Kartini Bekasi Sulap Limbah Plastik Jadi BBM

TERASKALTARA.ID, KOTA BEKASI. 27/9 (ANTARA) – Pagi itu, pukul 06.30 WIB, mentari baru terbit di ufuk timur ketika Hesti Warih MR dan tujuh perempuan tangguh lainnya bersiap di Bank Sampah Unit (BSU) Gempita, Kota Bekasi, Jawa Barat.

Beberapa di antaranya membersihkan area bank sampah, sementara yang lain menyiapkan galon bekas, keranjang penampung, air, hingga gas elpiji tiga kilogram. Sebagian lagi sibuk menyiapkan mesin pirolisis, peralatan utama yang berfungsi sebagai alat destilasi pengolah limbah plastik.

Di sudut kompleks Puri Gading Cluster Villa Carita RT 05/RW 08, Kelurahan Jatimelati, Kecamatan Pondok Melati, para Kartini Bekasi ini tidak lagi sekadar memperjuangkan emansipasi. Mereka telah berevolusi menjadi srikandi resik, penggerak swadaya, sekaligus arsitek ekologi.

Misi utama mereka adalah menggempur sampah dan limbah plastik bernilai rendah yang sulit didaur ulang secara konvensional, seperti kantong plastik, kemasan styrofoam, hingga bubble wrap. Tak berhenti di situ, mereka juga mengolah sampah organik.

Dua jam berlalu, matahari mulai meninggi saat pasokan sampah yang ditunggu tiba. Satu per satu pengayuh becak dan pengendara motor roda tiga berdatangan. Dengan handuk kecil di leher untuk menyeka peluh, mereka membawa sisa sampah yang telah dipilah oleh warga.

Aktivitas ini berfokus mengolah sampah sesuai jenisnya: sampah organik diubah menjadi kompos dan media budidaya maggot, sedangkan limbah plastik diolah seminggu sekali menjadi kerajinan tangan hingga Bahan Bakar Minyak (BBM) cair.

Semangat para ibu ini dipicu oleh persoalan klasik bangsa: pengelolaan sampah yang belum optimal. Menurut data peneliti pusat BRIN, Indonesia menghasilkan 38 juta ton sampah pada tahun 2024, dengan 19–20 persen di antaranya berupa sampah plastik.

Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mencatat total timbulan sampah Indonesia mencapai 24,8 juta hingga 25,14 juta ton sepanjang tahun 2025.

Indonesia masih menghadapi tantangan besar: baru sekitar 34,55 persen sampah yang berhasil terkelola dengan baik. Sisanya, sekitar 65,45 persen, belum tertangani secara optimal sehingga menumpuk di TPA maupun mencemari lingkungan.

Aktivitas pengolahan di BSU Gempita Kota Bekasi, meski berkonsep skala kecil, menyelipkan pesan bagi generasi muda untuk terus berkarya dan berkontribusi positif bagi bangsa melalui upaya penekanan volume sampah secara berkelanjutan.

Hesti Warih MR mengaku, ide mengolah sampah menjadi BBM muncul saat mereka menyadari masih adanya sisa sampah plastik setelah proses pemilahan, berbeda dari konsep pengolahan sampah organik yang sebelumnya telah mereka terapkan.

Berangkat dari kondisi tersebut, para ibu ini memutar otak agar bank sampah mereka tidak lagi menyisakan residu. Pencarian solusi itu akhirnya membuahkan hasil dengan ditemukannya alat pengolah sampah plastik.

Pada saat yang sama, Pemerintah Kota Bekasi meluncurkan Program Lingkungan Masyarakat Kota Bekasi Keren (Lingkar Keren), yakni kebijakan bantuan dana hibah sebesar Rp100 juta per RW per tahun.

Lantaran cakupan aktivitasnya berada di lingkup RT 05, BSU Gempita menerima seperlima dari total bantuan tersebut. Dana itu pun langsung dimanfaatkan untuk membeli mesin pirolisis.

Mesin seharga Rp28,5 juta tersebut dibeli secara pre-order dari Blitar, Jawa Timur. Berkapasitas hingga lima kilogram dalam sekali proses, alat ini mampu mengolah limbah plastik menjadi BBM cair seperti premium, minyak tanah, dan solar.

Cara kerja mesin ini terbilang sederhana. Sampah plastik dimasukkan ke dalam tabung, dipadatkan, lalu ditutup rapat sebelum bagian bawahnya dipanaskan menggunakan gas.

Selama proses pengolahan, air dialirkan ke bagian kondensor untuk mendinginkan uap hingga menghasilkan cairan BBM. Selanjutnya, mesin akan memfilter hasil olahan secara otomatis sesuai kandungannya: BBM jenis premium, minyak tanah, maupun solar akan mengalir ke lubang penampungan masing-masing.

 

Alat tersebut tidak dioperasikan setiap hari, melainkan hanya saat jumlah sampah plastik yang terkumpul sudah mencukupi. Dari proses ini, BSU Gempita mampu menghasilkan beberapa jenis BBM.

Meski demikian, cairan yang keluar pada tahap awal masih berwarna kehitaman, sehingga memerlukan proses lanjutan agar warnanya menjadi lebih jernih.

“Masih ada tahapan berikutnya. Yang kemarin sudah dilakukan itu dengan destilasi skala lab yang dibawa ke lapangan. Hasilnya memang sudah ada, bagus, dan bening,” ujar Hesti.

 

Kendati berhasil menghasilkan bahan bakar, fokus utama BSU Gempita bukanlah memproduksi BBM, melainkan menekan volume sampah non-ekonomis agar tidak menjadi residu yang menumpuk.

BBM hasil olahan tersebut juga belum dipasarkan secara luas, melainkan baru digunakan untuk operasional internal BSU Gempita, seperti bahan bakar motor roda tiga pengangkut sampah hingga mesin pemotong rumput.

Para Kartini Bekasi ini berharap inovasi di BSU Gempita dapat direplikasi oleh bank sampah lain. Peran bank sampah diimbau tidak berhenti pada kegiatan mengumpulkan dan menjual sampah bernilai ekonomis saja.

Mereka menaruh harapan besar agar seluruh bank sampah di Indonesia memiliki fasilitas pengolahan limbah non-jual. Dengan begitu, volume sampah. terutama plastik yang sulit didaur ulang, dapat ditekan secara signifikan.

“Ke depan kami berharap semua BSU punya alat ini. Jadi tidak hanya mengumpulkan sampah anorganik yang bernilai jual, tetapi juga mengolahnya. Tidak sekadar jadi tempat mengumpulkan dan menjual,” kata Hesti Warih MR.

Di sisi lain, Pemerintah Kota Bekasi terus mengampanyekan pelestarian lingkungan melalui pengolahan sampah dari sumbernya. Masyarakat diimbau membiasakan diri memilah sampah sejak dari rumah.

Pemkot Bekasi juga mengajak lingkungan pendidikan, pusat perbelanjaan, perkantoran, hingga kawasan perdagangan untuk aktif memilah sampah sebagai langkah nyata penanganan masalah lingkungan.

Wali Kota Bekasi, Tri Adhianto Tjahjono, menyampaikan bahwa proyek pembangunan fasilitas Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) di Kecamatan Bantargebang yang dijadwalkan beroperasi awal 2028 belum cukup untuk menuntaskan seluruh persoalan sampah.

Bacaan Lainnya

Proyek Strategis Nasional (PSN) dengan kapasitas pengolahan 1.500 ton sampah per hari tersebut harus didukung gerakan swadaya masyarakat untuk mengolah sisa 300 ton sampah harian yang belum tertampung.

“Teknologi saja tidak cukup. Sebagus apa pun, tidak akan berhasil tanpa kesadaran masyarakat. Perubahan harus dimulai dari rumah: bagaimana mengurangi, memilah, dan membuang sampah dengan benar. Bekasi harus mengubah citra diri, dari tempat pembuangan sampah menjadi pusat energi baru, inovasi lingkungan, dan kawasan industri hijau. Semua itu hanya terwujud jika pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat bergerak bersama,” tegas Tri Adhianto.

Langkah BSU Gempita menjadi bukti nyata pentingnya partisipasi masyarakat. Dari mereka, publik belajar bahwa limbah plastik pun dapat diolah hingga bernilai guna dan ekonomis.

Semangat para ibu ini menjadi momentum untuk membangun kesadaran kolektif bahwa pengelolaan sampah tak sekadar mengandalkan teknologi, tetapi juga perubahan perilaku, termasuk mengikis kebiasaan membuang sampah sembarangan.

Pemilahan sampah organik dan anorganik sejak dari dapur rumah menjadi kunci krusial agar limbah tidak tercampur dan memperberat beban di tempat pembuangan akhir.

Kehadiran PSEL Bantargebang diharapkan menjadi lompatan besar dalam menguatkan sistem pengelolaan sampah di Kota Bekasi. Namun, keberhasilannya tetap bergantung pada dukungan masyarakat melalui kebiasaan sederhana: memilah sampah dari rumah dan menjaga kebersihan lingkungan.

(T.KR-PRA//H-DDN/H-DDN) 27-09-2026 14:01:07 – Kesra – Bogor

Oleh Pradita Kurniawan Syah
Editor : Dadan Ramdani

Pos terkait