TERASKALTARA.ID, MALINAU – Pelatihan membatik yang digelar Tim Penggerak PKK bersama Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kabupaten Malinau tidak berhenti setelah kegiatan resmi ditutup. Peserta akan diberikan ruang untuk terus mengembangkan keterampilan melalui kelas mandiri yang disiapkan di tempat produksi batik milik Dekranasda dan PKK Malinau.
Ketua TP PKK sekaligus Dekranasda Kabupaten Malinau, Ny. Maylenty Wempi, mengatakan program lanjutan tersebut menjadi bagian dari upaya memberdayakan masyarakat sekaligus menggali potensi lokal melalui kerajinan batik.
Ia menjelaskan, pelatihan yang berlangsung selama satu pekan tersebut merupakan bagian dari rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Republik Indonesia. Namun, konsep yang diusung TP PKK dan Dekranasda tidak hanya berupa kegiatan seremonial, melainkan diarahkan pada peningkatan keterampilan dan pemberdayaan ekonomi masyarakat.
“Pelatihan yang kita laksanakan pada hari ini adalah dalam rangka Hari Ulang Tahun Republik Indonesia ke-81. Biasanya pelatihan hari kemerdekaan dilaksanakan dengan acara keramaian rakyat dan yang lain-lain, tapi khusus untuk PKK dan Dekranasda pada tahun ini kita ambil tema bagaimana memberdayakan dan menggali potensi yang ada di Kabupaten Malinau, khususnya dalam membatik,” ujarnya saat diwawancarai usai kegiatan.
Menurutnya, setelah pelatihan selesai, para peserta diharapkan tidak berhenti berlatih. Dekranasda dan TP PKK telah menyiapkan tempat agar peserta dapat melanjutkan proses belajar secara mandiri.
“Kita menyiapkan tempat untuk berlatih, menyiapkan tempat untuk bagaimana mereka melanjutkan pelatihan secara mandiri,” katanya.
Maylenty menyebut, kelas mandiri tersebut nantinya dapat diikuti masyarakat yang ingin memperdalam teknik membatik dengan biaya sendiri. Berbeda dengan pelatihan yang baru saja dilaksanakan, seluruh pembiayaan kegiatan tersebut ditanggung pemerintah daerah.
“Kita akan buka kelas yang mana mereka berdasarkan kemauan sendiri, mereka siap untuk mengeluarkan mungkin anggarannya sedikit untuk melanjutkan pelatihan secara mandiri. Kalau yang saat ini kita laksanakan secara penuh dibiayai oleh pemerintah daerah,” jelasnya.
Tak hanya menjadi tempat belajar, lokasi tersebut juga akan dibuka sebagai ruang produksi bagi masyarakat yang ingin terlibat dalam proses pembuatan batik. Peserta dapat memperoleh upah berdasarkan pekerjaan yang dilakukan dalam tahapan produksi.
“Kalau dibilang bergaji, karena setiap lembaran ngecap itu sudah ada harganya. Mewarnai sudah ada harganya, mengunci batik sudah ada harganya. Upahnya berapa kita sudah ada susun,” ungkapnya.
Skema upah tersebut, lanjutnya, disusun berdasarkan pengalaman pelatih, termasuk praktik yang telah berjalan di Desa Wisata Pulau Sapi. Dengan demikian, masyarakat tidak hanya mendapatkan keterampilan, tetapi juga memiliki kesempatan memperoleh penghasilan dari keterampilan yang dimiliki.
Maylenty menilai potensi ekonomi dari usaha batik cukup besar apabila ditekuni secara serius. Karena itu, ia berharap pelatihan tersebut dapat menjadi pintu masuk bagi peserta untuk mengembangkan usaha sekaligus membantu meningkatkan pendapatan keluarga.
“Kalau diseriusin besar sekali pemasukan dan hasil dari membatik. Dan tentunya dengan harapan kita dari pelatihan, dari hasil dan menjual ada peningkatan ekonomi dalam keluarga si pembatik jika diseriusin,” tuturnya.
Program ini juga diarahkan untuk memperluas keterlibatan masyarakat dari berbagai kelompok etnis di Kabupaten Malinau. Maylenty menyebut, sebelumnya sudah ada sekitar empat etnis yang menjalankan kegiatan membatik. Melalui pelatihan kali ini, Dekranasda membuka kesempatan kepada perwakilan dari 11 etnis yang ada di Malinau.
Pelatihan tersebut diikuti 22 peserta dari 11 etnis, dengan masing-masing etnis mengirimkan dua orang peserta. Selain itu, terdapat 10 peserta dari kalangan milenial yang mengikuti pelatihan.
“Untuk peserta dari 11 etnis, dari satu etnis dua, jadi untuk 11 etnis jadi kali dua jadi 22. Kemudian yang milenial 10 orang,” jelasnya.
Menurut Maylenty, antusiasme masyarakat sebenarnya jauh lebih besar dari kuota yang tersedia. Bahkan, peserta dari kalangan milenial yang mendaftar melalui media sosial TP PKK dan Dekranasda tidak hanya berasal dari mereka yang ditunjuk sebagai perwakilan.
“Dalam peserta ini bukan hanya 11 etnis, tapi ada milenial yang mendaftarkan diri secara langsung ke media PKK dan Dekranasda. Berarti mereka ini memang mau sendiri, bukan karena dipilih dari perwakilan,” katanya.
Melihat tingginya minat tersebut, Dekranasda Malinau berencana membuka kelas mandiri sehingga masyarakat yang belum mendapat kesempatan mengikuti pelatihan tetap dapat belajar dan mengembangkan keterampilan membatik.
Maylenty berharap, pengembangan batik tidak hanya menjadi upaya pelestarian budaya, tetapi juga mampu membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat Malinau, khususnya keluarga para pembatik. (*ntl)






