabut asap yang masih menyelimuti sejumlah wilayah Kota Tarakan mulai berdampak pada kualitas udara. Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) untuk parameter PM2.5 di titik pemantauan Pamusian tercatat 103 pada Selasa (1/9/2026) pukul 14.00 WITA, masuk kategori tidak sehat bagi kelompok sensitif.
Kondisi ini menjadi perhatian karena PM2.5 merupakan partikulat berukuran sangat kecil yang dapat terhirup hingga masuk ke saluran pernapasan. Masyarakat, terutama kelompok rentan, diminta mengurangi paparan asap selama kualitas udara belum kembali membaik.
Kelompok sensitif tersebut meliputi anak-anak, lansia, ibu hamil serta warga yang memiliki gangguan pernapasan.
Wali Kota Tarakan dr. H. Khairul mengimbau masyarakat tidak memaksakan aktivitas di luar rumah apabila tidak memiliki keperluan mendesak.
“Kalau tidak ada keperluan yang penting, aktivitas di luar sebaiknya dikurangi. Kalau memang harus keluar, gunakan masker dengan baik supaya paparan asap yang terhirup bisa diminimalkan,” ujar Khairul.
Khairul juga meminta masyarakat tidak mengabaikan gejala kesehatan yang muncul selama terpapar kabut asap. Keluhan seperti batuk, sesak napas, sakit tenggorokan hingga mata perih perlu mendapat perhatian.
“Kalau sudah muncul keluhan seperti batuk, sesak napas atau mata terasa perih, jangan dianggap biasa. Segera kurangi paparan dan kalau keluhannya berlanjut, sebaiknya diperiksakan ke fasilitas kesehatan,” katanya.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Tarakan, Andry Rawung menjelaskan, angka ISPU 103 tersebut merupakan hasil pembacaan alat pemantau kualitas udara yang berada di kawasan belakang Kantor DLH.
Menurutnya, hasil pengukuran tidak serta-merta menggambarkan kondisi kualitas udara di seluruh wilayah Tarakan. Jangkauan alat tersebut sekitar 2,5 kilometer sehingga pembacaan lebih merepresentasikan kondisi udara di sekitar titik pemantauan.
“Alat yang ada di belakang kantor DLH itu jangkauannya sekitar 2,5 kilometer. Jadi hasilnya menggambarkan kondisi di sekitar titik alat, tidak bisa langsung kita anggap sebagai gambaran seluruh wilayah Tarakan,” jelas Andry.
Meski demikian, angka tersebut tetap menjadi indikator penting untuk melihat perubahan konsentrasi partikulat di udara.
Pada pengukuran pukul 14.00 WITA, PM2.5 berada di angka 103 atau kategori tidak sehat bagi kelompok sensitif, sedangkan PM10 tercatat 84 dan masuk kategori sedang.
Sementara itu, parameter SO2, CO, O3, NO2 dan HC masih berada dalam kategori baik.
Andry mengatakan, kualitas udara dapat berubah sewaktu-waktu mengikuti pergerakan asap dan kondisi cuaca. Karena itu, pemantauan terus dilakukan untuk melihat perkembangan konsentrasi partikulat.
“Kondisi udara ini masih terus kita pantau. Perubahan konsentrasi partikulat bisa terjadi seiring pergerakan asap dan kondisi cuaca, sehingga hasil pengukuran juga dapat berubah,” ujarnya.
Di tengah kondisi udara yang menurun, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tarakan juga mengingatkan masyarakat tidak melakukan aktivitas yang berpotensi menambah sumber asap, termasuk membakar lahan maupun sampah.
Kepala Pelaksana BPBD Tarakan, Yonsep, mengatakan pencegahan di tingkat masyarakat menjadi penting agar kondisi udara tidak semakin buruk.
“Kalau kepedulian terhadap lingkungan sudah tumbuh, hal kecil yang kita lakukan juga akan memberikan dampak. Jangan sampai aktivitas kita justru menambah persoalan ketika kondisi udara sedang seperti sekarang,” kata Yonsep.
BPBD masih memantau kawasan yang memiliki potensi kebakaran hutan dan lahan, khususnya area dengan vegetasi dan lahan terbuka yang mudah terbakar.
Menurut Yonsep, penanganan api sejak awal diperlukan untuk mencegah kebakaran berkembang dan menghasilkan asap dalam jumlah lebih besar.
“Jangan sampai kita menganggap kebakaran hanya persoalan di lokasi apinya. Asapnya bisa bergerak ke tempat lain dan akhirnya berdampak kepada masyarakat yang lebih luas,” ujarnya.
Pemantauan kualitas udara dan potensi karhutla masih dilakukan seiring perubahan kondisi di lapangan. Masyarakat diminta mengikuti informasi resmi serta menyesuaikan aktivitas, terutama apabila kualitas udara kembali memburuk.






