TERASKALTARA.ID, TARAKAN — Lonjakan harga tiket pesawat kembali mengguncang daya beli masyarakat dan menjadi pemicu utama kenaikan inflasi di Kota Tarakan pada Mei 2026. Setelah sempat mengalami deflasi pada April, inflasi Tarakan berbalik arah dan tercatat naik sebesar 0,41 persen secara bulanan (month to month/m-to-m).
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Tarakan, Umar Riyadi, menegaskan sektor transportasi, khususnya angkutan udara, menjadi penyumbang dominan terhadap kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) pada periode tersebut.
“Pada Mei 2026 Kota Tarakan mengalami inflasi month to month sebesar 0,41 persen, dan angkutan udara memberikan andil dominan terhadap inflasi,” ujar Umar, Selasa (9/6/2026).
Menurutnya, ketergantungan tinggi terhadap transportasi udara di wilayah kepulauan seperti Tarakan membuat harga tiket pesawat sangat berpengaruh terhadap pergerakan inflasi.
“Kelompok transportasi, khususnya angkutan udara, menjadi penyumbang utama inflasi pada periode ini,” tegasnya.
Secara rinci, kelompok transportasi menyumbang inflasi terbesar dengan andil 0,37 persen. Dari angka tersebut, angkutan udara menjadi komoditas utama dengan kontribusi mencapai 0,3275 persen, jauh melampaui komoditas lainnya.
Selain transportasi, kelompok penyediaan makan minum/restoran juga turut menyumbang inflasi sebesar 0,14 persen. Sementara itu, kelompok perumahan, air, listrik, bahan bakar rumah tangga, serta perlengkapan rumah tangga memberikan kontribusi relatif kecil, yakni di kisaran 0,01 hingga 0,03 persen.
Di sisi lain, beberapa kelompok justru menahan laju inflasi. Di antaranya perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 0,09 persen serta kelompok makanan, minuman, dan tembakau sebesar 0,05 persen.
“Selain transportasi, ada kelompok yang menahan laju inflasi, sehingga secara agregat inflasi masih berada pada level terkendali,” jelas Umar.
Dari sisi komoditas, inflasi juga didorong oleh sejumlah bahan pangan dan makanan siap saji, seperti bakso siap santap, sawi hijau, minyak goreng, es, soto, bahan bakar rumah tangga, sepeda motor, tomat, dan beras.
Sementara itu, tekanan deflasi berasal dari komoditas seperti emas perhiasan, telur ayam ras, daging ayam ras, cabai rawit, bawang merah, hingga sayuran seperti bayam dan terong.
“Dari sisi komoditas, inflasi terutama didorong oleh kebutuhan makanan dan transportasi, sementara deflasi ditahan oleh komoditas seperti emas perhiasan dan bahan pangan tertentu,” ungkapnya.
Secara kumulatif, inflasi Tarakan tercatat sebesar 1,42 persen (year to date/y-to-d). Adapun inflasi tahunan (year on year/y-on-y) berada di level 3,08 persen, sedikit lebih tinggi dibandingkan inflasi Provinsi Kalimantan Utara yang berada di angka 2,90 persen, namun masih sejalan dengan inflasi nasional.
Umar menegaskan, ke depan pengendalian inflasi perlu difokuskan pada komponen yang paling sensitif, terutama transportasi udara yang sangat dipengaruhi oleh lonjakan permintaan dan mobilitas masyarakat.
“Pengendalian inflasi tetap memerlukan perhatian bersama, terutama pada komponen yang sangat sensitif seperti transportasi udara,” pungkasnya.(*)






