TERASKALTARA.ID, MALINAU – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malinau mulai menyiapkan langkah khusus untuk mempercepat penanggulangan tuberkulosis (TBC), menyusul karakter penyakit tersebut yang dinilai mudah menular dan kerap tidak disadari masyarakat.
Sebagai langkah awal, Pemkab Malinau akan melakukan pengujian penanganan TBC di lima kecamatan terdekat. Hasil pengujian tersebut nantinya menjadi bagian dari pilot project untuk melihat pola kolaborasi lintas sektor dalam menemukan dan menangani masyarakat yang terindikasi TBC.
Sekretaris Daerah (Sekda) Malinau, Dr. Ernes Silvanus, mengatakan penanggulangan TBC tidak bisa hanya mengandalkan Dinas Kesehatan dan puskesmas. Pemerintah daerah perlu melibatkan seluruh unsur hingga tingkat kecamatan, desa dan RT.
Hal tersebut disampaikan Ernes saat diwawancarai usai membuka pertemuan lintas sektoral percepatan penanggulangan TBC di Ruang Laga Feratu, Rabu (26/8).
“Memang kita sudah diskusi dengan Dinas Kesehatan untuk penanganan dua hal. Yang pertama stunting, yang kedua TB. Hari ini TB karena penyakit ini dia tidak terlihat dan penyebarannya sangat cepat,” ujar Ernes.
Menurutnya, salah satu persoalan yang perlu mendapat perhatian adalah gejala TBC yang sering dianggap sebagai keluhan biasa. Batuk yang berlangsung lebih dari dua minggu, misalnya, perlu mendapat perhatian dan pemeriksaan lebih lanjut.
“Jadi dia bisa menyebarkan ke 10 sampai 11 orang dalam bentuk komunikasi seperti ini. Dan itu tandanya sederhana, mungkin batuk yang lebih dari 2 minggu yang dianggap sebagai hal yang biasa,” jelasnya.
Melalui pengujian di lima kecamatan, Pemkab Malinau ingin melihat bagaimana mekanisme penanganan dapat dilakukan secara terpadu. Tidak hanya dari sisi medis, tetapi juga bagaimana pemerintah di tingkat wilayah dapat membantu menemukan masyarakat yang memiliki indikasi TBC.
“Kita nanti uji di lima kecamatan terdekat sambil nanti membangun pilot project, kira-kira bagaimana kolaborasi dari lintas sektor, kemudian bagaimana penanganannya, sehingga ke depan apa yang harus kita lakukan terhadap daerah-daerah orang-orang yang terindikasi,” katanya.
Ernes menegaskan, keterlibatan lintas sektor menjadi penting karena persoalan TBC tidak hanya berkaitan dengan pelayanan kesehatan. Edukasi masyarakat, kondisi lingkungan, pola hidup dan dukungan keluarga turut memengaruhi upaya pencegahan penularan.
Karena itu, Bappeda, Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD), camat, kepala desa hingga ketua RT didorong mengambil peran sesuai kewenangannya. Langkah tersebut juga sejalan dengan amanat Perpres Nomor 67 Tahun 2021 tentang Penanggulangan Tuberkulosis.
“Kenapa Bappeda, DPMD, camat dan kepala desa diminta hadir? Karena kita bertanggung jawab bersama terhadap penyakit ini,” ujarnya.
Selain memperkuat deteksi dini, Pemkab Malinau juga menaruh perhatian pada stigma terhadap penderita TBC. Ernes mengingatkan masyarakat bahwa TBC bukan penyakit kutukan, bukan penyakit keturunan dan bukan pula penyakit yang hanya dialami masyarakat miskin.
Menurutnya, pemahaman tersebut harus terus disampaikan agar masyarakat tidak takut maupun malu untuk memeriksakan diri.
“Kalau stigma ini sudah baik, saya yakin dan percaya dengan senang hati orang akan datang memeriksa,” katanya.
Peran pemerintah desa dan RT juga dinilai penting setelah proses skrining dilakukan. Mereka diharapkan dapat membantu mengedukasi warga, mendorong masyarakat dengan gejala yang mengarah pada TBC untuk memeriksakan diri serta mendukung pasien agar menjalani pengobatan hingga tuntas.
Ernes juga meminta masyarakat tidak mengucilkan penderita TBC. Dukungan keluarga dan lingkungan justru diperlukan agar pasien tetap memiliki semangat menjalani pengobatan.
“Yang sakit harus berjiwa besar, dan kita juga jangan mengucilkan. Dia tetap boleh makan bersama kita. Yang penting edukasinya bagaimana,” jelasnya.
Ke depan, strategi penanggulangan TBC juga diharapkan dapat dikembangkan hingga tingkat desa dengan menggandeng tokoh adat dan tokoh agama. Dengan pendekatan tersebut, edukasi mengenai TBC diharapkan lebih mudah diterima masyarakat.
Ernes berharap pilot project yang disiapkan di lima kecamatan tersebut dapat menghasilkan pola penanganan yang terukur dan nantinya diterapkan di wilayah lainnya.
Ia menegaskan, upaya penanggulangan TBC harus berlanjut dari tingkat kabupaten hingga lingkungan masyarakat, sehingga penemuan kasus dapat dilakukan lebih cepat dan risiko penularan dapat ditekan. (*ntl)






