Minyak Kita ‘Menghilang’ di Jalur Resmi, Harga di Pasar Malinau Melejit hingga Rp30 Ribu

TERASKALTARA.ID, MALINAU – Fenomena lonjakan harga minyak goreng subsidi merek Minyak Kita di Kabupaten Malinau kian mengkhawatirkan. Di tengah harga resmi yang masih bertahan di kisaran Rp15 ribuan per liter, produk tersebut justru sulit ditemukan di pasaran dan dijual jauh di atas harga eceran tertinggi (HET), bahkan menembus Rp25 ribu hingga Rp30 ribu per liter.

Kepala Bagian Perdagangan Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, dan UKM (Disperindagkop) Malinau, Yeni, mengungkapkan bahwa harga Minyak Kita dari jalur resmi masih sesuai ketentuan pemerintah. Namun, keterbatasan pasokan menjadi kendala utama di lapangan.

“Kalau dari Bulog masih di kisaran Rp15.700 per liter sesuai HET, tapi memang kuotanya terbatas, jadi tidak semua kebutuhan pasar bisa terpenuhi,” ujarnya saat dikonfirmasi, Senin (27/4).

Kondisi ini diduga memicu ketimpangan distribusi, sehingga Minyak Kita lebih banyak beredar di luar jalur resmi yang sulit dipantau pemerintah. Akibatnya, harga di tingkat pedagang melonjak drastis mengikuti mekanisme pasar.

“Yang beredar di luar jalur resmi itu yang sulit kami kontrol, sehingga harga di lapangan bisa jauh di atas ketentuan,” jelasnya.

Ia menambahkan, ketika harga Minyak Kita sudah menyentuh Rp25 ribu per liter, maka posisinya tidak lagi berbeda dengan minyak goreng komersial.

“Kalau sudah di angka itu, sebenarnya sudah setara dengan minyak merek lain di pasaran,” katanya.

Di sisi lain, harga minyak goreng komersial juga mengalami kenaikan. Berdasarkan pantauan di lapangan, salah satu merek seperti Bimoli bahkan telah menembus sekitar Rp28 ribu per kilogram, lebih tinggi dari kisaran harga sebelumnya.

Seorang pedagang di Pasar Induk Malinau, Eni, mengaku kenaikan harga Minyak Kita terjadi dalam waktu singkat dan diikuti dengan menipisnya stok di pasaran.

“Sekarang harga satu dus isi satu liter bisa sampai Rp265 ribu sampai Rp270 ribu, padahal sebelumnya sekitar Rp215 ribu. Kalau eceran saya jual Rp25 ribu per liter, bahkan sudah mulai naik lagi,” ungkapnya.

Ia juga menyebut pasokan dari distributor semakin sulit diperoleh, sehingga pedagang harus membeli dengan harga lebih tinggi.

“Barangnya juga susah dicari, di toko-toko banyak yang kosong. Kami ambil sudah mahal, jadi jualnya juga ikut naik,” katanya.

Menurutnya, kenaikan memang terjadi pada hampir semua jenis minyak goreng, namun Minyak Kita menjadi yang paling terasa lonjakannya karena sebelumnya dikenal sebagai alternatif murah bagi masyarakat.

Perbedaan harga yang mencolok antara jalur resmi dan harga pasar ini memunculkan pertanyaan terkait efektivitas distribusi dan pengawasan. Koordinasi antara pihak terkait dinilai perlu diperkuat agar pasokan merata dan harga tetap terkendali di tingkat konsumen.

Pos terkait