TERASKALTARA.ID, MALINAU– Tradisi Berebu Pagun Safar kembali digelar masyarakat Kecamatan Malinau Kota, Rabu (12/8). Kegiatan yang dilaksanakan setiap Rabu terakhir bulan Safar ini menjadi salah satu tradisi masyarakat untuk memanjatkan doa keselamatan sekaligus mempererat silaturahmi dan kebersamaan.
Tradisi yang telah dilakukan secara turun-temurun tersebut kini juga mendapat tempat dalam agenda pariwisata daerah. Berebu Pagun Safar telah masuk dalam Kalender Event Dinas Pariwisata Kabupaten Malinau sebagai salah satu kegiatan budaya masyarakat.
Camat Malinau Kota Muhammad Yusuf mengatakan, pelaksanaan Berebu Pagun Safar merupakan kegiatan rutin yang digelar setiap tahun oleh Kecamatan Malinau Kota.
“Poin pertama, kegiatan Berebu Pagun Safar ini dilaksanakan secara rutin oleh Kecamatan Malinau Kota setiap tahun. Dan kegiatan ini juga telah masuk dalam Kalender Event Dinas Pariwisata Kabupaten Malinau,” ujarnya saat diwawancarai, Rabu (12/8).
Menurutnya, rangkaian kegiatan diawali dengan berkumpulnya masyarakat di tempat yang telah ditentukan. Tahun ini, kegiatan dipusatkan di Sentra UMKM Malinau Kota.
Masyarakat yang hadir juga membawa makanan atau kuliner dari rumah masing-masing untuk kemudian disantap dan dibagikan bersama.
Setelah seluruh warga berkumpul, kegiatan dilanjutkan dengan sambutan maupun arahan dari sesepuh dan tokoh masyarakat. Selanjutnya, para alim ulama memimpin pembacaan doa selamat dan doa tolak bala yang diikuti seluruh masyarakat.
Salah satu bagian yang menjadi ciri khas tradisi tersebut adalah makan bersama. Makanan yang disajikan tidak disiapkan khusus oleh panitia, melainkan dibawa secara sukarela oleh masing-masing warga.
“Karena makanan atau kuliner yang ada itu tidak disiapkan secara khusus oleh panitia, melainkan kuliner atau makanan yang dibawa oleh warga dari rumahnya masing-masing,” katanya.
Makanan yang dibawa kemudian dibagikan kepada warga lainnya. Tidak hanya berbagi, masyarakat juga melakukan tukar-menukar makanan yang dibawa dari rumah.
Menurut Yusuf, tradisi tersebut menciptakan suasana kebersamaan sekaligus keharmonisan di tengah masyarakat.
“Selain berbagi, juga dilakukan tukar-menukar makanan atau kuliner di antara sesama para warga masyarakat yang hadir dalam acara Berebu Pagun Sapar ini. Sehingga kemudian ini menimbulkan atau menghadirkan sebuah keharmonian bagi warga masyarakat yang hadir,” lanjutnya.
Usai makan bersama, rangkaian tradisi dilanjutkan dengan prosesi mandi Salamun. Prosesi tersebut dipimpin oleh para alim ulama dan disertai dengan pembacaan doa.
Yusuf menilai, Berebu Pagun Safar tidak hanya memiliki nilai keagamaan sebagai bentuk ikhtiar masyarakat memohon keselamatan dan terhindar dari mara bahaya. Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi ruang untuk mempertemukan masyarakat dari berbagai latar belakang dalam suasana kekeluargaan.
“Ini menjadi sebuah wadah silaturahmi yang sangat baik dalam rangka terus meningkatkan kebersamaan, rasa persaudaraan, rasa kekeluargaan dan tentu saja meningkatkan persatuan di kalangan masyarakat Kecamatan Malinau Kota,” tuturnya.
Ia berharap tradisi tersebut dapat terus dipertahankan dan diwariskan kepada generasi muda. Terlebih, masuknya Berebu Pagun Safar dalam Kalender Event Dinas Pariwisata Kabupaten Malinau diharapkan dapat semakin memperkenalkan tradisi masyarakat Malinau kepada masyarakat luas.
Bagi masyarakat Malinau Kota, khususnya Suku Tidung dan Bulungan, Berebu Pagun Safar bukan sekadar ritual doa bersama. Tradisi tersebut juga menjadi bagian dari warisan budaya leluhur yang mengajarkan nilai berbagi, gotong royong, silaturahmi, persaudaraan dan kebersamaan.
Dengan tetap dilaksanakannya tradisi tersebut setiap tahun, masyarakat tidak hanya menjaga nilai-nilai budaya yang diwariskan para leluhur, tetapi juga memastikan Berebu Pagun Safar tetap hidup di tengah perkembangan zaman. (*ntl)







