TERASKALTARA.ID, TARAKAN — Warga pesisir Tarakan perlu mewaspadai potensi banjir rob pada 14–15 Agustus 2026. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Tarakan memprediksi muka air laut akan mencapai 3,3 hingga 3,6 meter pada puncak pasang, terutama pada pagi hari.
Prakirawan BMKG Tarakan, Muhammad Reza Saputra, mengatakan puncak ketinggian muka laut diperkirakan terjadi sekitar pukul 08.00–09.00 Wita. Kondisi tersebut berkaitan dengan fase bulan baru yang berlangsung pada 12–13 Agustus.
“Puncaknya itu pada tanggal 14 sampai 15 Agustus dengan ketinggian maksimum, pertambahan tinggi maksimumnya itu hingga 3,6 meter,” kata Reza, Kamis (13/8/2026).
Reza menjelaskan, angka 3,6 meter yang diprediksi BMKG bukan berarti air laut akan mengalami kenaikan setinggi 3,6 meter dari kondisi normal. Angka tersebut menunjukkan posisi muka air laut yang diukur dari titik surut terendah.
“3,6 itu artinya pada waktu tersebut permukaan air laut itu berada tepat pada 3,6 meter di atas titik surut terendah. Jadi bukan pertambahan 3,6 meter,” jelasnya.
Pada 13–14 Agustus, tinggi muka air laut diperkirakan berada di sekitar tiga meter. Selanjutnya, muka air laut berpotensi kembali naik sekitar 0,3 meter hingga mencapai 3,3–3,6 meter pada periode puncak.
“Jadi mungkin ada pertambahan naiknya sekitar 0,3 meter,” ujarnya.
Kondisi tersebut menjadi perhatian karena ambang prediksi pasang surut BMKG menunjukkan ketinggian muka air laut minimal 3,3 meter sudah berpotensi memicu banjir rob di Tarakan.
“Kalau di BMKG yang ditetapkan ini, apabila prediksi pasut itu minimal 3,3 ke atas, itu sudah potensi banjir rob,” kata Reza.
Untuk fenomena pasang tinggi pada fase bulan baru Agustus ini, BMKG memfokuskan potensi tersebut berdasarkan prediksi pasang surut di wilayah Tarakan. BMKG belum menyatakan kondisi yang sama sebagai prediksi untuk seluruh wilayah Kalimantan Utara.
Reza juga menegaskan, kenaikan muka air laut akibat pasang tidak secara langsung menunjukkan kondisi gelombang laut akan tinggi.
Menurutnya, tinggi gelombang lebih dipengaruhi faktor meteorologis, terutama kecepatan angin. Karena itu, fenomena pasang tinggi pada 14–15 Agustus lebih berkaitan dengan posisi muka air laut yang meningkat.
“Kalau ketinggian gelombang untuk melaut itu pengaruhnya lebih ke kecepatan angin, sehingga gelombang pasang ini hanya pertambahan ketinggian muka laut saja,” jelasnya.
Dengan puncak pasang diperkirakan terjadi pada pagi hari, sekitar pukul 08.00–09.00 Wita, masyarakat di kawasan pesisir Tarakan diimbau memperhatikan kondisi lingkungan sekitar, khususnya wilayah yang memiliki riwayat terdampak banjir rob.
“Puncak kenaikan muka laut diperkirakan berlangsung pada pagi hari sekitar pukul 08.00–09.00 Wita, dengan ketinggian maksimum mencapai sekitar 3,6 meter di atas titik surut terendah,” sebut Reza.







