Kesehatan Mental Anak Dimulai Dari Perempuan Yang Berdaya

Kegiatan pemeriksaan kesehatan, pendampingan, dan pemberdayaan perempuan yang dilaksanakan di Bajawa, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur. ANTARA/HO-PNM

TERASKALTARA.ID, JAKARTA. 13/6 (ANTARA) – Tidak semua persoalan anak bermula di sekolah. Tidak semuanya pula lahir dari pergaulan atau pengaruh media sosial. Sebagian justru berawal dari sesuatu yang tampak sederhana dan sering luput dari perhatian, yaitu suasana di dalam rumah.

Seorang anak mungkin tidak memahami apa itu inflasi, biaya hidup, atau kesulitan ekonomi keluarga. Namun, mereka mampu merasakan perubahan nada suara orang tuanya.

Mereka menangkap kecemasan yang tersimpan di balik percakapan orang dewasa. Mereka melihat kelelahan yang tidak terucapkan.

Bahkan ketika tidak ada satu kata pun yang menjelaskan situasi yang sedang terjadi, anak-anak sering kali menjadi pihak pertama yang merasakan dampaknya.

Oleh sebab itu, ketika berbicara tentang kesehatan mental anak, pembahasannya tidak cukup berhenti pada persoalan psikologi semata. Ada dimensi lain yang sering berjalan diam-diam di belakangnya, yakni ketahanan ekonomi keluarga.

Hubungan keduanya memang tidak selalu terlihat secara langsung. Tidak setiap keluarga yang menghadapi kesulitan ekonomi akan memiliki anak dengan masalah kesehatan mental.

Sebaliknya, tidak semua keluarga yang berkecukupan terbebas dari persoalan psikologis. Namun berbagai pengalaman menunjukkan bahwa tekanan ekonomi yang berlangsung terus-menerus dapat memengaruhi kualitas hubungan dalam keluarga, cara orang tua mengasuh anak, hingga suasana emosional yang terbentuk di rumah.

Dalam kondisi ekonomi yang sulit, perhatian orang tua sering tersita untuk memastikan kebutuhan dasar keluarga tetap terpenuhi. Pikiran tentang biaya sekolah, cicilan, kebutuhan pangan, hingga pengeluaran sehari-hari dapat menjadi sumber tekanan yang tidak ringan.

Ketika tekanan tersebut menumpuk, ruang percakapan di rumah sering kali ikut menyempit. Orang tua menjadi lebih mudah lelah, lebih mudah cemas, atau tanpa sadar menjadi kurang hadir secara emosional bagi anak-anak mereka.

Padahal bagi seorang anak, kehadiran emosional orang tua sama pentingnya dengan pemenuhan kebutuhan fisik. Mereka membutuhkan tempat bercerita ketika mengalami masalah.

Mereka membutuhkan pendampingan ketika menghadapi kegagalan. Mereka membutuhkan keyakinan bahwa ada seseorang yang akan mendengarkan tanpa menghakimi.

Kebutuhan tersebut menjadi semakin penting ketika anak memasuki masa remaja. Masa peralihan dari sekolah dasar ke sekolah menengah pertama maupun dari sekolah menengah pertama ke sekolah menengah atas, merupakan fase yang penuh perubahan.

Pada periode ini anak mulai berhadapan dengan lingkungan baru, tuntutan akademik yang meningkat, perubahan fisik, hingga pencarian identitas diri.

Di tengah proses tersebut, mereka membutuhkan rumah yang mampu menjadi tempat paling aman untuk kembali.
Sayangnya, realitas menunjukkan bahwa tidak semua anak memiliki ruang seperti itu.

Kualitas Relasi

Data Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mencatat terdapat 116 kasus pengakhiran hidup pada anak usia 10 hingga 18 tahun sepanjang 2023 hingga 2025. Kasus terbanyak terjadi pada kelompok usia 13 hingga 17 tahun.

Angka tersebut seharusnya menjadi alarm bagi semua pihak. Sebab di balik setiap kasus terdapat anak yang mungkin merasa sendirian menghadapi persoalannya.

Ada anak yang mungkin tidak menemukan ruang untuk berbicara. Ada pula yang mungkin kehilangan harapan karena merasa tidak dipahami oleh lingkungan terdekatnya.

Kondisi ini menunjukkan bahwa kesehatan mental anak bukan hanya urusan individu, tapi merupakan cerminan dari kualitas relasi yang terbangun di dalam keluarga dan masyarakat.

Karena itulah berbagai upaya penguatan keluarga menjadi semakin relevan. Salah satu pendekatan yang menarik adalah melihat kesehatan mental anak tidak sebagai isu yang berdiri sendiri, melainkan sebagai bagian dari ketahanan keluarga secara menyeluruh.

Salah satu contoh langkah pendekatan yang baik untuk direplikasi berbagai pihak di antaranya kegiatan pemberdayaan yang dilaksanakan di Bajawa, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur.

Alih-alih hanya berbicara tentang kesehatan mental secara teoritis, kegiatan tersebut menghubungkannya dengan kehidupan sehari-hari keluarga.

Para ibu diajak memahami pentingnya pola asuh yang penuh perhatian sekaligus memperoleh dukungan untuk meningkatkan kapasitas ekonomi mereka.

Kegiatan tersebut menjadi ruang bagi keluarga, khususnya para ibu, untuk memahami pentingnya kesehatan mental anak dan peran orang tua dalam mendampingi tumbuh kembang mereka.

Program itu juga menghadirkan pemeriksaan kesehatan serta aktivitas belajar informal bagi anak-anak sehingga manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.

Yang tidak kalah penting, kegiatan tersebut juga diarahkan untuk memperkuat kemandirian ekonomi perempuan prasejahtera. Di Bajawa, pengembangan klaster usaha buah pala didorong sebagai salah satu potensi lokal yang dapat menjadi sumber pendapatan masyarakat.

Melalui pendampingan, pembiayaan, dan pelatihan usaha, perempuan diberi kesempatan untuk mengembangkan keterampilan dan memperkuat usaha ultra mikro yang mereka jalankan.

Ketahanan Keluarga

Di sini terlihat hubungan yang sering kali tidak banyak dibicarakan. Ketika perempuan memiliki akses terhadap pengetahuan, dukungan, dan peluang ekonomi, manfaatnya tidak berhenti pada peningkatan pendapatan.

Dampaknya juga hadir dalam bentuk yang lebih halus namun sangat penting, yakni terciptanya rasa percaya diri, meningkatnya kapasitas pengambilan keputusan dalam keluarga, serta kemampuan yang lebih baik untuk mendampingi anak-anak mereka.

Bacaan Lainnya

Seorang ibu yang memiliki kesempatan berkembang cenderung memiliki ruang yang lebih luas untuk membangun masa depan keluarganya. Ia tidak hanya menjadi pengelola kebutuhan rumah tangga, tetapi juga menjadi sumber ketahanan keluarga ketika menghadapi berbagai tantangan kehidupan.

Pemberdayaan perempuan tidak hanya berdampak pada ekonomi keluarga, tetapi juga memengaruhi cara anak-anak tumbuh dan didampingi.

Ketika seorang ibu memiliki akses terhadap pengetahuan, dukungan, dan peluang usaha, ia dapat menjadi fondasi yang lebih kuat bagi keluarganya.

Sesungguhnya, ketahanan keluarga tidak hanya dibangun melalui besarnya pendapatan. Ketahanan keluarga lahir ketika kebutuhan ekonomi yang lebih baik berjalan beriringan dengan hubungan yang sehat antaranggota keluarga.

Ketika orang tua memiliki waktu untuk mendengar cerita anak-anaknya. Ketika anak merasa dihargai meski sedang gagal. Ketika rumah menjadi tempat yang menghadirkan rasa aman, bukan tekanan.

Kesehatan mental anak dan pemberdayaan ekonomi keluarga bukanlah dua isu yang terpisah. Keduanya saling terhubung dalam satu lingkaran yang sama.

Anak yang tumbuh dalam keluarga yang lebih tangguh secara ekonomi memiliki peluang lebih besar untuk mendapatkan dukungan yang mereka butuhkan. Sebab, keluarga yang memiliki hubungan emosional yang sehat akan lebih mampu menghadapi tekanan hidup, termasuk tantangan ekonomi.

Oleh karena itulah, ketahanan keluarga sudah saatnya diperkuat dan setiap ibu perlu didorong agar semakin berdaya. Selama ini banyak orang mengira masa depan anak ditentukan oleh sekolah yang baik atau nilai rapor yang tinggi. Keduanya memang penting. Namun sebelum itu, anak membutuhkan rumah yang membuat mereka merasa aman.

Rumah yang masih menyediakan waktu untuk berbincang setelah hari yang panjang. Rumah yang tidak hanya memikirkan bagaimana memenuhi kebutuhan esok hari, tetapi juga memastikan setiap anak tahu bahwa mereka tidak sedang menghadapi hidup sendirian. Dan perempuan yang berdaya menjadi salah satu kunci utamanya.

(T.H016//H-DDN/H-DDN) 13-06-2026 06:17:28 – Kesra – Jakarta

Oleh Hanni Sofia
Editor : Dadan Ramdani

Pos terkait