TERASKALTARA.ID, MALINAU – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Malinau terus memantau perkembangan kualitas udara di tengah kondisi kabut asap yang masih menyelimuti sejumlah wilayah. Hasil pemantauan Selasa (1/9) menunjukkan kualitas udara mulai membaik dibandingkan hari sebelumnya, namun konsentrasi PM2,5 masih cukup tinggi, terutama di kawasan pemukiman.
Kepala DLH Malinau, John Felix, mengatakan pemantauan dilakukan menggunakan alat pengukur kualitas udara portabel di tiga lokasi yang mewakili kawasan perkantoran, transportasi, dan pemukiman.
Tiga titik tersebut yakni Padan Liu’ Burung untuk mewakili kawasan perkantoran, depan Bandara Malinau untuk kawasan transportasi, serta Taman Jajok untuk kawasan pemukiman.
“Dari hasil pemeriksaan kita hari ini memang cenderung lebih baik dari hari kemarin. Kalau hari kemarin itu kurang lebih 60 lebih mikrogram per meter kubik untuk PM2,5,” kata John saat diwawancarai.
Dari hasil pengukuran, konsentrasi PM2,5 di kawasan perkantoran tercatat sekitar 40 mikrogram per meter kubik. Sementara di kawasan transportasi atau depan bandara juga berada di angka sekitar 40 mikrogram per meter kubik.
Adapun di kawasan pemukiman Taman Jajok, konsentrasi PM2,5 tercatat mencapai 58,67 mikrogram per meter kubik. Angka tersebut membuat kualitas udara di lokasi itu masuk kategori tidak sehat.
John menjelaskan, PM2,5 menjadi perhatian utama karena partikelnya berukuran sangat kecil sehingga tidak dapat dilihat dengan mata telanjang. Partikel tersebut dapat masuk lebih jauh ke dalam sistem pernapasan hingga mencapai bagian dalam paru-paru.
“PM2,5 itu bisa lanjut ke paru-paru bagian dalam sehingga akan sangat mengganggu pernapasan,” jelasnya.
Selain pengukuran menggunakan alat portabel, DLH juga memantau perkembangan kualitas udara melalui aplikasi IQAir. Berdasarkan pemantauan aplikasi tersebut, konsentrasi PM2,5 di Malinau pada pukul 06.00 WITA tercatat 56 mikrogram per meter kubik dan meningkat menjadi 59 pada pukul 09.00.
Konsentrasi kemudian kembali meningkat signifikan pada pukul 12.00 hingga mencapai 67,1 mikrogram per meter kubik. Pada pukul 15.00, angka tersebut turun menjadi 60,7 mikrogram per meter kubik.
Menurut John, fluktuasi konsentrasi PM2,5 tersebut menunjukkan kualitas udara masih dipengaruhi kondisi atmosfer, terutama pergerakan angin.
Di tengah kondisi tersebut, DLH memastikan kadar oksigen di udara Malinau masih berada dalam kondisi normal. Hasil pengukuran menunjukkan konsentrasi oksigen sekitar 20,9 persen dari total komponen udara.
“Kalau kita lihat kadar oksigen dari hasil pemeriksaan tadi, kadar oksigen kita normal. Konsentrasinya masih sebesar 20,9 persen dari total komponen udara,” ujarnya.
DLH juga berkoordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Malinau yang melakukan konfirmasi kepada BMKG Tarakan terkait perkembangan kualitas udara di Kalimantan Utara.
John mengatakan, berdasarkan informasi BMKG, alat pengukur PM2,5 yang menjadi rujukan di Kaltara berada di Tanjung Harapan, Tanjung Selor. Sementara di Malinau, Tarakan, Kabupaten Tana Tidung dan Nunukan belum terdapat alat pengukur PM2,5 serupa.
Berdasarkan pemantauan BMKG di Tanjung Harapan, Tanjung Selor, konsentrasi PM2,5 juga mengalami peningkatan. Angka yang pada pagi hari berada di kisaran 62 mikrogram per meter kubik kemudian meningkat hingga sekitar 133 mikrogram per meter kubik pada siang hari.
Untuk wilayah yang belum memiliki alat pengukur PM2,5, BMKG menggunakan dokumentasi jarak pandang sebagai salah satu bahan pembanding kondisi kualitas udara.
John menyebut kondisi kualitas udara Malinau yang terganggu kemungkinan juga dipengaruhi asap kiriman dari wilayah lain yang terbawa angin. Kendati demikian, aktivitas pembakaran di wilayah Malinau disebut masih dalam kondisi terkendali.
“Partikel PM2,5 ini memang sangat kecil, jadi bisa terbang sangat jauh, terdorong oleh angin sangat jauh,” katanya.
DLH memastikan pemantauan kualitas udara akan terus dilakukan dengan membandingkan hasil pengukuran alat portabel di lapangan dengan data dari aplikasi IQAir maupun informasi BMKG.
“Karena kita sudah ada pembanding antara aplikasi dan alat kita,” pungkasnya. (*ntl)






