TERASKALTARA.ID, MALINAU – Tradisi Berebu Pagun Safar yang kembali digelar masyarakat Kecamatan Malinau Kota tidak hanya diisi dengan doa tolak bala dan makan bersama. Salah satu rangkaian yang memiliki makna khusus adalah prosesi mandi Salamun.
Tokoh adat Tidung Kabupaten Malinau, Hj. Basrin Ilak, yang juga menjadi pembaca doa dalam kegiatan tersebut, menjelaskan bahwa tradisi Berebu Pagun Safar merupakan kebiasaan yang diwariskan para leluhur, khususnya masyarakat Tidung.
Menurutnya, pelaksanaan tolak bala sebenarnya tidak hanya dilakukan pada Rabu terakhir bulan Safar. Masyarakat juga mengenal pelaksanaan pada Rabu pertama bulan Safar sebagai bentuk ikhtiar memohon perlindungan dari berbagai bala.
“Itu sebenarnya sesuai dengan kebiasaan yang dilakukan oleh para leluhur, khususnya orang Tidung. Jadi sebenarnya Rabu bukan hanya Rabu terakhir, Rabu pertama juga diadakan acara tolak bala,” jelasnya.
Basrin mengatakan, berdasarkan pemahaman yang berkembang di tengah masyarakat dan merujuk pada hadis yang diyakini, akhir bulan Safar dipercaya sebagai waktu turunnya berbagai bala. Karena itu, masyarakat terdahulu melakukan doa dan ritual sebagai bentuk ikhtiar agar terhindar dari mara bahaya.
“Pada akhir bulan Safar itu sebanyak berapa ribu macam bala. Jadi kalau orang-orang tua kita, orang Tidung khususnya, mengingat itu mungkin turunnya di akhir bulan Safar, alangkah baiknya kita cegah juga di awal bulan Safar, di hari Rabu. Itu maksudnya,” katanya.
Salah satu bagian penting dalam rangkaian tersebut adalah mandi Salamun. Basrin menjelaskan, prosesi itu memiliki bacaan doa tersendiri dan dilakukan khususnya pada pelaksanaan mandi di akhir bulan Safar.
“Jadi ini tadi mengenai mandi Salamun, itu memang ada ayatnya sendiri, ada doanya sendiri. Itu seperti yang saya bacakan terakhir tadi, itu Salamun. Itu terutama untuk mandi, mandi bulan Safar terakhir,” ujarnya.
Mandi Salamun, lanjutnya, juga dimaknai sebagai doa dan harapan agar masyarakat diberikan berbagai kebaikan dalam kehidupan. Bagi mereka yang sedang sakit diharapkan memperoleh kesembuhan, yang belum mendapatkan jodoh dipertemukan dengan pasangan, serta mereka yang sedang mencari rezeki diberikan kelancaran.
“Maksudnya, supaya siapa tahu kalau yang sakit, insya Allah mudah-mudahan cepat disembuhkan. Yang katanya belum dapat jodoh, insya Allah dapat jodoh. Yang belum ketemu rezeki, mudah-mudahan diberikan rezeki,” tuturnya.
Dalam pelaksanaannya,Makna Spiritual ‘Ayat Salamun’ Secara mendalam, pembacaan tujuh ayat keselamatan atau Ayat Salamun dalam tahapan ini menyimpan makna filosofis tentang penyerahan diri dan permohonan perlindungan. Kalimat-kalimat yang dilantunkan, seperti petikan Surah Yasin, Az-Zumar, hingga Al-Qadr, memuat pesan tentang jaminan keselamatan, kedamaian, serta kasih sayang Sang Pencipta.
Penderetan nama-nama nabi dalam Surah As-Saffat yang dibacakan juga menjadi simbol keteladanan agar masyarakat dianugerahi keteguhan mental dan ketabahan menghadapi cobaan hidup
Rangkaian ayat tersebut dijadikan landasan spiritual oleh masyarakat lokal untuk menyucikan niat dan membentengi diri di bulan Safar. Dipadukan dengan siraman air beraroma bunga wangi, perpaduan doa dan simbolisme alam ini menjadi sarana ikhtiar bersama agar kehidupan warga senantiasa dibersihkan dari marabahaya, dipenuhi ketenangan batin, serta memancarkan kebaikan dalam wujud kesehatan, kelancaran rezeki, hingga keharmonisan sosial.
Untuk penyiraman, air cukup disiramkan sebanyak tiga kali, yakni pada bagian atas kepala, sisi kanan dan sisi kiri.
“Kita nyiram cukup tiga kali, atas kanan kiri,” jelas Basrin.
Ia juga menjelaskan, doa Salamun yang ditulis dan diikatkan pada bagian kepala peserta merupakan bagian dari rangkaian doa dalam prosesi tersebut. Tulisan yang digunakan merupakan doa Salamun, meski dalam praktiknya tidak selalu ditulis secara lengkap.
Sementara itu, penggunaan bunga dalam air mandi Salamun juga memiliki makna tersendiri. Bunga yang digunakan pada dasarnya merupakan bunga yang memiliki aroma harum.
Menurut Basrin, aroma bunga tersebut menjadi simbol harapan agar tubuh orang yang menjalani prosesi mandi Salamun juga memperoleh keharuman.
“Itu bunga-bunga itu, itu kan wangi-wangi. Supaya yang diharapkan, semoga badan orang yang dimandikan dengan aroma-aroma bunga itu semoga begitu juga. Wangi,” katanya.
Dengan demikian, mandi Salamun dalam tradisi Berebu Pagun Safar tidak sekadar menjadi prosesi budaya. Bagi masyarakat yang menjalankannya, kegiatan tersebut merupakan bagian dari ikhtiar, doa dan harapan untuk memperoleh keselamatan, kesehatan, rezeki serta kebaikan dalam kehidupan.
Tradisi tersebut sekaligus menjadi bagian dari warisan leluhur masyarakat Tidung yang terus dipertahankan dan diwariskan kepada generasi berikutnya di tengah masyarakat Malinau Kota. (*ntl)







