TERASKALTARA.ID, JAKARTA. 11/6 (ANTARA) – Di banyak negara berkembang, termasuk Indonesia, boleh jadi orang baru belajar mengenal dan memanfaatkan kecerdasan artifisial atau artificial intelligence (AI).
Namun, di China, pembicaraan tentang AI mulai bergerak ke arah yang lebih konkret. Teknologi tidak lagi dipandang sebagai sesuatu yang berdiri sendiri, melainkan sebagai alat untuk menyelesaikan persoalan nyata yang dihadapi industri dan masyarakat.
Gambaran itu setidaknya terlihat jelas dalam Pameran Industri Pelayaran Internasional Tianjin atau Tianjin International Shipping Industry Expo (TISIE) yang keempat di Tianjin, China utara.
Pameran yang berlangsung pada awal Juni 2026 itu mengangkat tema tentang pelayaran global dan masa depan yang dibuka oleh AI.
Sekilas, tema tersebut terdengar teknis dan hanya fokus untuk dunia maritim saja. Namun, jika dicermati lebih dalam, ada pelajaran yang jauh lebih besar yang bisa dipetik oleh negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.
Pelajaran itu bukan semata tentang teknologi, melainkan cara berpikir dalam menghadapi perubahan yang demikian dinamis.
China, selama beberapa dekade dikenal sebagai negara manufaktur terbesar di dunia. Kini, negeri tirai bambu itu berusaha melangkah lebih jauh dengan menjadikan teknologi digital dan AI sebagai bagian dari sistem industri nasional.
Hal yang menarik, fokusnya bukan pada menciptakan teknologi yang terlihat spektakuler semata, tetapi bagaimana teknologi tersebut dapat membuat sistem bekerja lebih baik, lebih efisien, dan lebih responsif terhadap perubahan.
Dalam pameran tersebut, berbagai bidang ditampilkan, mulai dari pelayaran hijau, peralatan maritim, hingga layanan logistik.
Semua sektor itu pada dasarnya merupakan urat nadi perdagangan global. Di tengah meningkatnya volume perdagangan dunia, kompleksitas rantai pasok serta tuntutan efisiensi yang semakin tinggi, penggunaan AI dipandang sebagai kebutuhan yang tidak bisa dihindari.
Kepala Informasi Institut Pelayaran Internasional Shanghai, Xu Kai, kepada media memberikan gambaran menarik mengenai arah perkembangan tersebut.
Menurutnya, China telah membangun jaringan terminal kontainer otomatis terbesar di dunia. Berbagai terobosan dilakukan dalam teknologi derek pelabuhan, kendaraan pemandu cerdas, hingga sistem penumpukan barang otomatis.
Namun, yang lebih menarik bukanlah keberadaan mesin-mesin tersebut. Xu menekankan tantangan berikutnya terkait bagaimana seluruh peralatan itu mampu beradaptasi terhadap perubahan kondisi secara real time.
Kapal bisa datang lebih cepat atau lebih lambat. Cuaca bisa berubah mendadak. Arus barang dapat melonjak tanpa diduga.
Dalam situasi seperti itu, mesin tidak cukup hanya menjalankan perintah yang telah diprogram sebelumnya. AI dituntut mampu memahami kondisi yang berubah, melakukan penalaran, lalu mengambil keputusan yang membantu sistem bekerja secara optimal.
Beda tantangan
Hal ini memberikan pelajaran penting. Pada era sebelumnya, banyak organisasi mengejar digitalisasi sebatas memindahkan proses manual ke sistem komputer.
Kini, tantangannya berbeda. Teknologi harus mampu membantu manusia memahami kompleksitas yang semakin tinggi dan mengambil keputusan yang lebih baik.
Indonesia, sesungguhnya menghadapi tantangan yang tidak jauh berbeda. Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, efisiensi pelabuhan dan logistik merupakan faktor penting yang menentukan daya saing ekonomi.
Ketika AI dimanfaatkan untuk mempercepat pergerakan barang, mengurangi biaya logistik, dan meningkatkan akurasi pengambilan keputusan, manfaatnya tidak hanya dirasakan perusahaan besar, tetapi juga pengusaha UMKM yang bergantung pada kelancaran distribusi.
Di sisi lain, China juga menjadi salah satu negara yang dikenal sangat berani untuk membangun visi jangka panjang.
CEO Lloyd’s List Intelligence, Waqas Samad, kepada wartawan menyebut China sebagai pemilik armada kapal terbesar di dunia, pembangun kapal terbesar, sekaligus produsen kontainer pelayaran terbesar.
Namun, menurutnya, yang lebih penting adalah fakta bahwa China, kini merepresentasikan masa depan industri pelayaran global.
Hal itu berarti bukan hanya berbicara tentang ukuran ekonomi. Hal yang diapresiasi adalah kemampuan menggabungkan infrastruktur, konektivitas, teknologi, dan kecerdasan ke dalam satu ekosistem yang saling terhubung.
Banyak negara mampu membangun pelabuhan. Banyak pula yang mampu membeli teknologi. Namun, membangun ekosistem yang membuat semuanya bekerja secara terpadu membutuhkan konsistensi kebijakan, investasi sumber daya manusia, dan keberanian untuk berpikir jauh melampaui kebutuhan hari ini.
Bagi Indonesia, pelajaran ini mungkin diimplementasikan untuk berbagai sektor. Masa depan tidak hanya ditentukan oleh berapa banyak infrastruktur yang dibangun, tetapi juga oleh kemampuan mengintegrasikan teknologi, data, dan talenta manusia ke dalam sistem yang produktif.
AI dan manusia
Kemudian, yang tidak kalah penting adalah pelajaran tentang cara memandang hubungan antara manusia dan AI.
Presiden Federasi Internasional Asosiasi Perusahaan Layanan Logistik Thomas Sim mengingatkan bahwa AI seharusnya meningkatkan kemampuan manusia, bukan menggantikannya.
AI harus membantu perusahaan logistik menjadi lebih baik dalam mengambil keputusan, bukan menghilangkan tanggung jawab profesional yang selama ini menjadi fondasi kepercayaan pelanggan.
Terlebih, kini, di tengah berbagai kekhawatiran bahwa AI akan menghapus jutaan pekerjaan manusia.
Sejarah menunjukkan bahwa setiap revolusi teknologi memang mengubah jenis pekerjaan yang ada. Namun, teknologi yang berhasil biasanya bukan yang menggantikan manusia sepenuhnya, melainkan yang membuat manusia mampu melakukan pekerjaan dengan lebih baik.
Ketika komputer hadir, akuntan tidak hilang. Ketika internet berkembang, jurnalis tidak lenyap. Hal yang berubah adalah cara bekerja dan keterampilan yang dibutuhkan.
Demikian pula dengan AI. Teknologi ini akan menjadi alat bantu yang semakin kuat, tetapi tetap membutuhkan manusia untuk menentukan tujuan, menilai dampak, mempertimbangkan etika, dan bertanggung jawab atas keputusan yang diambil.
Wakil Presiden China Merchants Group Limited, Feng Boming, juga telah mengingatkan bahwa semakin besar kemampuan dan otonomi AI, semakin besar pula tanggung jawab yang harus dipikul.
Menurut Feng, AI, kini, telah berkembang dari sekadar asisten percakapan menjadi agen cerdas yang mampu memahami tujuan, memanfaatkan berbagai alat, dan menjalankan tugas tertentu secara mandiri.
Namun, di balik kemampuan tersebut, muncul pula risiko keamanan dan tantangan tata kelola yang semakin kompleks.
Peringatan ini menunjukkan kedewasaan dalam memandang teknologi. China tidak hanya berbicara mengenai peluang, tetapi juga mengenai risiko.
Di sinilah mungkin pelajaran terbesar yang bisa dipetik. Kemajuan teknologi bukan tentang mengejar kecanggihan semata. Kemajuan yang sesungguhnya adalah kemampuan memanfaatkan teknologi secara bertanggung jawab untuk meningkatkan kualitas hidup manusia.
Ketika dunia memasuki era AI, yang akan menentukan masa depan bukan hanya siapa yang memiliki teknologi paling canggih. Hal yang lebih penting adalah siapa yang mampu menyiapkan manusia, membangun ekosistem, menjaga keamanan, dan memastikan teknologi digunakan untuk kepentingan yang lebih luas.
Bagi Indonesia, tantangannya mungkin bukan apakah perlu atau tidak menggunakan AI. Teknologi itu sudah hadir. Tantangan sesungguhnya adalah seberapa cepat bangsa ini mau belajar memanfaatkan AI secara bijak dan efektif untuk menyelesaikan persoalan kehidupan.
Oleh Hanni Sofia
Editor : Masuki M Astro






