TERASKALTARA.ID, BULUNGAN — Bupati Bulungan, Syarwani, S.Pd, M.Si, Wakil Bupati, Kilat, A.Md bersama Rektor Universitas Kaltara (Unikaltar), Dr Didi Adriansyah, S.TP dan Guru Besar Tani Nelayan Center Insitut Pertanian Bogor (IPB), Dr Ir Jono Mintarto Munandar, M.Sc berkunjung ke Sekolah Lapangan di Kawasan Agrokompleks di wilayah Desa Long Buang, Kecamatan Peso pada Senin (10/8). Program Sekolah Lapangan Agrokompleks menjadi proyek percontohan (pilot) project pertama di Bulungan yang melibatkan generasi muda di desa di Integrated Area Development (IAD) Lanskap Kayan untuk mendorong pertanian terpadu, produktif dan berkelanjutan.
Peserta Sekolah Lapangan melibatkan 30 pemuda dari 10 desa di Lanskap Kayan di mana tiap desa mengirimkan 3 orang serta didukung oleh mahasiswa Unikaltar. Bupati menjelaskan pentingnya kolaborasi lintas sektor, regenerasi petani serta perubahan paradigma dalam mengelola sektor pertanian, perkebunan dan perikanan.
“Kami dari Pemkab menyampaikan apresiasi kepada lembaga YKAN (Yayasan Konservasi Alam Nusantara) selaku inisiator, penyusun desain, dan kurikulum Sekolah Lapangan serta kepada PT Gawi Plantation, para tokoh agama, camat, kapolsek, para kepala desa serta seluruh kepala adat dan tokoh masyarakat setempat atas dukungannya,” ucap Bupati.
Diterangkan, kegiatan ini dirancang selaras dengan arah pembangunan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bulungan dan visi strategis pemerintah daerah yang terangkum dalam tagline ‘Bulungan Bisa’ (Berdaulat, Inklusif, Sinergi, dan Adaptif). Program ini dipusatkan di Desa Long Buang sebagai bagian dari pengembangan kawasan terpadu (IAD) berbasis agrokompleks di Koridor Barat, yang difokuskan untuk menjawab isu ketahanan pangan nasional maupun daerah.
Salah satu poin krusial yang disampaikan adalah urgensi regenerasi petani. Bupati menegaskan bahwa pembangunan sektor pertanian dan perkebunan tidak boleh lagi hanya bertumpu pada generasi tua, melainkan harus mulai dikelola oleh anak-anak muda yang memiliki kapasitas, komitmen, dan pemikiran modern.
Untuk itu, diperlukan perubahan paradigma berpikir yang mendasar. Pertanian tidak boleh lagi dipandang sebagai aktivitas subsisten yang hanya bertujuan memenuhi kebutuhan pangan rumah tangga selama 1 tahun. Sebaliknya, pertanian harus dikelola secara profesional agar memiliki nilai jual tinggi, menghasilkan keuntungan finansial, dan mampu memenuhi berbagai kebutuhan hidup lainnya.
Dalam aspek teknis pengelolaan lahan, Sekolah Lapangan mengajarkan inovasi pola tanam guna mengatasi karakteristik tanah lokal yang memiliki lapisan unsur hara tipis. Pola ladang berpindah tradisional yang membutuhkan waktu pemulihan hingga 5 tahun harus diimbangi dengan diversifikasi tanaman.
Bupati menyarankan agar lahan pertanian diselingi dengan tanaman produktif jangka pendek seperti cabai (panen dalam 60 hari) dan jagung (panen dalam 90 hari), serta tanaman keras jangka panjang seperti rambutan, kopi, atau cokelat.
“Melalui strategi ini, para petani dapat memperoleh pendapatan yang berkesinambungan, baik yang bersifat mingguan, bulanan, maupun investasi jangka panjang,” ujarnya.
Sebagai contoh sukses, Bupati membagikan pengalaman pada tahun 2022 saat membagikan 30.000 entris cokelat dari Puslitkoka (Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia) Jember di Desa Antutan, yang kini telah berhasil dipanen secara produktif.
Bupati menekankan pentingnya memberikan nilai tambah pada hasil panen. Misalnya, dengan tidak menjual biji cokelat basah seharga Rp15.000, melainkan mengolahnya menjadi biji kering dengan kadar air 7-10% sehingga harganya meningkat menjadi Rp30.000.
Bahkan, Desa Pejalin dan Antutan kini telah melangkah lebih jauh dengan mengolah cokelat menjadi bubuk siap konsumsi. Keberhasilan ini diharapkan dapat direplikasi di Kecamatan Peso, khususnya untuk komoditas kopi dan cokelat yang sangat cocok dengan kondisi geografis setempat.
Selain sektor pertanian dan perkebunan, konsep Agrokompleks ini juga mengintegrasikan sektor perikanan dengan dukungan penuh dari Dinas Perikanan. Bupati secara khusus meminta agar fokus budidaya diarahkan pada pengembangan spesies ikan endemik Sungai Kayan, seperti ikan Mit, ikan Pelian, ikan Badak, dan ikan Kalo (gurame air tawar).
“Terkait ikan Kalo, hasil studi di Tanjung Palas Barat yang menunjukkan bahwa spesies ini sangat langka dan hampir tidak ditemukan di wilayah lain di Indonesia. Oleh karena itu, domestikasi dan budidaya lokal sangat penting untuk mencegah klaim paten dari pihak luar sekaligus meningkatkan kesejahteraan ekonomi masyarakat melalui pemanfaatan aliran sungai di sekitar desa,” imbuhnya.
Mengenai metode pembelajaran selama 8 kali pertemuan di Sekolah Lapang, Bupati menyarankan agar kurikulum dikemas secara lebih praktis dan interaktif (learning by doing). Proses belajar sebaiknya dilakukan langsung di lahan pertanian sambil memegang alat, alih-alih terlalu banyak menghabiskan waktu dengan teori di dalam kelas yang berpotensi menimbulkan kejenuhan.
“Bukan menjadi hambatan kalau ada perbedaan latar belakang pendidikan para peserta Sekolah Lapangan, baik dari fakultas sosial, ekonomi, maupun non-pertanian, selama ada komitmen dan keseriusan untuk belajar,” pesan Bupati.
Sebagai langkah konkret paska-pelatihan, Bupati berkomitmen untuk mengadakan pertemuan khusus dengan 10 kepala desa se-Kecamatan Peso guna merumuskan tindak lanjut kolaboratif. Setiap desa diharapkan dapat menyediakan dan memaksimalkan lahan produktif mandiri, minimal seluas seperempat hingga setengah hektar, untuk dikelola secara fokus oleh para alumni Sekolah Lapang.
Dengan demikian, para peserta tidak hanya membawa pulang ilmu, tetapi juga menjadi magnet yang menarik minat pemuda lain untuk membangun pertanian modern di desa mereka masing-masing. Pemkab menjamin dukungan penuh terhadap keberlanjutan program ini, dengan catatan bahwa bantuan yang diberikan harus diimplementasikan secara nyata dan bertanggung jawab demi kesejahteraan bersama.







