Ratusan Sapi Masuk Tarakan, BKHIT Kaltara Lakukan Screening Ketat Cegah Penyakit Menular

TERASKALTARA.ID, TARAKAN – Ratusan sapi yang telah tiba di Tarakan menjalani pemeriksaan kesehatan ketat oleh Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan (BKHIT) Kalimantan Utara. Langkah ini dilakukan untuk memastikan seluruh ternak dalam kondisi sehat sebelum didistribusikan ke masyarakat.

Sebanyak 420 ekor sapi diperiksa di tiga lokasi berbeda, yakni dua kandang di wilayah Pasir Putih, Jalan Bhayangkara, serta satu lokasi di belakang area pembuangan sampah di Jalan Hake Babu, Sabtu (18/4/2026).

Paramedik BKHIT Kaltara, Bambang Suryono Nadi, menjelaskan pemeriksaan dilakukan melalui pengambilan sampel darah yang kemudian diuji di laboratorium.

“Ini kemarin sudah datang sekitar 420 ekor sapi. Kita lakukan pengambilan sampel untuk memastikan sebelum ke masyarakat, kita ambil sampelnya dulu. Hasilnya kemungkinan keluar hari Senin,” ujarnya.

Menurutnya, pengujian difokuskan pada sejumlah penyakit strategis yang berpotensi menular dan merugikan peternak, seperti Penyakit Mulut dan Kuku (PMK), brucellosis, serta parasit darah.

“Pengujiannya yang tentu-tentu PMK, brucellosis sama parasit darah. Itu yang jadi perhatian utama,” katanya.

Bambang menegaskan, pemeriksaan ulang tetap diperlukan meskipun sapi telah melalui proses pengecekan di daerah asal. Hal ini untuk mengantisipasi kemungkinan penularan selama perjalanan.

“Penyakit ini kan tidak harus pada sapinya saja, media pembawa juga bisa. Dari kapal atau alat angkut. Makanya dilakukan pengujian ulang di sini,” jelasnya.

Ia menambahkan, proses pengujian dilakukan dengan mengambil serum darah yang selanjutnya dianalisis di laboratorium, dengan estimasi hasil keluar dalam waktu tiga hari.

Sejauh ini, BKHIT memastikan belum ditemukan kasus penyakit berbahaya pada sapi yang masuk ke Tarakan sepanjang tahun 2026.

“Tahun ini belum ditemukan lagi kasus PMK. Kalau sebelumnya memang pernah ada, tapi setelah karantina dan pengujian ulang, hasilnya aman,” ungkapnya.

Sebagai bagian dari sistem pengawasan, setiap sapi juga dilengkapi tanda khusus berupa ear tag dengan barcode. Teknologi ini memungkinkan petugas melacak asal-usul dan riwayat kesehatan ternak secara cepat jika sewaktu-waktu ditemukan indikasi penyakit.

Langkah ini menjadi bagian dari upaya BKHIT Kaltara menjaga keamanan pangan serta melindungi peternak dan masyarakat dari ancaman penyakit hewan menular.(*)

Pos terkait