TERASKALTARA.ID, TARAKAN — Kabut asap masih menyelimuti Kota Tarakan hingga saat ini. Kondisi tersebut diduga merupakan kiriman dari wilayah lain di Kalimantan Utara, menyusul terdeteksinya puluhan titik panas dan arah angin dominan dari selatan.
Berdasarkan pantauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Tarakan, terdapat 70 titik panas (hotspot) yang terdeteksi di wilayah Kalimantan Utara. Sebagian besar berada di Kabupaten Bulungan dengan 68 titik, sementara masing-masing satu titik terpantau di Kabupaten Malinau dan Kabupaten Nunukan.
Forecaster On Duty BMKG Tarakan M. Hatta Rachim mengatakan, hingga pukul 15.00 Wita belum terpantau adanya titik panas di wilayah Kota Tarakan. Karena itu, kondisi kabut asap yang menyelimuti Tarakan diduga berasal dari wilayah luar kota.
“Jumlah sebaran titik panas atau hotspot terpantau sejumlah 70 titik, yang sebagian besar berada di wilayah Kabupaten Bulungan sebanyak 68 titik, satu titik di wilayah Kabupaten Malinau dan satu titik di Kabupaten Nunukan,” kata Hatta.
Indikasi tersebut semakin diperkuat dengan arah angin dominan yang bergerak dari selatan menuju wilayah Tarakan. Kecepatan angin rata-rata berada pada kisaran 5–10 knot.
“Dapat diindikasikan pekatnya kabut asap yang terjadi di Kota Tarakan siang ini adalah kiriman dari wilayah luar Kota Tarakan,” ujarnya.
Hatta menjelaskan, deteksi hotspot dilakukan menggunakan sensor VIIRS dan MODIS yang terdapat pada satelit polar NOAA20, S-NPP, TERRA dan AQUA. Sistem tersebut mendeteksi anomali suhu panas dibandingkan kondisi di sekitarnya untuk memberikan gambaran mengenai lokasi yang berpotensi mengalami kebakaran hutan dan lahan.
Pemantauan dilakukan pada siang dan malam hari melalui masing-masing satelit. Namun, hasil deteksi tidak selalu dapat menggambarkan seluruh kondisi di lapangan karena dipengaruhi tutupan awan maupun area yang tidak dapat diamati satelit.
“Pada daerah yang tertutup awan atau blank zone, hotspot di wilayah tersebut tidak dapat terdeteksi,” jelasnya.
Kabut asap yang masih menyelimuti Tarakan turut berdampak terhadap jarak pandang. Hasil pemantauan BMKG menunjukkan visibility berada pada kisaran 1.000 hingga 3.000 meter.
Kondisi tersebut juga menjadi perhatian terhadap aktivitas penerbangan di Bandara Juwata Tarakan. Menurut Hatta, pada kondisi jarak pandang sekitar 3.000 meter, aktivitas penerbangan khususnya proses lepas landas masih memungkinkan dilakukan.
“Hingga saat ini terpantau jarak pandang hanya berkisar 1.000-3.000 meter. Pada saat jarak pandang terpantau 3.000 meter, operasional penerbangan, proses takeoff, masih dapat dilakukan,” kata Hatta.
Di tengah kondisi tersebut, BMKG juga memantau potensi cuaca di wilayah Kalimantan Utara. Secara umum, kondisi cuaca dalam tiga hari ke depan diprakirakan cerah hingga cerah berawan pada pagi sampai sore hari.
Hujan ringan hingga sedang masih berpeluang terjadi di Kabupaten Bulungan, Malinau dan Nunukan, terutama pada malam hari dengan sebaran yang tidak merata.
Sementara di Tarakan, kondisi cuaca secara umum diprakirakan cerah hingga cerah berawan dari pagi sampai malam. Hujan ringan berpeluang terjadi pada dini hari dengan durasi singkat dan sebaran yang tidak merata.
“Sedangkan wilayah Kota Tarakan secara umum keadaan cuaca pada pagi sampai malam hari cerah-cerah berawan, berpeluang terjadi hujan dengan intensitas ringan pada dini hari dengan durasi singkat dengan sebaran wilayah yang tidak merata,” jelas Hatta.
Persoalan kabut asap juga menjadi perhatian karena kondisi bahan bakar alami di sebagian besar wilayah Kaltara masih sangat mudah terbakar.
BMKG mencatat hasil analisis indeks Fine Fuel Moisture Code (FFMC) menunjukkan sebagian besar wilayah Kalimantan Utara berada pada kategori merah atau very high.
Indeks tersebut menggambarkan tingkat kemudahan bahan-bahan ringan seperti alang-alang dan dedaunan kering untuk terbakar berdasarkan kondisi cuaca.
“Indeks warna merah (very high) berarti tingkat mudahnya terbakar alang-alang dan dedaunan yang biasanya menutupi lantai hutan sangat tinggi,” ungkapnya.
Dengan kondisi tersebut, BMKG meminta masyarakat dan pemerintah daerah meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi munculnya titik panas dan kebakaran hutan dan lahan.
Masyarakat juga diminta tidak melakukan aktivitas pembakaran secara sembarangan, termasuk ketika membuka atau membersihkan lahan maupun membakar sampah.
“Kami mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan pembakaran secara sembarangan, baik untuk membuka atau membersihkan lahan maupun membakar sampah, terutama di kawasan yang mudah terbakar seperti lahan gambut, semak belukar, hutan, dan lahan kering,” tegas Hatta.
Selain kewaspadaan terhadap karhutla, masyarakat yang beraktivitas di luar ruangan juga diimbau memperhatikan kondisi tubuh. Penggunaan pelindung atau tabir surya serta menjaga kecukupan cairan diperlukan untuk mencegah dehidrasi dan kelelahan.
BMKG juga meminta masyarakat terus memantau perkembangan kondisi cuaca dan peringatan dini melalui kanal informasi resmi.
“Masyarakat diharapkan terus memantau informasi prakiraan cuaca dan peringatan dini resmi melalui laman BMKG, aplikasi InfoBMKG, dan media sosial @infobmkg, serta melakukan langkah antisipatif untuk mengurangi risiko cuaca ekstrem, kekeringan, dan kebakaran hutan dan lahan,” pungkas Hatta.






