Menuju Warisan Budaya Indonesia, Berebu Pagun Safar Tradisi Tolak Bala Masyarakat Malinau Kota Telah di Nilai Kemenbud

berebu-pagun-safar-malinau-scaled.jpeg
Ket Foto: Salah satu anak yang mengikuti prosesi Berebu Pagun Safar di Kecamatan Malinau Kota.

TERASKALTARA.ID, MALINAU – Tradisi Berebu Pagun Safar yang dilestarikan masyarakat Kecamatan Malinau Kota, Kabupaten Malinau, terus didorong untuk mendapatkan pengakuan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia. Tradisi masyarakat Tidung yang sarat dengan doa keselamatan dan tolak bala tersebut sebelumnya telah melalui tahapan penilaian di tingkat Provinsi Kalimantan Utara.

Camat Malinau Kota Muhammad Yusuf mengatakan, Berebu Pagun Safar merupakan salah satu tradisi leluhur yang memiliki nilai budaya dan spiritual kuat di tengah masyarakat. Pengusulan sebagai WBTb menjadi bagian dari upaya memperkenalkan sekaligus menjaga keberlangsungan tradisi tersebut.

“Berebu Pagun Safar sebagai salah satu warisan budaya takbenda yang beberapa waktu yang lalu ditampilkan di tingkat Provinsi Kalimantan Utara,” ujarnya.

Dalam proses penilaian, dirinya yang ditetapkan sebagai maestro tidak dapat hadir karena padatnya agenda pemerintahan. Karena itu, pihaknya meminta Ujang Samsul untuk mewakili sebagai maestro dalam tahapan uji penilaian yang melibatkan narasumber dari Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia dan Pemerintah Provinsi Kalimantan Utara.

Berdasarkan informasi yang diterima, Berebu Pagun Safar menjadi salah satu tradisi yang berpeluang ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia.

“Kita berdoa bersama semoga kebiasaan, tradisi dan budaya ini bisa dikenal dan bisa menjadi salah satu warisan budaya di Republik Indonesia, khususnya di Kabupaten Malinau,” katanya.

Yusuf menjelaskan, Berebu Pagun Safar merupakan kegiatan pembacaan doa bersama, khususnya doa keselamatan dan tolak bala. Pelaksanaannya secara turun-temurun dikenal masyarakat pada Rabu terakhir bulan Safar.

Tradisi tersebut menjadi bentuk ikhtiar masyarakat untuk memohon perlindungan dari berbagai musibah, bencana dan mara bahaya, sekaligus mempererat kebersamaan antarwarga.

“Berebu Pagun Safar ini artinya kegiatan pembacaan doa, khususnya doa selamat dan tolak bala secara bersama-sama di masyarakat Kecamatan Malinau Kota yang dilaksanakan di Rabu terakhir,” jelasnya.

Sementara itu, Tokoh adat Tidung Kabupaten Malinau, Hj. Basrin Ilak, yang juga menjadi pembaca doa dalam pelaksanaan Berebu Pagun Safar, menjelaskan bahwa tradisi tersebut merupakan kebiasaan yang diwariskan oleh para leluhur masyarakat Tidung.

Menurutnya, pelaksanaan tolak bala sebenarnya tidak hanya dilakukan pada Rabu terakhir bulan Safar. Masyarakat Tidung juga mengenal pelaksanaan pada Rabu pertama bulan Safar sebagai bentuk ikhtiar memohon perlindungan.

“Itu sebenarnya sesuai dengan kebiasaan yang dilakukan oleh para leluhur, khususnya orang Tidung. Jadi sebenarnya Rabu bukan hanya Rabu terakhir, Rabu pertama juga diadakan acara tolak bala,” ungkap Basrin.

Ia mengatakan, pemahaman yang berkembang di tengah masyarakat mengenai bulan Safar menjadi salah satu alasan tradisi tersebut terus dipertahankan. Doa dan ritual dilakukan sebagai bentuk ikhtiar agar masyarakat dijauhkan dari berbagai mara bahaya.

Salah satu bagian yang menjadi ciri dalam rangkaian Berebu Pagun Safar adalah prosesi mandi Salamun. Prosesi tersebut dilakukan dengan pembacaan doa tertentu yang mengandung permohonan keselamatan dan kebaikan.

Basrin menjelaskan, penyiraman air dalam prosesi mandi Salamun dilakukan sebanyak tiga kali, yakni pada bagian atas kepala, sisi kanan dan sisi kiri.

“Kita nyiram cukup tiga kali, atas, kanan, kiri,” jelasnya.

Dalam prosesi tersebut juga terdapat pembacaan Ayat Salamun yang dimaknai sebagai doa keselamatan dan permohonan perlindungan. Rangkaian doa menjadi bagian penting dalam menyucikan niat serta memohon agar masyarakat dijauhkan dari marabahaya.

Doa tersebut juga menjadi sarana bagi masyarakat untuk memanjatkan berbagai harapan dalam kehidupan. Mereka yang sedang sakit didoakan agar memperoleh kesembuhan, yang belum mendapatkan jodoh diharapkan dipertemukan dengan pasangan, sementara mereka yang sedang mencari rezeki diharapkan diberikan kelancaran.

“Maksudnya, supaya siapa tahu kalau yang sakit, insya Allah mudah-mudahan cepat disembuhkan. Yang katanya belum dapat jodoh, insya Allah dapat jodoh. Yang belum ketemu rezeki, mudah-mudahan diberikan rezeki,” tuturnya.

Selain doa, penggunaan bunga beraroma harum dalam air mandi Salamun juga memiliki makna simbolis. Harumnya bunga dimaknai sebagai harapan agar kehidupan orang yang mengikuti prosesi tersebut dipenuhi kebaikan.

“Itu bunga-bunga itu kan wangi-wangi. Supaya yang diharapkan, semoga badan orang yang dimandikan dengan aroma-aroma bunga itu semoga begitu juga. Wangi,” katanya.

Tradisi Berebu Pagun Safar dengan demikian tidak hanya menjadi kegiatan keagamaan dan budaya, tetapi juga menjadi ruang kebersamaan masyarakat dalam mempertahankan warisan leluhur.

Dengan proses pengusulan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia, masyarakat berharap Berebu Pagun Safar semakin dikenal dan keberadaannya tetap terjaga di tengah perkembangan zaman.

Tradisi tersebut sekaligus menjadi bagian dari identitas masyarakat Tidung di Kabupaten Malinau yang diwariskan dari generasi ke generasi melalui doa, kebersamaan dan nilai-nilai kearifan lokal. (*ntl)

Pos terkait